Ternyata untuk Merasakan Sebuah Bahagia, Cukup dengan Hal-hal Sederhana yang Sarat Makna

bahagia cukup sederhana

Ternyata, bahagia tak perlu bermewah-mewah.

Advertisement

Segelas capuccino dingin, roti bakar coklat keju, dan beberapa percakapan sederhana saja sudah mampu membuat euphoria bahagia yang luar biasa.

Sama sekali tak pernah disangka sebelumnya, bahwa untuk merasakan sebuah bahagia, cukup dengan hal-hal sederhana namun sarat sekali makna.

Dan saat ini, di perutku sedang ada beberapa kupu-kupu yang terbang, menggelitik, memaksaku menyunggingkan senyum setiap mengingat detik demi detik kebersamaan kami yang tak seberapa tadi.

Lewat tatapan mata, nada suara, dan hangatnya genggaman tangan seakan sudah mampu menjabarkan semua yang selama ini hanya dirasa lewat pesan singkat sebab terpisah Jogja–Jakarta.

Ratusan kilometer yang membentang diantara kami menjadikan kami tak berdaya kala hasrat untuk bertatap muka sedang menggebu-gebu. Keharusan untuk bertekuk lutut terhadap jarak adalah satu-satunya yang bisa dilakukan sambil menunggu waktu pertemuan kembali datang.

Advertisement

Bahwa rindu, akan selalu menang melawan semua ragu. Bahwa rindu akan selalu mampu menyingkirkan gundah yang kerap menyergap saat dia sedang terlampau jauh dari rengkuhan. Bahwa rindu akan selalu menang melawan semua cemburu yang kerap singgah kala pujaan hati sedang tak berada dalam jangkauan mata. Dan bahwa rindu akan selalu berhasil mengalahkan apapun jika ia memang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan oleh setiap hati yang merasakan.

Akhirnya, aku dan dia, kini benar-benar bisa memenangkan pertempuran melawan jarak yang sempat menertawakan kami sebab tak mampu saling memeluk kala rindu sedang menjadi-jadinya.

Lalu kemudian, resmilah kami menobatkan diri menjadi pembenci jarak garis keras. Dan memutuskan untuk tak lagi berada jauh satu sama lain. Sebab terlalu sesak galau yang selalu datang memporak-porandakan benak serta terlalu sulit diredam.

Ternyata, menikmati hidup dan mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan sama sekali tidak susah. Aku dan dia kini berada dalam satu kota yang sama. Kini tinggal mengambil telepon genggam, membuka aplikasi WA lalu mengetik “Hai, ketemu yuk?”.

Tak perlu restoran mewah dengan harga menu yang "wah". Cukuplah cafe minimalis di salah satu sudut kota Jogja dengan hot chocolate sebagai best seller- nya. Lalu akan mengalirlah kata demi kata, rindu demi rindu.

Ya. Ternyata se-sederhana itu, hadirnya sungguh mampu menghadirkan warna baru di duniaku yang selama ini sudah dibangun benteng tinggi dengan warna hanya putih, hitam, dan abu-abu.

Lalu kini dia datang, dengan menawarkan satu warna baru. Satu warna tambahan untuk hidupku. Dengan tanpa terlalu banyak bicara, sebagaimana ciri khas laki-laki itu. Laki-laki biasa yang selalu tampak luar biasa di mataku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat keju. Penggila kafein. Penyuka hujan. Pecandu laut, dan kamu.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE