Sebagian besar orang mengetahui dia sebagai murid yang lalai dan tidak patuh pada peraturan yang telah ditetapkan. Orang-orang tersebut memandang sebelah mata, karena mereka tidak mengetahui dia sama sekali. Hal ini terjadi karena pada suatu minggu ia tiba-tiba menghilang, tidak ada yang tahu kabar dia. Pada pekan pertama ia sama sekali tidak masuk, pekan selanjutnya ia tetap tidak masuk.

Hari senin pada pekan ketiga jam pelajaran ketiga, dengan seragam biru ditutup jaket dan rok selutut ia masuk dengan muka polos. Orang-orang di dalam ruangan itu mulai berbisik ke orang sebelahnya dan mengatakan “Tumben dia masuk.” Beberapa orang heran atas perilaku dia yang baru. Mungkin teman-teman dekatnya tahu mengapa dia berubah, tetapi orang-orang yang hanya tahu dia sebatas nama dalam satu titik, mengangkat alis mereka. Rasa ingin tahu pasti timbul dari mereka, dan cerita mulut ke mulut terjadi. Banyak yang bercerita mengenai keburukan dia, tetapi di balik ‘keburukan’ dia ada harapan yang mulia.

Advertisement


Di kelas 11 murid yang sering disapa Audrey memiliki ambisi yang tinggi. Sering masuk sekolah dengan semangat yang tinggi.


Sebagian besar waktu ia mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Tapi suatu hal terjadi yang mempengaruhi kebiasaan dan tingkah laku dia, alhasi berdampak ke nilai dan kehadirannya. Ia mengakui bahwa 'ada masalah yang menyebabkan kesalahpahaman besar saat kelas 11 akhir'. Masalah itu telah 'merubah dia dan merubah hidupnya' katanya.

Masalah itu menyebabkan tidak nyaman masuk sekolah karena ia merasa sekolah merupakan tempat yang memuramkan. Walau muka Audrey tidak sering kelihatan di kurun waktu sekolah, tapi pekerjaan sekolah dan rumah tetap diselesaikan. Kehadiran bagi Audrey mungkin sebuah kesulitan baginya, tapi dia masih memiliki rasa kewajiban untuk menyelesaikan tugas wajib baginya.

Advertisement

Dia sendiri mengakui bahwa ketidakhadiran merupakan tindakan yang tidak baik, tapi tergantung pada orangnya juga, apakah dia bertanggungjawab terhadap actions-nya atau tidak dan apakah dia bisa mengejar semua pelajaran yang tertinggal atau tidak.

Dia mulai berubah di semester 5 ini dan mulai aktif ke sekolah. Di beberapa minggu pertama semester lima, Audrey sering masuk sekolah, walau terkadang ia sering telat. Setelah minggu itu dia sering tidak masuk. Banyak yang mengira bahwa kebiasaan buruknya telah kembali, tapi dia memiliki kebiasaan baru.


Kebiasaan ini menjadi impian. Impian untuk menjaga NKRI.


Ia ingin menjadi anggota TNI Angkatan Laut. Banyak yang tidak mengetahui impian dia, hanya orang-orang yang ingin bertanya saja yang tahu. Sisanya hanya berasumsi dan membuat rumor yang tidak benar. Sejak minggu itu orang-orang sekitar dia memiliki pandangan buruk mengenai Audrey. Keseringan Audrey tidak masuk dapat dihitung dalam dua minggu bisa 2-3 kali tidak masuk.

Alasan dia tidak masuk karena ia ingin meningkatkan kemampuan untuk melawan calon taruni lainnya. Latihan fisik maupun menembak ia lalui untuk menggapai cita-citanya. Ia sadar bahwa TNI Angkatan Laut hanya menerima sejumlah kecil calon taruni dari total pendaftar di seluruh Indonesia. Walau begini ia tidak menerima dukungan moral dari kebanyakan orang di sekolahnya. Beberapa orang mengira bahwa “… sudah pindah sekolah dari (nama sekolah), namun, ya sudahlah biarkan saja kan saya yang melaksanakannya bukan mereka.”

Selain di hari latihannya Audrey masuk sekolah, "Kalau saya, tetap tidak ada pelajaran yang tertinggal karena selalu mengejar pelajaran disaat waktu kosong, terutama di saat free period. Walaupun tidak masuk, saya tetap turn in tugas-tugas di hari itu pada waktu itu juga sebelum deadline.” Mungkin beberapa orang di sekitarnya tidak sadar bahwa semakin hari dia semakin dekat dengan impiannya.

Dia merasa bahwa masih perlu berjuang dan masih berusaha sekeras mungkin setiap harinya demi masa depan dan demi menggapai cita-cita. Ketika pertanyaan tentang cita-cita muncul, dia menjawab, “Saya akan menjawab “iya” bila sudah layak dan memenuhi semua persyaratannya.” Ia juga melatih kemampuan-kemampuan lainnya seperti mengatur waktu dengan baik, ia mengatakan bahwa “… semua tugas tetap dikerjakan dengan baik dan maksimal dalam waktu yang sudah ditentukan, sehingga tidak ada nilai yang kurang dan GPE (IPK) tidak turun, malah sebenarnya meningkat.


Dibandingkan dengan beberapa murid yang lebih sering masuk, nilai Audrey dapat dikatakan lebih tinggi ketimbang mereka.


Dukungan moral yang sedikit dari teman-teman sekolahnya bukanlah sebuah hal yang menyebabkan dia putus asa. Setiap hari dia selalu semangat untuk menggapai cita-cita. Ketekunan dari seorang individu merupakan salah satu kunci untuk sukses dan salah satunya adalah tidak masuk sekolah. Walau beberapa alasan tidak masuk sekolah adalah alasan yang buat-buat, tapi semua orang harus tau mengapa orang itu tidak masuk.

Beberapa orang yang bertemu dia pernah mengatakan sarkasme kepada dia karena ia jarang sekali masuk untuk melakukan rutinitas menambaknya. Tapi sarkasme itu tidak menjatuhkan dia, malah sebaliknya ia tambah semangat ingin menjadi seorang taruni angkatan laut. Semangat yang membara dan tidak putus asa membantu seseorang untuk maju. Sebaliknya orang yang memandang sebelah mata adalah orang-orang yang tidak bisa membuka pikirannya dan akan tetap di tempat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya