Bagi para pejuang beasiswa luar negeri, istilah IELTS tentunya sudah tak asing lagi di telinga, dan pastinya telah menempati ruang tersendiri di hati. Sangat spesial bahkan, pakai telur setengah matang dan taburan bon cabe di atasnya, jika diibaratkan indomie kuah rasa ayam bawang. Test IELTS adalah sebuah tes kemampuan bahasa Inggris dengan tujuan kampus-kampus luar negeri di negara seperti Inggris, Australia dan Selandia baru. Negara-negara tersebut biasanya memberikan persyaratan khusus skor IELTS dengan nilai tertentu untuk memastikan kemampuan berbahasa mereka telah komprehensif sehingga dapat mengikuti proses akademik dengan baik. Tes bahasa ini diketahui benar-benar menguras energi jiwa dan raga dalam pelaksanaannya, karena dapat dilaksanakan seharian atau bahkan dalam waktu dua hari bergantung penyelenggara. Lamanya waktu tersebut dikarenakan tes ini disajikan dalam empat skill berbahasa sekaligus, yaitu kemampuan mendengar (listening)¸membaca (reading), menulis (writing), dan berbicara (speaking).

Sayangnya, di negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris dan juga bukan pula sebagai negara bekas jajahannya seperti Indonesia, tes IELTS biasanya menjadi momok tersendiri bagi sebagian orang. Seremnya tentunya bisa mengalahkan elektabilitas ujian nasional, yang terkadang masih bisa lirik sana-sini dan comot jawaban dari teman sekitar. Dalam tes IELTS, hal ini mustahil bisa dilakukan atau kita memang sengaja ingin didiskualifikasi oleh penyelenggara tes. Tak ayal, tes ini membuat beberapa orang jera setelah hasil yang diperoleh tak kunjung mencapai target. Cerita dari seorang teman yang sudah memperoleh golden ticket dari beasiswa plat merah paling prestisius di seantero negeri Indonesia raya di bawah lembaga dana pengelola pendidikan yang dikelola oleh kementerian keuangan, ia belum mencapai target skor IELTS setelah mengikuti test untuk kesembilan kalinya. Sembilan kali tentunya merupakan angka yang fantastis, mengingat biaya tes ini tidak bisa dikatakan murah yaitu sekitar 195$ atau sekitar Rp 2.900.000 untuk saat ini. Sedangkan keinginan untuk menyerah saja, dan tidak mau melanjutkan pendekatannya dengan makhluk bernama IELTS ini bisa saja terjadi di kali kedua.

Advertisement

Menaklukkan makhluk bernama IELTS ini memang harus menggunakan strategi yang jitu, pas sesuai takaran diri masing-masing. Kita benar-benar diuji untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu sebelum menentukan metode yang tepat untuk kita pelajari. Pasalnya, tidak setiap metode yang diberikan oleh lembaga penyelenggara bimbingan IELTS ini sesuai dengan setiap orang. Hanya dengan satu bulan saja, seorang teman yang memang hobi membaca teks dan novel berbahasa Inggris, dia bisa mencapai target nilai yang diidamkan setelah mengikuti hanya satu kali real test saja, sedangkan ada orang-orang yang memang sudah mempertaruhkan bertahun hidupnya untuk mendedikasikan diri pada IELTS masih belum lolos juga. Di situlah memang letak uniknya. IELTS ini memang gampang-gampang susah untuk ditaklukkan. Khas perempuan kalo lagi PDKT. Gayanya memang jinak-jinak merpati, kadang ingin tapi tak ingin. Ya memang begitulah, kalau saja IELTS ini bergender, tentunya bisa dipastikan bahwa ia berjenis kelamin perempuan.

Keinginan untuk menyerah saja pastinya tiba-tiba datang setelah hasil tes IELTS untuk kali keberapa lagi-lagi masih jauh dari hasil yang ingin dicapai. “Mungkin belum jodoh”, sebuah alasan yang klise yang biasanya akan kita jadikan sebagai alasan ketika kita baru saja putus cinta, kemudian menjadi halal dijadikan sebagai alasan untuk melarikan diri dari zona perburuan IELTS. Keinginan tersebut tentunya harus segera kita pupus mengingat harapan kuat untuk menginjakkan kaki di pelataran kerajaan Inggris ini harus segera terealiasi. Bukankah ngopi-ngopi sambil diskusi yang biasanya dilakukan seminggu sekali di warung kopi dekat kampus akan menjadi lebih asyik lagi jika dilakukan di bawah patung Liberty. Juga, negaramu ini masih membutuhkan orang-orang cerdas dan kuat dengan ilmu yang diserap dari kampus-kampus ternama di belahan dunia yang tak diragukan lagi kualitasnya. Sebuah dedikasi dari generasi cerdas untuk membangun negerinya yang bukan hanya sekedar mimpi dan omong kosong belaka dan tidak hanya berhenti di konsep saja sedang dinanti oleh ibu pertiwi. Go ahead, jalan masih panjang. Mari perjuangkan!

Cerita tentang Thomas Alfa Edison, penemu bola lampu pijar, konon katanya ia gagal pada percobaannya yang ke 999, dan baru berhasil setelah kali ke seribu. Banyak versi memang cerita tentang berapa kali jumlah gagal Thomas ini dalam melakukan percobaanya. Tetapi, bisa dibayangkan dalam versi cerita yang ke 1000, kalo saja dia menyerah pada percobaan yang kedua saja, atau yang ke 250 saja, malam-malam panjang kita tentunya akan semakin romantis karena ditemani temaramnya lampu lilin dimana-mana. Candle light dinner kemudian tak lagi menjadi istimewa, karena hampir setiap rumah pasti melakukannya di setiap malam. Ya, meski saat ini teknologi perlampuan sudah semakin canggih saja karena adanya lampu LED yang diklaim lebih hemat energy. Bukan begitu, Thomas Alfa Edison membuktikan bahwa setiap keinginan dan harapannya harus diwujudkan dengan kerja keras yang sungguh-sungguh, telaten, dan tidak mudah putus asa. Bahkan majalah forbes pernah mencuplik pernyatannya yang sedemikian rupa, ia mengatakan :

Advertisement


“ I have not failed 10.000 times, I have not failed once. I have succeeded in proving that those 10.000 ways will not work. When I have eliminated the ways that will not work, I will find the way that will work”

Saya bukan gagal 10.000 kali. Saya tidak gagal satu kali pun. Saya berhasil membuktikan bahwa ada 10.000 cara yang keliru. Ketika saya telah mengetahui cara-cara yang keliru, akhirnya saya akan menemukan sebuah sebuah cara yang benar”


Inspirasi cerita diatas memang harus diingat oleh pejuang IELTS, tentang semangat untuk terus mencoba patut untuk diteladani. Berhenti sebentar, rehat sejenak dari bising dan hiruk pikuk target yang terus mengejar setiap harinya mungkin bisa jadi pilihan untuk mengevalusi diri dan menetapkan langkah ke depan, di saat lelah dan bosan hinggap tiba-tiba. Jiwa muda dalam diri pejuang IELTS yang tangguh tidak boleh dikalahkan begitu saja, dalam satu atau dua kali duka nilai official test IELTS yang belum mencapai target. Merayu sang pemilik wewenang kehidupan yang tengah mengatur takdir kita, bisa menjadi pelabuhan yang tepat ketika hati berniat ingin menyerah saja, karena kita tahu betul, bahwa Tuhan bukan hanya punya wewenang untuk membolak-balik hati saja, tapi juga pada skor IELTS. Ada baiknya berbisik di sepertiga malam dan meninggalkan semua atribut kejumawaan sebagai mahkluk patut kita lakukan. Sedangkan keputusan menikah sebagai pelarian, khas mahasiswa jaman baheula yang mentok dengan skripsi dan dosen killer harus jauh-jauh dari pikiran. Kita tidak pernah tahu bukan, real test keberapa yang akan mengantarkan kita pada tanah ratu Victoria, atau menjadi mahasiswa di University of Helsinki di Finlandia sambil mengembangkan bisnis jualan ronde di tanah bersalju itu dan memikirkan pencapaian cita-cita tentang Indonesia bebas Indomaret. Ya begitulah, karena pejuang IELTS jaman now, punya prinsip pantang target tidak selesai, pantang menyerah sebelum skor IELTS terlampaui. Kalau pejuang, hadapi!

(Didedikasikan untuk teman-temanku yang sudah pernah mencoba dan memperbaiki jalan perjuangannya, perjalanan masih panjang, yakusa!)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya