Entah kenapa saya merasa jadi anak perempuan merasa terlalu terkekang. Misal disaat saya ingin pergi main bersama teman tuh maksimal 3-4 jam, jikalau berangkat jam 6 sore pulang tuh harus tidak boleh diatas jam 10. Alasan orang tua untuk biar anak perempuannya tidak dianggap orang sekitar ataupun tetangga sebagai perempuan nakal atau seperti kupu-kupu malam, selain itu juga orang tua saya tidak ingin anaknya kebanyakan bermain yang membuat lupa akan tugasnya sebagai seorang pelajar. Saya juga mendengarkan cerita teman yang juga bernasib sama seperti kasus saya, dia bercerita kalau orang tuanya overprotektif, sehingga membuat dia merasa takut untuk izin bermain kemana saja karena takut tidak dibolehin. Pada kasus ini seharusnya orang tua percaya bila anaknya akan baik-baik saja di luar, sebab di rumah terus menerus juga tidak baik bagi anak karena anak jadi kurang mengenali lingkungan sekitarnya, anak akan kurang berinteraksi dengan teman seumurannya, anak akan selalu bergantung kepada orang tuanya sehingga membuatnya tidak bisa menghadapi masalahnya sendiri, dan kurang mendapat pengalaman untuk adaptasi dengan lingkungan baru.
Disisi lain kami sebagai anak dan berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa ingin refreshing yang sewajarnya dengan berkunjung ke tempat wisata agar otak tidak merasa jenuh akan pelajaran dan juga berguna untuk menjauhkan diri dari kata stres. Namun beberapa orang tua terlalu mengekang anaknya untuk keluar rumah dikarenakan dunia luar yang terlalu kejam penuh kejahatan sehingga bisa mendorong terbentuknya karakter anak cendurung menjadi orang yang introvert.
Kasus lain juga terjadi ketika orang tua yang terlalu menuntut serta membandingkan anaknya ingin seperti anak orang lain yang tampak menggambarkan keinginan mereka serba perfect dari segi fisik, sifat maupun kepandaian, sebenarnya itu bagus agar anak menjadi pribadi yang lebih tapi tidak semua orang dilahirkan dari segi fisik, sifat dan kepandaian sama. Teringat akan cerita kehidupan saya yang juga mengalami kasus yang sama seperti itu. Sering kali terjadi pada waktu saat pengambilan hasil rapor, saya melihat orang tua saya sedang berbicara dengan orang tua teman saya yang ranking 1 membuat saya berpikir pasti tentang hasilnya. Saya paham mungkin biar mengetahui bagaimana perkembangan anak mereka, namun orang tua saya menginginkan saya agar juga sama ranking 1 dengan alasan teman saya dan saya sama-sama makan nasi kenapa saya tidak bisa seperti dia. Padahal saya sudah berusaha semaksimal yang saya bisa namun keberuntungan serta kepintaran saya kalah dengan dia. Namun saya tidak berputus asa walaupun tidak ranking satu tetapi saya sudah mulai meningkatkan nilai saya per semester. Walaupun saya tidak masuk SNMPTN tidak membuat saya putus asa, saya mencoba jalur lain lewat SBMPTN dan memang keberuntungan saya keterima di Universitas Negeri yang termasuk favorit se-Indonesia.
Saya berharap orang tua seharusnya tidak pernah memaksakan anaknya untuk menjadi seperti orang lain yang mereka inginkan serta jangan membandingkan anaknya dengan orang lain sebab akan membuat anak itu menjadi benci akan dirinya karena tidak sesuai harapan orang tua, membuat anak semakin tertekan atau merusak mental anak, menghancurkan karakter asli anak dan cendurung bukan menjadi diri sendiri, dan membuat anak kehilangan kepercayaan diri akan melakukan suatu hal yang nanti hasilnya tidak sesuai harapan orang tua mereka. Lebih baik sebagai orang tua cukup menasehati anaknya untuk bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik bukannya menyuruh anaknya menjadi atau menjiplak seseorang yang perfect dari segala segi. Percayalah rezeki setiap anak itu berbeda jalannya.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”