Benarkah Empati Seseorang akan Meningkat Setara dengan Banyaknya Pengalaman Buruk yang Dialami?

Menurut Hoffman, empati adalah kemampuan yang terjadi karena seseorang memiliki perasaan yang berhubungan dengan situasi dirinya sendiri. Empati dapat dikatakan terjadi secara spontan dan bukanlah hal yang disengaja dari individu, dalam arti lain mereka tidak memiliki kontrol untuk tidak merasakan empati di waktu-waktu tertentu.

Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa empati dapat terjadi secara spesifik dikarenakan seseorang dapat memposisikan diri mereka dengan peristiwa yang sedang terjadi di saat mereka merasakan empati. Oleh karena inilah banyak yang mengaitkan bahwa sebenarnya empati terjadi sebagai hasil dari pengalaman buruk seseorang.

Empati sendiri dapat muncul ketika seseorang memposisikan diri mereka secara langsung seperti saat peristiwa tersebut terjadi di depan mata mereka ataupun memposisikan diri mereka secara imajinatif seperti mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayalan atau fiksi dari sebuah cerita maupun film. Banyak pendapat yang muncul bahwa empati memang benar berasal dari peristiwa buruk seseorang, sehingga secara tidak langsung otak akan mengaitkannya dengan perasaan iba, sedih, dan emosional


Dalam jurnal yang ia terbitkan, Staub memaparkan pendapatnya bahwa empati diartikan sebagai perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain.


1. Penanaman pola pembiasan oleh orang tua sejak dini

Pembiasan sendiri dapat dikaitkan kepada empati dikarenakan pada saat anak-anak masih berusia dini orang tua kerap kali menanamkan sikap empati yang mendalam dengan harapan bahwa nantinya anak mereka memiliki tingkat kepekaan sosial yang baik. Dengan arti lain, orang tua sebenarnya ingin anak-anak mereka untuk senantiasa mengulurkan tangan kepada orang-orang yang membutuhkan sebagai hasil dari pembelajaran empati ini.

Selain sikap kepekaan sosial yang diharapkan tumbuh, orang tua juga punya tujuan untuk menanamkan role model imajinatif kepada anak mereka dengan seakan akan menggambarkan bahwa individu yang memiliki karakteristik baik dapat diterima oleh baik oleh masyarakat, termasuk empati itu sendiri.

Penanaman pemikiran akan role model baik dalam diri anak-anak sebenarnya tidak hanya diterima dari didikan orang tua saja, melainkan dari film yang ditonton anak sehari hari, seperti contohnya film bertajuk pahlawan super yang seolah-olah menginginkan anak untuk senantiasa berbuat baik, bahkan kepada mereka yang berbuat jahat. Kedua hal ini lalu menghasilkan sudut pandang kepada anak dimana mereka berpikir bahwa mereka wajib memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan, dengan hasil ketika mereka tidak mampu memberikan pertolongan, rasa bersalah lalu akan mereka rasakan.

Hal ini dapat dikaitkan dengan peristiwa yang mungkin mereka alami, mungkin saja disaat dimana mereka merasakan saat-saat hidup kurang mencukupi dan akhirnya mereka bisa saja memposisikan diri mereka lebih baik ketika melihat orang-orang dijalan yang kurang mampu. Dengan adanya penanaman prinsip yang diberikan oleh orang tua, rasa empati akhirnya akan menguasai anak hingga mereka dewasa sehingga akan adanya rasa bertanggung jawab untuk membantu.

2. Empati terbentuk lebih baik dibarengi dengan tingkat sosialisasi yang tinggi

Menurut Hoffman, individu yang semakin banyak dan semakin intensif melakukan sosialisasi maka akan semakin terasarh kepekaannya terhadap emosi orang lain, yang akan membuat mereka dapat terkoneksi secara pikiran tanpa harus berkomunikasi. Dalam hal lainnya, emosi yang dirasakan oleh orang yang peka akan membuat mereka memahami apa yang salah terhadap karakteristik orang yang mereka ajak berkomunikasi, mereka akan mengerti kesulitan yang dilalui oleh orang tersebut lebih baik daripada mereka yang tidak peka.

Peka secara empati juga membantu seorang individu untuk menjadi pengamat emosional dan situasi internal orang yang baik. Mereka bisa saja merasakan perubahan emosi secara mendadak atau mengerti situasi sulit seseorang, bukan secara semata-mata karena mereka berempati saja, namun dikarenakan mereka memposisikan diri mereka ke dalam situasi tersebut.

Lain halnya, empati dapat terasah dengan banyaknya pertemuan dengan kejadian serupa yang menjadikan mereka akan memproses kejadian ini dengan mengambil peran. Mereka akan lebih terbuka terhadap kebutuhan emosi orang lain, menghasilkan tingkat empati yang tinggi pada waktu-waktu tersebut.

3. Empati juga terbentuk dalam enam tahun pertama kehidupan anak

Sebagai contohnya, anak-anak yang memiliki masa kecil traumatis biasanya memiliki kepekaan empati yang sangat tinggi, terlebih pada mereka yang mengalami situasi serupa. Anak yang mengalami kekerasan dari lingkungan sekitar mereka selama enam tahun pertama hidup mereka biasanya berusaha memahami perspektif orang lain dengan baik walaupun memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Hal ini lalu ikut terbentuk ketika mereka bertumbuh ke dalam masyarakat, lalu dijadikan contoh penting agar mereka dapat menolong orang lain dengan kejadian serupa.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengalaman buruk tentu akan mempengaruhi rasa empati seseorang. Kejadian-kejadian yang mereka alami biasanya akan mereka posisikan ketika berhadapan dengan peristiwa serupa, menjadikan mereka merasa bertanggung jawab secara emosional terhadap individu lain.

Berbagai pengaruh tentu juga divalidasikan sebagai alasan utama berkembangnya rasa empati seseorang, seperti didikan lingkungan sekitar, bagaimana cara mereka bersosialisasi, dan juga pengalaman masa kecil seseorang. Jika disimpulkan, pengalaman buruk yang dialami seseorang memang dapat mempengaruhi tingkat kepekaan rasa empati mereka.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat buku dan perjalanan