Setiap manusia pasti berbeda-beda. Ras, suku, agama, sifat dan kepribadiannya. Termasuk juga hobi dan kesukaannya. Ada pecinta bola, reality show, kuliner, musik dangdut dan lain-lainnya. Dan juga saat ini yang tengah booming adalah dunia K-pop. Kaum muda, khususnya para wanita, sangat terkagum dan tergila-gila pada para idola K-pop yang kerap mereka panggil dengan sebutan oppa (yang dalam bahasa Indonesia berarti kakak laki-laki).

Namun seiring dengan menjamurnya trend K-pop di Indonesia, makin bertambah pula jumlah fans-fans yang  tidak hanya normal, tetapi bisa dibilang terlalu fanatik dan cenderung alay. Mereka terlalu terobsesi dengan idola mereka dan akan melakukan apa saja demi sang idola, walaupun jatuhnya norak dan mengganggu. Bisa dilihat di jejaring social media betapa merusaknya kata-kata yang mereka ucapkan hanya untuk menjatuhkan pihak yang dianggap berlawanan dengan mereka. Mereka juga cenderung membenci orang-orang yang tidak memuja idola yang sama dengan mereka atau orang-orang yang bukan penggemar k-pop seperti saya.

Advertisement

Jujur, sejak awal kemunculan trend k-pop, saya tidak pernah sekalipun tertarik dan menggemari para idola k-pop ini. Saya pernah beberapa kali mendengarkan musik mereka dan menonton drakor (singkatan dari drama korea) namun itu tidak membuat saya jatuh hati dan beralih menjadi K-pop-ers.  Banyak yang bilang, cowok-cowok boyband K-pop itu ganteng, manis, imut dan pacarable banget (pacarable maksudnya bisa dipacarin), tapi tidak bagi saya. Yah mungkin karena tipe cowok saya bukanlah cowok-cowok manis dan imut layaknya idola K-pop tersebut.

Bagi saya, K-pop bukanlah genre musik yang saya minati. Dan juga para oppa berwajah cantik, tidak menarik minat saya. Entahlah, mungkin saya orang yang sedikit anti mainstream. Saya menyukai hal-hal yang tidak banyak disukai oleh masyarakat. Namun, saya bukanlah anti k-pop. Saya memiliki banyak teman yang merupakan k-pop-ers sejati dan saya tidak pernah punya masalah dengan mereka. Kecuali pada saat mereka mulai memaksakan kehendak pada saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi ada kebiasaan buruk dari sebagian masyarakat +62 ini, yaitu mereka suka sekali memaksakan kesukaan mereka pada orang lain yang berbeda kesukaan. Termasuk saya.

Beberapa dari teman-teman saya yang penggemar k-pop ini kerap kali berusaha menjadikan saya seorang K-pop-ers hanya karena geng pertemanan mereka semuanya menyukai k-pop. Mungkin juga karena jiwa kekompakkan yang tinggi atau hal yang lainnya. Mereka juga selalu menanyakan apakah saya menyukai K-pop atau drakor berulang kali walaupun saya telah mengatakan tidak. Berulang kali sampai hati ini kesal rasanya. Mereka juga kerap melontarkan candaan jika saya akan terlihat lebih manis bila berambut panjang dan memakai baju warna cerah bermotif seperi gadis-gadis girlband korea. Mereka merasa apa yang saya minati sangatlah membosankan dan saya harus mencoba hal baru.

Advertisement

Bukan masalah mau mencoba hal baru atau tidak sih, masalahnya masing-masing orang memiliki minat tersendiri termasuk saya. Prinsip saya cukup simple, saya tidak mau memaksakan kesukaan saya pada orang lain, dan orang lain juga jangan memaksakan kesukaan mereka pada saya. Tidak pantas rasanya jika saling memaksakan. Saya menyukai hal-hal berbau luar angkasa, misteri, seni, travelling, psikologi, mental illness. Saya juga menyukai hal-hal aneh, unik dan absurd. Apakah semua itu membosankan? Mungkin ya bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya.

Orang pikir saya membosankan hanya karena saya tidak menyukai apa yang orang-orang sukai pada umumnya. Mainstream.  Padahal kesukaan dan minat adalah hak dari masing-masing individu di muka bumi ini. Definisi membosankan yang sesungguhnya bagi saya adalah mereka-mereka yang tidak memiliki minat pada bidang apapun, bukan mereka yang memiliki minat berbeda dari yang lainnya. Memaksa seseorang untuk menyukai hal yang kamu suka berarti kamu tidak menghargai orang tersebut. Kamu juga tidak menghargai pilihan dia. Kamu egois. Dan kamu akan dipandang sebagai pribadi yang penuh tuntutan, tidak memberi kebebasan dan berpikiran sempit.

Masih banyak orang-orang seperti ini, yang tidak menghargai perbedaan, egois, penuh keinginan untuk mengatur hidup orang lain di negara +62 ini.  Semua harus sama. Kesukaan harus sama. Pilihan politik harus sama. Opini pun harus sama. Jika tidak, maka akan dianggap aneh, dihujat bahkan dimusuhi. Banyak yang masih tidak  dewasa dan matang secara emosi, apalagi jika kita lihat di social media. Inilah alasan saya kuliah diluar negeri dan tidak menggunakan social media secara berlebihan. Banyaknya masyarakat seperti ini kerap membuat saya merasa tidak nyaman.

Untuk menyikapi sikap seperti ini, tidak perlu marah/merasa tersinggung ataupun baper. Justru itu akan menunjukkan bahwa kalian masih tidak dewasa dan tidak matang secara emosi. Berikanlah respon yang baik, jangan mau menjadi sama seperti mereka. Sebaiknya, anggap mereka hanya angin lalu. Tidak usah pedulikan apa yang mereka katakan. Jika sudah merasa terlalu tidak nyaman berada didekat mereka, menjauhlah dan carilah teman yang lebih baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya