Perasaan ini benar-benar tidak bisa aku mengerti. Yang aku tau aku sangat menginginkanmu menjadi milikku. Aku ingin kembali bersamamu seperti waktu itu. Perasaan-perasaan semacam ini, bisakah ini disebut dengan cinta? atau hanya sekedar obsesi saja? Tanpa kuingini tiba-tiba hatiku tampak begitu yakin bahwa suatu hari nanti aku akan memilikimu.

Aku tidak tau itu keyakinan atau hanya harapan. Terkadang aku was-was, yang aku takutkan adalah ketika semua itu hanyalah sebuah harapan palsu dari hatiku. Tidakkah itu akan menyakitiku, aku tidak ingin tersakiti oleh hatiku sendiri, aku tidak ingin tertipu oleh ilusiku sendiri, keyakinan yang aku yakini ini mungkinkah akan terjadi? Akankah kita dibersamakan kembali? Pertanyaan macam apa ini.

Advertisement

Ingin sekali aku menertawakan diriku sendiri. Menertawakan aku yang begitu bodoh dan sangat malang ini. Ingin sekali aku membuang semua harapan dan keyakinan tentangmu. Tapi setiap kali kemunculanmu selalu menimbulkan harapan baru. Seolah menebar benih-benih perasaan agar kembali bersemi di ladang hatiku. Aku selalu menyesalkan setiap kemunculanmu, aku sudah berusaha menghapusmu tapi pada akhirnya kau kembali lagi.

Bukan hanya menjelma sebagai ingatan, bahkan untuk beberapa kali kau muncul sebagai wujud nyata yang berdiri di depan mata. Kemudian berlaku seolah-olah kau masih memiliki perasaan yang sama, tapi hanya sebentar saja kau menghilang dengan mudahnya. Memupuskan semua semi-semi yang sedang berkembang dengan eloknya. Dan tak hanya sekali dua kau kembali untuk kemudian pergi. Entah aku yang terlalu obsesi atau percaya diri.

Tiba-tiba saja hatiku mendapat formula tersendiri, bisa secara otomatis menyimpulkan apa yang akan terjadi. Namun pada kenyataannya tak seperti yang aku inginkan. Kembali aku harus meyakinkan diri, "Terkadang seseorang harus dipertemukan tapi tidak untuk dibersamakan". Otak ku sudah berusaha berpikir rasional macam ini pun hatiku tetap tak mau menghilangkan keyakinan itu.

Advertisement

Bahkan ketika kenyataan berkali-kali menghianati harapan. Kenapa keyakinan bahwa kau akan kembali dan menjadi milikku harus tetap aku pertahankan. Mungkin benar, perasaan ini bukan cinta yang sesungguhnya. Aku kira ini hanya obsesi saja. Bukankah Gibran mengatakan, bahwa cinta tidak membutuhkan siapapun selain cinta itu sendiri. Cinta tak butuh memiliki dan dimiliki. Karna cinta telah cukup untuk cinta. Akan aku hentikan cinta yang tak seharusnya ada ini, biarlah ini kukenang menjadi obsesi yang tak tersampaikan. Sebagai pengingat riwayat cintaku yang malang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya