#BelajarDiNegeriOrang-Kisah Cintaku Pada Jerman yang Belum Tersampaikan

Jika saja aku bisa menimba ilmu lagi di Jerman, pada suatu hari nanti


Wie geht's? (Apa kabar?)

Advertisement

Bagaimana dengan hari ini?

Bagaimana dengan sekarang?

Masihkah aku menyimpan mimpi untuk ke negara yang pernah terbelah menjadi Timur dan Barat dengan batas tembok yang sekarang roboh itu? Jawabannya, ya! Tentu saja aku masih sangat menginginkan untuk #BelajarDiNegeriOrang yang dikenal orang-orang sebagai negara Jerman atau Deutschland itu.  


Sebelum aku memilih Jerman untuk melanjutkan kuliah, aku terpikat dengan bahasa yang mereka gunakan. Secara tidak sengaja di Sekolah Menengah Atas (SMA) aku bertemu dengan bahasa Jerman atau Deutsch sebagai mata pelajaran saat kelas 10. Aku nyaman memelajari bahasa, aku juga merasa bisa memelajari bahasa Jerman. Ketidaksengajaan yang berlanjut dan membuatku memilih jurusan bahasa sebagai penjurusan saat kelas 11 SMA. 

Advertisement

Selain memelajari bahasa, guru bahasa Jerman di sekolahku memberikan banyak pengetahuan budaya Jerman mulai dari cara makan dan minum, berpakaian, tata etika, pendidikan di Jerman yang ia bilang bagus, bahkan mengenai festival-festival yang diadakan di Jerman. Aku dan kawan-kawanku kelas bahasa juga berkesempatan untuk mengunjungi Goethe-Institut (tempat khusus untuk belajar mengenai Jerman atau dikenal juga sebagai pusat bahasa Jerman) sehingga memahami lebih jauh mengenai Jerman. 

Guru bahasa Jermanku tersebut pernah mengunjungi Jerman. Bukan hanya berkunjung sebetulnya, sebab beliau pernah tinggal lebih dari setahun saat masa kuliahnya dan mencicipi kehidupan di Jerman. Sekarang pun beliau membimbing siswa yang akan pertukaran pelajar ke Jerman, dan selalu mengiringi siswa yang berangkat ke Jerman.  

Advertisement

Guruku sangat terbuka akan pertanyaan macam-macam mengenai Jerman, tak lupa juga memberikan informasi terbaru mengenai kemungkinan beasiswa semasa aku masih diajar olehnya. Ia adalah sosok yang juga menginspirasiku untuk bertekad akan ke Jerman melanjutkan studi.  


Aku mengerti kita harus mengorbankan banyak pilihan dan menerima risiko dalam mengambil sebuah keputusan.


Begitupun saat akhirnya aku putuskan tidak dapat meneruskan kuliah S1 di Jerman karena aku diterima sebagai mahasiswa PTN di Indonesia. Yah, pergi ke Jerman untuk urusan studi pada masa itu jadi pilihan kedua apabila aku tak diterima lewat jalur apapun di universitas perguruan tinggi negeri di Indonesia. Meski demikian, Jerman masih jadi pilihanku untuk melanjutkan studi. 

Kadang jika ditarik atas pengalaman yang sudah-sudah, saat aku benar-benar terobsesi belajar di Jerman, aku jadi merasa ciut. Sebab obsesi rasa cinta tersebut tak dapat kuraih meski aku berjuang sekuat tenaga untuk itu. Tapi di antara kadang yang aku maksud tersebut, aku juga masih menyimpan mimpi untuk #BelajarDiNegeriOrang dan mungkin jika berkesempatan lebih lanjut bisa menikmati fasilitas yang aku dapat dari tergabungnya aku dalam Qatar Airways Student Club.

Keinginan untuk melanjutkan studi ke Jerman bertambah memuncak ketika aku kenal Gitasav, seorang vlogger yang belajar di Jerman dan memutuskan hidup di Jerman itu, memberikan banyak harapan hidup yang menarik selama ia di Jerman melalui video-video dan tulisan yang ia bagikan. Aku senang ketika influencer tesebut mengunggah video baru dengan pembahasan-pembahasan yang relevan dengan kondisi hidup masyarakat di Indonesia maupun isu global namun dibahasnya di Jerman.

Ini menandakan juga meskipun hidup di Jerman, negara asal bukanlah tempat kedua bagi mereka yang memutuskan merantau ke negeri orang dan serta-merta melupakan fenomena, dan menghilangkan  rasa nasionalisme negara asal. Bayanganku, jika aku berada di Jerman aku juga akan melakukan hal yang sama, tapi masih bayangan karena aku masih mengangan-angankannya.

Meski demikian, aku merasa masih memiliki kesempatan kuliah S2 di Freiburg, Jerman mengambil jurusan yang linier dengan S1ku. Aku meniatkan belajar di Jerman tak berarti sempit hanya belajar apa yang ada di jurusan yang aku ambil nanti, tapi juga belajar berdampingan dengan masyarakat Jerman atau bahkan masyarakat dari berbagai negara yang hidup di Jerman, nanti.

Sekali lagi meski semua itu bersifat nanti karena belum terjadi, sampai sekarang aku masih terus memperjuangkan untuk bisa ke Jerman dengan masih memelajari bahasa Jerman melalui aplikasi seluler belajar bahasa yang aku fokuskan pada bahasa Jerman. Akupun berbagi ilmu bahasa Jerman dengan melakukan tutor ke adik SMA yang sedang memelajarinya. Sehingga, dengan begitu aku tidak serta-merta melupakan impianku untuk studi ke Jerman dan tetap mengasah kemampuan berbahasa Jerman yang barangkali meskipun tak aku gunakan untuk belajar, bisa jadi aku melakukan perjalanan wisata ke Jerman. Bis später, Deutschland! (Sampai nanti, Jerman!).

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis, membaca, berkebun, dan beres-beres.

CLOSE