Sebagai daerah yang paling sering dibully karena jalanan yang rusak serta macet, suhu udara yang panas dibandingkan kota-kota di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), belum lagi ditambah sampah dimana-mana serta banjir yang kerap datang ternyata ada yang jadi pihak paling sedih di Bekasi. Tak lain pihak itu adalah air. Kondisi air di Bekasi saat ini memang luar biasa memperihatinkan. Ditambah lagi pasokan air di dunia turut mendukung kondisi ini.

Bahkan PBB juga menyatakan dalam siaran pers 12 Maret 2012 jika perubahan iklim yang terjadi mengancam ketersediaan air di dunia sedangkan permintaan air mengalami peningkatan dari hari ke hari. Air merupakan salah satu energi yang bisa kita dapatkan dengan gratis tanpa perlu membuat atau mencetaknya, bahkan kita harus bersyukur tinggal di bumi karena hanya diplanet inilah kita bisa menemukan air. Manfaat yang dimiliki air sungguh sangat banyak. Dari hal-hal kecil seperti mencuci sampai urusan pekerjaan pun kita selalu membutuhkan air.

Manusia terus tumbuh dan membutuhkan air dalam kehidupan. Sayangnya di Bumi ini sebanyak 99 persen jumlah air merupakan air beku atau air asin yang mana tidak bisa digunakan untuk mandi, minum atau pun menyirami tanaman. Dari siaran pers PBB yang dilakukan pada tanggal 12 Maret 2015 lalu terungkap sebuah fakta yang mengejutkan bahwa di tahun 2050 mendatang kebutuhan pangan dunia akan naik 70 persen yang mana hal ini membuat kebutuhan air untuk pertanian naik sebesar 19 persen. Dan perlu kita ketahui saati ini sebanyak 70 persen air tawar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova juga menyatakan bahwa masih banyak yang tidak bijaksana dalam menggunakan air tawar.

Sayangnya, apa yang dikatakan Irina Bokova merupakan fakta. Didukung juga oleh sebuah laporan berjudul “Managing Water under Uncertainty and Risk” yang juga menyebutkan bahwa untuk memenuhi permintaan air, sejumlah negara melakukan peroses penggalian tanah, yang mana hal ini juga memperburuk kondisi air tanah.

Di negara kita tercinta, Indonesia, tepatnya di area Jabodetabek, pada kota Bekasi pun mengalami hal yang sama. Sebagai warga yang tinggal di Bekasi tentu kita bisa merasakan bagaimana kondisi air di sini. Selain tidak jernih, air juga terasa tidak segar. Direktur PDAM Tirta Bhagasasi, Wahyu Prihantono pada 8 februari 2012 lalu juga mengatakan bahwa perusahaan air bersih di Bekasi hanya mendapatkan bagian dari air kali Bekasi.

Advertisement

Apa yang terjadi pada tahun 2012 ini juga masih terjadi hingga beberapa tahun terahkir ini, dari portak berita bekasi.go.id bisa kita temukan berbagai macam tag tentang krisis air bersih. Tentu saja hal ini perlu mendapat perhatian utama, mengingat air merupakan sumber kehidupan.

Memang ada berbagai macam faktor yang memberikan dampak baik langsung atau tidak langsung pada kondisi air di Bekasi. Selain perubahan pola hujan, bencana, limbah yang dihasilkan oleh perusahaan yang kurang bertanggung jawab juga menjadi penyebab yang tidak boleh disepelekan.

Di tahun 2017 ini, bersumber pada gobekasi.co.id BPLH (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup) kota Bekasi telah melakukan identifikasi siapa saja perusahaan yang membuang limbah di Kali Bekasi yang mana hal ini menyebabkan Kali Bekasi menjadi tercemar, berbusa dan berwarna biru.

Advertisement

Fakta yang ada memang membuat kita tidak habis pikir, kita mengerti bahwa Indonesia, berdasarkan kualitas atau kondisi memang memiliki banyak sumber air. Sayangnya saat ini, kemampuan untuk menyediakan air bersih bukan hal yang mudah. Sebagai warga kota Bekasi memang kita masih bisa mendapatkan air bersih saat ini dengan membelinya. Sayangnya, tidak selamanya kita bisa menikmati air bersih berbayar, jika semua air di kota ini sudah tercemar tentu bukan hal yang lucu jika kita harus mengimpor air dari negara lain.

Bagi kita yang memiliki uang, kita bisa menggunakan PDAM, tetapi bagi warga yang kurang mampu mereka akan tetap mengkonsumsi air seadanya, entah itu kotor atau tidak, bahkan mereka juga tidak akan peduli meskipun air itu mengandung bakteri Coliform dan E-Coli.

Sudah saatnya kita membuka mata untuk urusan yang sangat vital. Kita bahkan lebih peduli ketika handphone kehabisan kuota daripada memikirkan sumber daya air yang bersih. Jika kita tidak tahu darimana harus memulai maka kita bisa memulai dari diri kita sendiri. Melakukan hal-hal kecil untuk menyelamatkan sumber daya air, baik di dalam rumah atau diluar rumah yang mana hal ini dilakukan secara berkelanjutan. Karena kita hidup tidak hanya untuk hari ini, tetapi masih ada hari esok.