Hai Ayah.. Hai Ibu.. kini putrimu sudah tumbuh dewasa.. rasanya baru kemarin kalian menceritakan betapa cengengnya aku saat terjatuh untuk melangkahkan kakiku yang pertama. Betapa nakalnya aku saat kucoba untuk mencuri-curi waktu bermain setelah jam pulang sekolahku. Betapa keras kepalanya aku saat mencoba merayu agar ku dapatkan izin kalian berdua untuk mendapatkan apa yang menjadi mauku.

Terima kasih Ayah, Ibu atas segala peluh yang bercucuran di kening kalian hingga aku tumbuh dewasa. Terima kasih untuk setiap untaian doa di mana namaku yang selalu utama kalian sebut. Di mana selalu aku yang menjadi tokoh utama di pikiran kalian, di mana pun kalian berada. Terima kasih atas setiap genggaman kuat tangan kalian setiap kali aku merasa bukan siapa-siapa. Terima kasih untuk setiap rasa bangga yang terpancar di saat aku hanya berhasil melakukan hal kecil saja dan terima kasih sudah mengajariku betapa hangatnya cinta.

Ayah, kutemui dia yang tak pernah sebaik dirimu. Seberapa besar cintanya padaku tak mampu mengalahkan besar cinta Ayah kepadaku. Kudapati pria lain yang menjadi persinggahanku saat aku berbagi kisahku selain kepada Ayah. Bukan karena aku sudah tak ingin bercerita pada Ayah, tapi Ayah, aku tau Ayah tak akan tega mendengar putrinya menghadapi masalah, aku tak ingin menambah beban pikiranmu di usia senjamu.

Izinkan aku memperkenalkan pria ini, pria yg akhir-akhir ini selalu menggenggam kuat jemariku dan membuatku yakin kepadanya bahwa aku merasa dilindungi. Mendapatkan sosok lain seperti Ayah walaupun tak seistimewa dirimu Ayah. Bukan seseorang yang bergelimang harta, tapi aku yakin dia selalu berusaha membuat ku bahagia. Pria yang sabar dalam setiap mendengarkan rengekanku walaupun tak sesabar Ayah. Pria yang selalu berjalan beriringan bersamaku seperti saat Ayah menggandeng tanganku berjalan-jalan dengan bangga menunjukkan pada dunia bahwa aku bagian terpenting dalam hidupnya. Aku benar menyayanginya dan izinkan aku, si putri kecilmu ini berada dalam perlindungan pria lain sebagai pimpinan hidupku ke depan, sebagai wakil Ayah.

Dan untuk Ibu, ini lah pria yang setiap harinya menyempatkan waktunya untuk putri kecilmu yang manja. Meski tak selembut Ibu, aku mendapat kenyamanan di setiap genggaman tangannya. Seorang pria yang mengutamakan aku di setiap kesibukannya, seperti Ibu yang selalu terbangun dan memelukku sepanjang malam di masa kecilku. Pria yang mendengar cerita-cerita ku Bu, menasehati ku, menegurku dan menyayangiku seperti Ibu, tapi tetap Ibu yang nomor satu.

Advertisement

Ayah, Ibu, aku mengerti segala rasa gelisahmu untuk kehidupanku kelak. Kalian tidak ingin melihatku susah, tapi percayalah padaku Ayah, Ibu..pria ini selalu berusaha membuatku bahagia, pria ini selalu mempersiapkan segala sesuatunya bagiku dan anak-anak kami nantinya. Meski jauh dari kata sempurna, aku melihat kesungguhan di setiap usahanya, kudapati perhatian di setiap perbuatannya. Maka Ayah,, Ibu,, izinkan kami melangkah bersama dan beriringan hingga kami dapat menjadi seperti kalian, bahkan menjadi yang lebih baik.