Pernah nggak mendengar ungkapan “It’s easier to obtain than to maintain”? Atau gini, deh, pertanyaannya. Pernah nggak merasa bahwa mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan? Ini mencakup konteks secara luas, ya. Bisa itu prestasi, materi, atau bahkan doi.

Nah. Kalau jawabannya adalah iya, itu wajar aja. Rasanya setiap orang pernah merasakan hal itu. Mendapatkan sesuatu yang berharga aja udah senang banget. Apalagi kalau mendapatkan doi yang menyayangi kita sekaligus menerima kita apa adanya. Ya, kan? Itu sih anugerah besar namanya. Pertanyaan selanjutnya adalah, gimana sih, supaya bisa mempertahankan doi? Nggak mau kan, doi meninggalkan kita begitu aja? Kalau bisa dipertahankan, kenapa nggak?

Advertisement


Gampang, lah. Memperoleh cinta doi kan udah. Kenapa harus takut nggak bisa mempertahankan?


Loh, kata siapa? Terlepas dari doi yang menyayangi kita, kita juga tentunya harus memantaskan diri, dong. Dengan mencintai diri kita sendiri, contohnya. Percuma kalau mau mempertahankan doi, tapi nggak introspreksi. Kita sendiri pastinya tahu persis apa yang terbaik untuk diri kita sendiri, kan?

Misalnya?

Advertisement

Misalnya, nih. Kita nggak ingin doi berpaling, tapi kita malah berlaku posesif, melarang doi ini dan tu, mewajibkan doi memberi kabar satu menit sekali (misalnya) atau malah meminta semua kontak orang-orang terdekatnya? Satu hal yang harus diingat, kalau doi benar-benar sayang sama kita, doi akan memberikan perhatian terbaiknya pada kita, kok.


Beauty is not in the face; beauty is a light in the heart”-Kahlil Gibran.


Lalu, harusnya gimana?

Jangan bingung. Berusahalah yang terbaik. Tapi, jangan biarkan hubungan kita dengan doi datar-datar aja. Memang sih, terlalu posesif itu nggak sehat, tapi kalau datar-datar terus, nanti doi malah bosan dengan kita. Kayak penggalan lirik lagu Tulus berjudul Jangan Cintai Aku Apa Adanya di bawah, nih.


Jangan cintai aku

Apa adanya

Jangaaaaaaan

Tuntutlah sesuatu

Biar kita jalan ke depan


Mulainya dari mana, dong?

Dari diri sendiri pastinya. Dalam menjalani suatu hubungan, tentu harus ada tujuannya. Sebut saja dalam berpacaran, misalnya. Tujuan berpacaran mungkin bagi masing-masing pasangan memang berbeda-beda, tapi pada umumnya pacaran dilakukan pada usia remaja dan usia beranjak dewasa. Terlepas dari masalah usia maupun tujuan berpacaran itu sendiri, sadar nggak sih, bahwa sebenarnya berpacaran itu adalah bagian dari proses pendewasaan?

Lho, bukannya semua yang dialami oleh diri kita adalah bagian dari proses pendewasaan?

Betul. Tapi, mari kita coba teliti lebih dalam lagi. Pada masa pacaran, kita mengalami masa PDKT atau pendekatan, masa jadian, masa jenuh, dan terkadang hingga mencapai masa putus. Gimana kita memperlakukan keluarga dan sahabat ketika kita dekat dengan doi, jadian dengan doi, patah hati dengan doi, itu semua lumrah ditemukan pada proses pacaran, bukan? Di sinilah peran penting introspreksi untuk memantaskan diri bagi kita. Keasyikan pacaran hingga lupa dengan keluarga dan sahabat? Keasyikan memikirkan doi sampai lupa dengan prioritas kita untuk mengejar cita-cita? Jangan sampai itu semua jadi ‘bumerang’ yang bisa membuat kita menyesal di kemudian hari. Jadi, mari introspeksi dari hal terkecil sekalipun.

Tapi kan, semua butuh proses?

Pastinya. Memantaskan diri juga kebutuhan, kok. Kenapa kebutuhan? Karena kita sendiri yang tahu apa yang terbaik bagi hubungan kita dengan doi. Menjadi dewasa itu, dalam hal pacaran atau hubungan apa pun, memang alangkah baiknya bila kita dan doi sama-sama memantaskan diri. Sama-sama introspeksi. Mengaku salah bila memang salah. Memberitahu kesalahan bila memang ada yang salah. Berterima kasih bila diberi masukan. Mengesampingkan ego. Memprioritaskan harmoni hati dan pikiran (haha bahasanya agak lebay). Tapi, memang begitu kok hubungan yang seharusnya.

Jadi, gimana nih supaya doi nggak berpaling?

Jadi diri sendiri. Nggak perlu dandan menor supaya benar-benar diperhatikan atau meniru gaya berpakaian orang lain dari ujung kepala hingga ujung kaki atau sering kebut-kebutan di jalanan biar dianggap cool sama doi atau lain sebagainya. Cukup jadi diri sendiri sekaligus ajak doi untuk sama-sama meningkatkan kualitas hubungan. Yaa misalnya cari-cari cara kreatif supaya hubungan kita dan doi lebih berwarna. Sering-sering ajak keponakan atau orang tua kalau nge-date, misalnya. Sama-sama belajar bahasa asing supaya orang-orang di sekitar nggak terlalu mudeng dengan apa yang kalian bicarakan. Atau dengan sering-sering menjalani kegiatan amal bareng-bareng. Banyak cara, kok untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan doi.

Kalau misalkan selera kita dengan doi cukup berbeda jauh?

Di situlah pentingnya harmoni. Berbeda bukan berarti yang lain nggak bisa berbaur, kan? Kita belajar menekuni hobi doi atau sebaliknya, atau dengan menentukan hobi baru. Kalau kita dan doi udah nemu hobi yang klop apalagi yang berbau positif, wah, itu wajib alias harus alias mesti dipertahankan.

Kalau sekarang lagi ada masalah dengan doi, kita harus gimana?

Selesaikan baik-baik. Kalau butuh waktu, biar saja sampai emosi masing-masing surut. Masalah nggak akan surut bila diselesaikan dengan emosi. Kalau kepala kita dan doi sama-sama dingin, masalah akan bisa terselesaikan dengan baik. Ibarat berkaca di air yang nggak tenang. Jadi, masalah sekecil apa pun, tetap harus diselesaikan baik-baik.

Pelajaran penting apa sih, yang bisa didapat dari berpacaran?

Banyak. Pelajaran yang penting dari yang terpenting tentunya pendewasaan diri. Dengan berpacaran, kita dan doi nggak hanya berkomitmen, tapi juga mengenal lebih akrab satu sama lain, belajar memahami satu sama lain, mengetahui hobi satu sama lain, memiliki prioritas satu sama lain. Kalau masing-masing masih dikuasai ego atau gengsi atau semacamnya, itu justru akan mempersulit proses pendewasaan satu sama lain. Biasanya sih kalau yang satu sensitif, yang lainnya kalem. Yang satu agak egois, yang satu pengalah. Ini bisa dilihat dari berbagai kondisi juga. Semakin fleksibel sifat kita dan doi, semakin kita bisa saling memahami dan mengerti.

Maksud fleksibel di sini gimana?

Fleksibel, artinya kita dan doi masing-masing tahu kapan harus mengalah, kapan harus mempertahankan pendapat, kapan harus mendahului prioritas lain, kapan harus memprioritaskan satu sama lain, dan lain sebagainya. Yang satu sedih, yang lain menenangkan. Yang satu gembira, yang lain mendoakan. Dan begitulah seterusnya.

Jadi, mempertahankan doi lebih sulit daripada memperoleh, ya?

Mempertahankan nyaris selalu lebih sulit daripada memperoleh, termasuk mempertahankan doi. Tapi kalau udah menjadi yang terbaik, sering introspeksi, saling memahami satu sama lain, tinggal berdoa aja pada Tuhan agar hubungan kita dan doi bisa sampai ke jenjang yang lebih serius lagi.

Kalau udah berada di tahap yang benar-benar serius? Apa masih perlu proses pendewasaan?

Kalau sudah serius bukan berarti nggak dipertahankan, dong? Yang pasti, itu harus disyukuri. Dan proses pendewasaan (batiniah) dialami kita semua hingga kita menutup usia. Jadi, betapa pentingnya mempertahankan itu.

Jadi, intinya?

Santai dalam menjalankan hubungan, jadi diri sendiri, terima doi dan pahami doi, dan jangan lupa berdoa pada Tuhan agar hubungan kita dan doi akan terus langgeng karena ya, mempertahakankan lebih sulit daripada memperoleh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya