Diam. Begitulah sifatnya. Bahkan untuk tersenyum pun dia amat sulit. Mungkin itulah yang membuat seluruh cewek di kelas ingin mendekatinya. Dia juga jenius, mengalahkanku. Tapi aku tidak berpikir untuk bisa dekat dengannya. Karena menurutku, dia adalah batu.
"Saz. Lo dipanggil Fero," teriak Tsira dari balik rak buku perpustakaan. Di dekatnya ada Fero yang juga sedang mencari-cari buku yang cocok untuk di baca.
"Suruh dia ke sini. Saya malas."
Fero kemudian dengan cepat langsung menghampiriku ketika mendengar suruhanku. Aku kaget ketika dia tiba-tiba menggenggam tanganku. Aku pun langsung melepasnya.
"Plis. Lupakan semuanya. Jangan pernah dekati saya lagi. Pergilah dari sini!" bantahku.
"Oke. Kalo Lo mau gitu. Tapi gue nggak akan biarin cowok lain dekat sama Lo," ancam Fero.
Fero pergi dengan menyisakan mataku yang sedang berkaca-kaca akibat suaranya yang memekik keras sampai menusuk dadaku. Kejadian itu membuatku teringat kenangan dan perilaku manisnya saat kami masih memiliki hubungan. Dan kembali aku harus mencoba melupakannya dari mulai 1% lagi yang seharusnya sudah 50%.
Tsira menghampiriku dan menasihati bahwa aku tidak seharusnya bersikap kasar pada Fero. Aku pernah berpikir bahwa sepertinya Tsira menyukainya. Dari mulai aku dan Fero berhubungan, Tsira seperti bergerak menjauhiku dan sikapnya yang semula lembut menjadi kasar setiap aku mendekatinya. Namun sekarang dia kembali bersikap lembut. Mungkinkah karena aku sudah putus dengan Fero? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Aku bergegas pergi meninggalkan perpustakaan karena perutku sudah mengaung-ngaung di dalam. Di sepanjang jalan aku hanya memikirkan perbuatan Fero yang sangat tidak senonoh. Dengan tidak sadar, aku menginjak buku yang terjatuh di lantai. Ternyata pemiliknya ada di belakangku. Dia adalah Saddam. Cowok yang disukai seluruh cewek di sekolah ini. Ntah apa yang membuat mereka menyukainya.
"Lo boleh injak seluruh bagian dari tubuh gue. Tapi ngga dengan buku-buku gue," kata Saddam.
"Saya ngga sengaja. Saya minta maaf. Ini ganti ruginya," ku sodorkan uang Rp100.000,00.
"Gue bisa beli sendiri. Gue punya banyak uang. Lo pikir gue miskin?" bentak Saddam padaku.
"Ternyata kamu pemarah. Saya pikir alasan mereka menyukaimu karena kamu orang baik. Selama ini aku ternyata salah," keluhku.
"Maafin gue," dia menundukkan kepalanya, "Gue lagi ngga enak badan. Oh iya, gue Saddam. Gue duluan."
Aku baru sadar kalau dia baik. Dia bukan batu yang hanya diam. Namun aku masih kaget saat dia membentakku tadi. Aku masih ngga habis pikir. Di balik sifatnya yang pendiam, dia mudah marah.
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Itu menandakan bahwa aku harus segera masuk kelas. Ketika sampai di depan kelas, aku melihat Bu Reni berjalan menghampiriku.
"Sazya. Kamu mau kan ikut OSN Matematika?" tanya Bu Reni padaku.
"Mau banget pun, Bu. Tapi kapan?"
"Dua minggu lagi. Tapi ini berkelompok. Satu kelompok hanya bisa dua orang. Dan ini dibiayai sekolah. Jadi Ibu hanya mengambil dua orang saja. Ibu memilih kamu dan Saddam."
"Oke, Bu. Sistem belajarnya bagaimana?"
"Nanti Ibu berikan soal-soal dan kalian berdua membahasnya. Di mulai dari hari ini ya."
Aku mengangguk dan segera menuju ke kelas Saddam. Sejujurnya aku juga malu menghampiri cowok. Tapi ini bukan soal itu., ini demi sekolah. Saat berjalan menuju kelas Saddam, aku melihat Tsira di kantin dan dengan menuruti ajakan hatiku, aku pun mengamatinya. Tak lama dari itu, tiba-tiba Fero menghampiri Tsira dan memeluknya. Aku kaget. Dan aku pun menghampiri mereka. Seketika mereka pun saling melepas.
"Saya sudah menduganya sejak lama. Jadi kalian ngga usah kaget gitu. Biasa aja mukanya," ejekku.
"Kamu salah paham, Saz. Aku ngga sengaja memeluknya. Lagian selama kita berhubungan, Lo ngga pernah mau gue peluk. Ya gue ngga puaslah, Anjing!"
"Bangsat Lo! Cowok ngga tau diri! Akhhh!!!"
Aku menampar Fero. Aku pun lari meninggalkan mereka. Aku tidak sadar bahwa mataku sudah sembab. Bolak-balik ku usapkan punggung tanganku ke pipi. Tapi air itu masih saja terus mengalir. Aku benci orang-orang yang membuat air itu mengalir di pipiku. Aku membencinya. Aku sangat benci. Aku benci kamu, Fero. Aku juga benci kamu, Tsira. Benci. Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi.
Lariku tak terkendali, aku pun menabrak seseorang. Seketika tubuhku pun terjatuh. Aku masih menangis. Aku tak peduli seseorang itu memandangku dan dia mendirikan tubuhku agar aku bisa duduk di bangku depan kelasnya.
Saddam. Memang dialah yang membantuku duduk di atas bangku ini. Lalu dia memberikan sapu tangan padaku dan aku pun mengambilnya. Aku memandangnya saat dia bertanya apa penyebab aku menangis. Namun aku tidak menjawabnya yang membuat dia juga menjadi diam. Tiba-tiba dengan sangat cepat, dia memelukku. Aku tidak berontak. Aneh. Memang aneh. Aku merasa sangat aneh pada diriku sendiri. Tapi aku sama sekali tidak merasakan resah seperti apa yang aku rasakan saat bersama Fero.
"Saya baru tau rasanya di tusuk belati dari punggung sampai menusuk rusuk."
"Ipa banget Lo. Oh iya pacar Lo siapa?" tanya Saddam menyelidikiku.
"Kenapa?"
"Ngga sih. Nanya doang. Kali aja kalo ngga ada kita bisa nikah langsung.," ajaknya.
"Apaan sih? Ngebet amat Lu," aku pun tertawa.
"Bakunya udah hilang kali, ya?" Saddam menggodaku.
"Ihhh… Nyebelin deh," aku memukul pelan lengannya
Hatiku terhibur. Ternyata dia asyik. Dia membuatku tertawa lepas. Mulai hari ini aku berjanji, aku tidak akan menentangnya. Aku akan mengikuti kemauannya. Aku tidak akan membuatnya marah atau pun kecewa. Aku tidak akan menuduhnya macam-macam. Dan mulai hari ini, aku resmi mencintainya. Aku pun membuka surat yang dia berikan padaku sebelum dia masuk ke kelasnya saat pertemuan tadi.

Saat matahari itu datang
Aku menyambutnya
Dia berbeda dengan bintang lain
Membuatku kepikiran adalah caranya
Cara yang membuatku mencintainya

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya