Aku masih ingat kebersamaan kita saat Ramadhan tiba. Menyantap hidangan berbuka buatan Ibu bersama. Kau meluangkan waktumu meski tak lama untuk bermain denganku. Menghabiskan waktu sebelum adzan magrib berkumandang. Kau pula yang mengajariku untuk bermain petasan depan rumah, mengabaikan kekhawatiran ibu kala itu. Ayah, aku rindu. Aku sering bertanya dalam diam. Kenapa ayah tak kunjung pulang? Apa karena aku nakal? Ayah, aku harap kau dapat mendengarku, aku ingin mengatakan, aku sangat merindukan kehadiranmu.

Sudah hitungan tahun aku tak mendengar kabarmu

Advertisement

Sudah hitungan tahun aku tak pernah lagi melihat rupamu dan bercanda bersamamu. Diam-diam aku menangis, saat melihat kebersamaan teman-temanku bersama ayah dan ibunya. Diam-diam aku sedih, tak pernah sekali pun ku lihat ayah peduli akan keadaanku kini. Meski aku hidup dengan sangat baik bersama seorang ibu yang luar biasa, tapi jauh di dalam hati aku masih butuh dirimu, Ayah.

Terkadang aku belajar melupakanmu

Seperti halnya dirimu yang mengabaikan aku. Aku pun ingin melakukan hal yang sama. Mengubur rasa rinduku. Memupuk kebencian atas dirimu. Mengubah diriku menjadi seorang yang ‘jahat’. Tapi kata ibu itu tidak baik. Bagaimana pun hadirku di dunia karena andilmu. Ada darahmu mengalir pada setiap sendi tubuhku.

Advertisement

Ayah, segala tentangmu perlahan terkikis

Kau meninggalkan aku saat-saat aku butuh dekapmu. Saat rasa sayang itu berada dipuncaknya. Saat aku merasakan indahnya tertawa dan bermain bersamamu. Kau pergi tanpa pamit. Tak pernah menanyakan kabarku atau mengunjungiku sekali saja.  Kala itu aku masih bocah ingusan yang tak mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuaku. Waktu itu aku tak memahami makna ‘pisah’ bagi orang dewasa,  ‘mereka’ bilang kau jahat, kau ayah yang buruk. Aku marah saat mereka menjelekkanmu. Kau adalah ayah terbaikku yang selalu aku tunggu kepulangannya. Dimataku kau laki-laki terbaik yang paling ku sayang. Setidaknya sampai aku memahami segala yang terjadi berikut dengan makna 'pisah’ yang sesungguhnya.

Mungkin yang ‘mereka’ katakan benar. Namun aku dilarang membencimu

Dan saat itu tiba, usiaku bukan lagi kanak-kanak. Aku adalah wanita dewasa yang mandiri. Dibesarkan oleh seorang ibu dengan penuh kasih sayang. Dan saat itu segala tentangmu seperti debu yang ditiup angin. Ayah, aku diajarkan oleh ibu dan keluargaku untuk menghormatimu, mencintaimu dengan tulus, dan memaafkan salahmu. Aku dididik untuk tidak menjadi wanita pendendam, meski aku ingin.

Ayah, entah di mana dirimu. Jika kau dapat mendengarku. Aku putri kecilmu yang dulu ‘berisik’, sangat merindukanmu. Semoga Ramadhan tahun ini aku bisa bertemu denganmu, walau hanya sebentar saja.

​​​​​​

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya