Artikel ini sengaja ditulis dengan tujuan untuk berbagi pengalaman bagaimana saya bisa merasakan kebahagiaan walaupun pada tahun sebelumnya (2018) merasa depresi dan bahkan tahun sebelumnya lagi (2017) merasakan depresi yang lebih parah.

Sebagai disclaimer aja nih ya, artikel ini tidak berdasarkan teori filsafat ataupun teori neurologi karena artikel dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dan mungkin saja apa yang saya lakukan untuk keluar dari zona depresi tidak bisa anda aplikasikan di kehidupan anda karena pengalaman hidup yang berbeda.

Advertisement

Perjalanan hidup saya dimulai sekitar pertengahan tahun 2015. Waktu itu saya memutuskan untuk drop-out dari kuliah (kenapa saya memutuskan drop-out kuliah) dan mulai mendirikan start-up digital.

Waktu itu aplikasi yang saya buat adalah sosial media berbagi foto yang berbasiskan lokasi, jadi cara kerjanya adalah seperti ini. Misal saya sedang berada di Melbourne, Australia, otomatis feed saya berisi postingan tentang hal-hal yang ada di Melbourne, misal postingan sebuah restoran atau event yang ada di Melbourne hari itu.

Singkat cerita, saya tidak bisa melanjutkan karena waktu itu saya tidak punya tim dan merasa kewalahan untuk mengembangkannya.

Advertisement

Kemudian saya membuat startup lagi yang lain, kali ini saya berhasil mengajak seorang teman untuk bergabung, namun lagi-lagi saya merasa kewalahan karena saya tidak tahu cara memasarkan produk startup saya bagaimana.

Hingga pada akhirnya pada tahun 2017 saya mulai merasakan depresi karena saya belum menghasilkan apa-apa secara materi selama 2 tahun dan orang-orang mulai menyakan kapasitas dan kapabilitas saya ditambah lagi pada tahun tersebut ada permasalahan yang cukup berat buat saya, depresi saya tambah menjadi-jadi. Dan akhirnya 2018 pun datang, lembaran baru dalam hidup saya pun juga baru.

Pada tahun 2018 saya memutuskan untuk membuat bisnis non startup digital, namun lagi-lagi ternyata saya merasakan kesulitan untuk mengelola tim ditambah lagi kondisi finansial yang kurang mendukung.

Selama saya drop-out (2015) hingga akhir tahun 2018, saya selalu di supply oleh orang tua saya untuk urusan finansial namun pada akhir tahun 2018 saya berpikir “saya tidak bisa dibantu oleh orang tua saya terus-terusan untuk urusan bisnis maupun urusan pribadi, saya harus melakukan sesuatu untuk mendanai urusan pribadi maupun bisnis saya” dan kebetulan waktu itu teman saya menawarkan pekerjaan dan saya di terima untuk pekerjaan tersebut.

Pada tahun 2019, disini saya mulai belajar untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung pada siapapun namun saya tidak merasakan kesulitan yang berarti selama bertransisi menjadi mandiri, karena kegagalan-kegagalan yang saya alami dari tahun 2015 sampai dengan 2018 menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga buat saya.

Pengalaman gagal selama 3 tahun itulah yang membuat saya sangat siap untuk menjalani kehidupan yang mandiri dan saya merasakan kebahagiaan karena saya bisa lepas dari ketergantungan orang lain, dan perlahan passion saya kembali bergairah, perlahan saya juga mulai bisa mengarahkan tujuan hidup saya, perlahan saya menemukan jati diri saya.

Dan ternyata, kunci kebahagiaan saya yang selama ini terpendam adalah, pekerjaan.

Dengan pekerjaan tersebut saya mendapatkan banyak hal, belajar manajemen tim, belajar manajemen administrasi, belajar manajemen keuangan, dan juga dengan pekerjaan tersebut saya bisa memenuhi kebutuhan dasar saya tanpa bergantung pada siapapun.

Dan bahkan ide-ide saya sekarang mulai mendapatkan pencerahan agar bisa di realisasikan, dan menurut saya semua itu karena kebutuhan dasar saya bisa terpenuhi tanpa bergantung pada orang lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya