Hujan dan rindu adalah teman yang baik, bagiku, bagi yang rindu, bagi yang dihidangkan kenangan-kenangan yang tidak ada habisnya…

Kala hujan kau kurindu, masih selalu ada alasan untuk rindu walaupun semuanya sudah berubah. Aku masih ingat ketika kau bilang betapa bodohnya aku yang suka menerjang hujan, tanpa jas hujan yang ku kenakan. Aku sering kuyup, betapa gilanya aku dengan gerimis yang datang di tengah perjalanan. Aku tetap melanjutkan perjalanan tanpa berhenti di pinggir jalan hanya untuk sekedar berteduh, dan kau bilang aku bodoh, waktu itu.

Advertisement

Namun lucunya kau jadi sering kehujanan denganku, lucunya lagi kau bilang berarti besok kita tidak perlu mobil ya. Kamu kan suka hujan-hujanan di jalan. Semenjak itu aku beli jas hujan, demi meredam amarahmu yang sering melihatku selalu kuyup. Besar rasa khawatirmu, sampai suatu hari kau melepaskanku karena rasa khawatir tidak bisa membahagiakanku. Setahuku itu alasanmu berhenti menghubungiku dulu.

Hujan tetaplah hujan, basahnya adalah rindu, rintiknya yang selalu ikhlas dijatuhkan, membuatku belajar untuk rela, merelakan segala rindu dan cinta yang kemudian tak bertuan…

Semenjak kepergianmu, semenjak kata pamitmu, pulang ke kotamu. Semenjak kita dihidangkan jarak, kamu tahu Tuan? Aku jadi tidak begitu suka hujan di jalan, aku selalu berhenti untuk memakai jas hujan, aku tidak suka kuyup, aku sering mengeluh jika kehujanan, semenjak itu, semenjak pamitmu.

Advertisement

Kepergianmu adalah luka buatku, sedang hatiku kau bawa bersamamu, saat itu juga…

Tuan, kau sudah candu bagiku, seperti kopi yang selalu kupesan dan coklat milk shake yang selalu kau minum, sampai sampai pelayan seringkali salah menaruhnya, tidakkah aku candu buatmu? Berjarak seperti membunuh cintamu perlahan, kabarmu yang sering kau kirim tak lagi kudapati. Kau melepasku Tuan.

Perihal merelakan, mungkin akulah ahlinya, aku tau ikhlas itu tidak bisa di ucapkan, namun aku lebih tau bagaimana mengusahakan

Tuan, apa kabar hujan di sana? Kota yang ingin sekali kukunjungi, kota yang begitu banyak pantai yang indah yang sering kau ceritakan dulu, kota yang pernah kau janjikan. Namun kemudian kau tidak yakin denganku, apa bisa aku hidup di sana, kau tidak yakin dengan janjimu sendiri.

Apa kabar hujan di sana? Apa setiap hujan yang berjatuhan di sana kau ingat aku? Wanita penerjang hujan, wanita yang tergila-gila padamu, aku rasa tidak.

Aku menata hariku kembali, hari-hari tanpamu.Tuan kau tahu? Semenjak kepergianmu, langit Jogja seperti abu-abu, kutinggalkan harapan, tepat kepergianmu, apa kamu membaca pesan yang kutulis di kotak kue yang kuberikan? Apa kau masih menyimpan surat-surat yang sengaja kuberikan sebelum kau pergi untuk yang kedua kalinya? Kau tahu Tuan, aku memang pandai menulis. Tapi aku tidak pandai menahanmu, merayumu untuk tetap di sini.

Seperti hujan yang sering datang di musimnya, rindu pun sama, dan cinta ternyata punya masa kadaluarsa, benar….

Hari ini Tuan, aku pun kembali kecewa, seperti kekecewaanku padamu, bedanya aku tidak begitu lumpuh, tepat setelah aku di wisuda, beberapa hari setelahnya, kau menghilang. Malang sekali bukan? Tetapi aku tidak pernah sedikitpun menyebutmu tega. seperti tuduhanmu, sebelum menyampaikan kata perpisahan itu, waktu itu kau bilang, terserah mau menyebutmu tega, jahat, brengsek atau apapun kau terima. Ya kau menerimanya, tapi bagaimana denganku Tuan, aku mencoba menerima ribuan kali, meyakinkan hatiku sendiri jutaan kali, menyadarkan diriku sendiri, semenjak itu kau bukan lagi milik ku, miliku hanya rasa sepi, rasa rindu yang tak banyak orang tau, rasa sakit yang semua orang tertawakan. Aku mencoba menerimanya tanpa menyebutmu TEGA.

Katanya seorang pria mudah meninggalkan karena tidak dihargai perasaaanya, apa aku tidak menghargaimu Tuan???

Tuan, bolehkah aku bertanya? Mengapa pria selalu punya alasan meninggalkan? Mengapa tuan? Bisakah kau jawab?Mampukah kau menjawab pertanyaan sederhanaku? Apa aku juga tidak menghargaimu sebagai lelakiku? Sedang setahuku aku tidak pernah meminta hal lebih darimu, aku tidak pernah merengek memaksa mu, aku tidak pernah sekalipun mencoba menghakimimu, kamu pun tau aku bukan wanita seperti itu.

Mataku memang tidak menangis, air matanya malu kepada hujan yang jatuh berulang-ulang, tapi hatiku, hanya Tuhan dan aku yang tau bagaimana pecahanya, bagaimana setiap sudutnya robek, bagaimana dia meronta minta keadilan, bagaimana dia terluka.

Tapi tenang Tuan, aku merelakanmu, seperti hujan yang selalu mengguyurku tempo hari. Aku tidak keberatan luka ini ada, aku tidak keberatan luka ini menjadi bagian dalam hidupku, menjadi bagian yang tidak pernah kulupa, entah manis atau pahitnya, Tuan yang masih ingin ku tulis di setiap halamanku, Tuan yang masih ingin kueja namanya, Tuan yang masih kuucap namanya di sela rasa gaduh hatiku, walaupun bukan karena mu, maafkan aku, masih selalu menulis, maafkan aku

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya