Tolak Ukur Bahagia dan Kesuksesan Itu Nggak Sekadar Harta. Lihat Apa yang Sudah Kamu Punya

Bahagia, sukses, dan kekayaan

Mungkinkah kesuksesan dalam pandangan mata manusia hanya sebatas tentang seberapa banyak harta kekayaan yang dapat dihasilkannya? Mungkinkah harta yang berupa fisik yang dilihatnya itu bukan hanya sebatas fatamorgana? Atau bisa saja mereka sudah dibutakan oleh mata yang gila harta? Mungkin mungkin saja…

Advertisement

Memang banyak orang yang menghubungkan antara kesuksesan seseorang dengan harta kekayaan, hal ini sudah banyak kita temui di dunia nyata selama kita hidup. Namun, hal yang paling parah adalah ketika ada seorang manusia yang menilai manusia lain hanya dari kacamata kesuksesan dan kekayaan yang dimilikinya.

Hanya sebatas 2 faktor itukah harga diri manusia dapat ternilai? Jawabanya adalah tidak!!! Apakah kalian ada yang setuju dengan jawaban itu? Jadi beginilah penjelasannya …

Bahasan pertama dari inti pokoknya adalah tentang “kesuksesan”, seseorang akan dikatakan sukses bukan berarti dia kaya, cantik, tampan, banyak harta benda seperti mobil, rumah yang mewah nan megah, dan lain-lain, tapi manusia yang mampu memberi manfaat pada dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.

Sukses memang dapat diartikan banyak kata namun hanya satu artian yang paling tepat adalah ketika kita sudah sanggup mengabdikan diri untuk orang tua (tujuan yang utama) dan orang sekitar di dekat kita. Hal itu tidak begitu saja akan terjadi, apalagi dengan mudahnya akan diterima tentang begitu beragam sifat yang kita miliki.

Tidak ada manusia yang hanya memiliki sifat baik saja, pasti ada buruknya, karena yang sempurna hanyalah Allah/Tuhan semata. Karenanya butuh banyak usaha dan proses di dalamnya. Mungkin kita bisa menilai orang yang mempunyai rumah megah, mobil banyak, perhiasan banyak, sebagai faktor penilaian, hal itu boleh-boleh saja.

Advertisement

Namun, jangan sampai lupa bahwa itu hanya sebuah bonus akan usaha yang telah mereka niatkan demi tujuan utamanya. Karena tujuan itulah yang membuat manusia akan berusaha semampunya, yang disertai dengan doa-doanya, serta restu kedua orang tuanya yang mampu menghantarkannya pada pintu gerbang kesuksesan.

Harta kekayaan yang kita miliki hanyalah sebatas bonus akan kerja keras, dan hanyalah sebatas titipan bukan dasar akan kesuksesan serta kebahagiaan. Jangan karena terlena dengan penilaian terhadap “harta” sampai membuat kita mampu berbohong pada diri kita sendiri yang membuat hati kecil kita merasa tersiksa.

Sebagai contoh hal kecilnya, harta yang utama adalah anugerah-Nya yang sudah kita miliki termasuk hidup dan keluarga kita. Okay, memang banyak orang yang ingin dinilai tinggi derajatnya oleh orang lain.

Dia akan mengaku sebagai konglomerat, punya tanah dan sawah berhektar-hektar, namun hal ini adalah contoh yang salah. Bagaimana mungkin seorang manusia mampu membohongi dirinya sendiri hanya demi dihormati dan disanjung padahal sebenarnya hati dan dirinya sedang tertekan akan semua itu.

Contoh fakta dalam kehidupan tentang penilaian manusia-manusia lain yang hanya melihat tentang “harta dan fisik” adalah ketika kita bersekolah atau bekerja, disitu kita mengenal banyak orang baru dengan karakter masing-masing yang belum kita tau bagaimana sifatnya jika meraka akan menjadi teman kita nantinya.

Apakah kalian pernah mengira jika teman-teman kalian ini akan menilai kamu hanya dari bagaimana mereka melihat cara berpakaian, perhiasan yang kamu kenakan, sampai bentuk bagaimana rumah kalian? Iyaa, bisa saja ada diantara mereka yang seperti itu, karena hati orang siapa yang tau.

Mungkinkah hanya sebatas itu diri kita ternilai dimata mereka? Ini hal yang seharusnya tidak terjadi pada seseorang yang punya hati nurani dan sehat pikirannya. Hal yang seharusnya dapat kita lakukan adalah bersikap baik, berusahalah sebagai seseorang yang mampu memberikan kebahagian kepada hal lain, meskipun hal itu hanya sepucuk kuku.

Dengan apa? Mungkin kita bisa menjadi teman baik bagi semua orang yang tidak membedakan entah dia dari keluarga yang bagaimana? Dari keluarga yang bagaimana? Bentuk rumah yang bagaimana? Tetaplah seperti apa adanya dirimu pada semua teman-temanmu.

Tidak selalu membela dan bersikap baik pada teman yang cantik, kaya, atau yang sering menntaktir kamu, tapi bela lah mana yang memang dia bersikap benar, jujur, dan dapat dipercaya pada apa yang sudah diucapkannya.

Kunci dari kebahagiaan tidak hanya ternilai dari kesuksesan serta harta yang dimilikinya, bahkan tidak dari bagaimana sifat dan mimik mukanya. Mimik muka? Iya, karena tak dapat dipungkiri, demi membahagiakan dan membuat tenang hati orang lain kita mampu menyembunyikan kegelisahan hati dengan raut muka yang ceria.

Atau mungkin contoh lainnya adalah, ketika kita bahagia membeli barang-barang mewah termasuk mobil mewah dengan cara kredit kesana kemari demi dinilai wow oleh orang lain, hal ini hanya akan menjadi kebahagiaan yang sesaat saja yang dia terima karena sudah dijunjung oleh orang lain. Tetapi sebenarnya dirinya akan tertekan dengan bagaimana cara untuk melunasi itu semua itu.

Kebahagiaan itu lahir dari hati dan pikiran yang positif bukan dari pemalsuan identitas diri. Lalu bagaimana langkah seharusnya yang bisa dilakukan? Jadi, kita bisa menanamkan pada pikiran dengan rasa bersyukur dan selalu optimis, karena dengan itu ketika kita melalui banyak masalah dan cobaan, kita akan tetap akan bangkit dari keterpurukan.

Karena kita merasa bersyukur mungkin masih banyak seseorang yang cobaan yang dialaminya lebih berat dari apa yang kita rasakan, dan merasa optimis karena setelah banyak cobaan dalam hidup akan membawa pada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Seperti kata pepatah bahwa setelah turunnya hujan yang mungkin disertai badai, akan dating pelangi yang indah. Maka kita akan akan tetap berusaha dengan keras yang diimbangi rasa senang hati, semangat dan ikhlas menjalani kehidupan yang penuh dengan rintangan, serta doa yang selalu dipanjatkan hingga kebahagiaan datang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE