Aku sedang ditemani lagu yang mengiring fase patah hati terkelam punyaku.
About this heart and all it's breaking, It was beauty we were making.
Bolehkan aku bercerita tentangnya?
Hi, terima kasih sudah menjadi dirimu yang aku kenal. Di antara sekian banyak perpisahan, perpisahan denganmu adalah yang begitu membekas. Apa kau tahu bahwa segala rencanaku berantakan? Aku tak bisa berpikir jernih, cita-cita yang sedang aku rintis pun pelan-pelan menjadi tak bergerak, sebab hampir sepanjang waktu aku menarik diri, untuk menyapa atau bahkan mengerjakannya. Aku yang salah, aku menjadikanmu satu-satunya yang paling aku butuhkan, sehingga ketika kau menghilang, aku semakin tak karuan merapikan hidupku. tadinya, sebelum bertemu dengamu, aku tak pernah begini. Aku suka sekali mengabaikan orang lain, dan terkesan menutup diri. tapi aku begitu senang, ketika mengenalmu yang tiba-tiba saja membuatku lupa bagaimana cara mengabaikan. Sejujurnya, yang paling membuatku sedih adalah seluruh memori tentangmu adalah hal yang begitu manis. Kau yang menelpon sambil menyaksikanku tertidur, lalu paginya bercerita bahwa wajah tidurku begitu menyebalkan  (haha). Kau yang menelpon hanya untuk melihatku belajar, bahkan ketika aku sedang kebingungan dan berteriak atau bahkan bernyanyi dengan suara yang amat keras, sampai akhirnya kita tertawa, atau bahkan kau yang menelpon sekedar menunjukan secangkir kopi punyamu dan sebuah buku kecil yang kau pakai untuk menulis tanggal percakapan kita. Satu yang paling membekas, adalah ketika aku menonton kau memperlakukan ibumu dengan begitu baik, lalu dia mengecup kening dan pipimu yang membuatku begitu bahagia saat itu. Lihat, bagaimana jemariku mengetik semuanya sejelas ini. Aku lelah, semua tentangmu terlalu berharga untuk dilupakan.
Tapi ya, tiba-tiba saja kau berubah. Tanpa penjelasan, atau bahkan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku sungguh kebingungan. Tiba-tiba kau marah, tiba-tiba kau menghilang, lalu ketika aku berusaha menghubungimu lagi, kau mengabaikanku begitu saja. Hal itu membuatku sedih, dan itu pula yang membuatku mantap melepasmu, di saat hatiku bilang jangan. Aku putuskan memberi waktu selama seminggu yang aku perpanjang menjadi dua minggu sambil berharap kau memberi respon, lalu aku perpanjang lagi hingga sebulan. Kau sama sekali tidak bisa dihubungi. Sampai akhirnya aku benar-benar menyerah. Aku salah aku terlambat mengerti bahwa tidak ada jawaban adalah sebuah jawaban. Mungkin benar, aku juga bersalah padamu, tapi bukannya lebih baik kita saling berbenah daripada menghilang?
Pertanyaanku ini tak pernah menemukan jawaban, pada akhirnya aku melepaskan diri dari hubungan ini. hubungan yang hanya ada aku di dalamnya. Aku merasa begitu kasihan terhadap diriku sendiri yang memilih bertahan sendirian. Aku pergi dari kita yang hanya aku di dalamnya. Lihat, betapa naifnya aku. Kehilangan ini membuatku menjadi berbeda. Di hari-hari pertama, aku mengurung diri, memakan banyak sekali permen, kehilangan rasa kantuk, bahkan mengabaikan seluruh tugas yang harusnya aku persentasikan di kelas. Ponsel pun aku matikan, sebab jika aku hidupkan aku yakin, aku akan semakin menyakiti diriku sendiri untuk menghubungimu lagi dan lagi. Untungnya nomor ponselmu tak pernah aku hafal, jadi ketika aku menghapus seluruh percakapan serta nomor ponselmu, aku merasa senang bahwa kali ini kebiasaan lupaku berfungsi baik sekali (haha). Satu yang membuatku menjadi khawatir pada diriku sendiri, aku suka sekali menangis, bahkan ketika sedang bermain dengan keponakanku. Aku menjadi sadar, aku begitu patah hati. Aku benci menghadapi keadaan ini, aku benci bahwa aku harus melupakanmu. Sampai akhirnya, akal sehatku menegurku dengan tiba-tiba bertanya: harus berapa banyak lagi bungkus permen yang berserakan di kamarku?. Aku putuskan untuk berusaha keras berbenah dan melupakanmu. Sulit sekali, tapi bukan berarti tidak mungkin. Seluruh usaha menyibukkan diri hanya mampu melupakanmu ketika siang hari. Ketika tubuhku terbaring di ranjang pada malam hari, pikiran tentangmu datang lagi.
Salah satu kawan pernah bilang padaku, nikmatilah patah hatimu. Sejujurnya, jika aku nikmati, aku akan semakin tenggelam dan hilang bersamanya, sampai-sampai aku tak bisa pulih lagi. Aku tak bisa begini, aku putuskan menghapus seluruh lagu patah hati yang ada di ponselku, lalu menerima keadaan ini, sambil pelan-pelan menata hati.
Setelah tiga bulan, syukurlah aku berhasil menerima segalanya. Sekarang, jika aku ingat-ingat lagi tentang banyaknya permen yang aku habiskan pasca putus, aku tertawa sendiri. Seluruh puisi yang aku tulis untukmu, masih aku baca. Masih bagus, bisa aku pakai untuk menghadiahkan diriku sendiri yang berhasil melewati fase patah hati. Sekarang siklus tidurku juga berangsur normal. Patah hati ini mengajarkanku untuk benar-benar percaya dan mengandalkan diriku sendiri. Sekarang aku paham bahwa patah hati ini membuatku sadar bahwa menghilang begitu saja lebih kejam dari siluman ular yang masih berwujud. Jadi, aku tak boleh menghilang sembarangan. Satu lagi, aku senang bahwa aku semakin bertanggungjawab dengan setiap pilihanku dan aku bangga bahwa aku pulih dengan caraku sendiri. Aku telah berhasil menyembuhkan patah hatiku!
Lalu untukmu sedikit pun tak pernah aku sesali datang dan pergimu waktu itu. Aku senang mengenal lalu menghabiskan waktu bersamamu. Mungkin kita tak saling membahagiakan, tapi sesungguhnya aku pernah sangat bahagia ketika bersamamu. Sekarang aku sudah baik-baik saja, malah aku senang kepergianmu yang tiba-tiba membuatku paham bahwa rasa sayang tak menjamin seseorang benar-benar ingin tinggal. Aku doakan semoga kau terus bahagia di sana J.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”