Awal Agustus 2020 rasanya berat sekali tinggal menghitung jam akan berpisah dengan kekasih berkali-kali menanyakan jam berapa sekarang, waktu terus menunjukkan sebentar lagi mobil yang mengantarkan mu berangkat akan datang.
Kami duduk bersebelahan dalam diam,bukan berarti tidak nyaman atau bertengkar, karena setiap menghawatiranya menyadari kebersamaan kalian tidak lama lagi. Terdengar suara mobil menjemputnya, rasa khawatir itu semakin nyata, genggaman tangan kalian semakin erat,wajah gelisah semakin tampak. Kecupan ringan mendarat di kening. Air matamu menggenang yang entah kapan datangnya.Â
Bagi sepasang kekasih, jika boleh memilih pasti inginya tidak jauh-jauh dari pasangannya. Meski tidak 24jam, setidaknya bisa melihat setiap hari. Tak butuh waktu khusus tak butuh waktu lama menunggu. Apalagi kalau rindu bukannya romantis-romantisan malah uring-uringan semua orang tahu obat rindu itu ketemu.
Hal-hal klasik biaya-biaya eksta yang harus dikeluarkan,menyusun jadwal kapan ketemu bukan jadi hal yang asing. Pasangi lain yang misalnya butuh 50 ribu buat ongkos ketemu, sementara pasangan LDR harus mengeluarkan 500 ribu- 1 jtan untuk sekali jalan. Nggak ada yang maksa buat LDR, nggak ada yang minta kamu susah payah cari duit jauh-jauh. Tapi semua hubungan pasti punya kompromi masing-masing. Bagi pasangan yang jarak jauh bukan halangan yang nggak bisa ketemu.
Disaat pasangan lain bisa ketemu kapan saja, kamu dan dia harus menghitung dan mencari celah waktu untuk menuntaskan rindu. Kala orang lain mendapatkan pelukan, kamu harus tabah menunggu beberapa saat agr bisa merasakan rengkuhnya kembali. Ternyata menjalani hubungan jarak jauh rasanya menyebalkan. Belum lagi saat rindumu datang bercampur emosi rasanya sangat uring-uringan.Yang namanya LDR pasti ada aja ujian yang datang. jangankan LDR, yang menghirup udara di kota yang sama aja pasti ada aja cobaanya.
Menurut sebuah penelitian… Disebutkan bahwa pejuang LDR itu merupakan orang-orang yang terkenal tangguh dan berhati baja. Setiap ngomongin LDR tidak jauh dari kata setia menjaga perasaan dan kasih sayang mereka walaupun dipisahkan jarak ratusan kilometer. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari para pejuang LDR yang belajar kesetiaan,kejujuran,komitmen,dan belajar ngeles ke pacar dengan bilang siap-siap mau tidur padahal belum mau tidur.Â
Sebenarnya LDR yang aku alami tidak beda dengan orang-orang lain yang ngejalanin LDR, sama-sama jarang ketemu, sama-sama cuma bisa lihat wajah pacar di Vidio call, sama-sama jadi budak data dan WiFi. Tapi ada satu hal yang membedakan LDR kami dan LDR orang diluar yaitu MASISIR (mahasiswa yang kuliah di luar negri atau bekerja duluar negri).Â
Yang berada di kasta tertinggi dalam dunia perLDRan. Kasta tersebut ditentukan dari seberapa jauh jarak LDR. Hal ini didasari oleh sebuah teori semakin jarak jauh pasangan membuat intensitas pertemuan semakin sedikit dan semakin sedikitnya pertemuan yang terjadi membuat makin banyak cobaan yang silih berganti.
Tingkat keberhasilan pasangan LDR memang kecil dan ngak semua yang ngejalanin LDR berakhir bahagia. Namun, kalo seseorang sudah berani ngejalanin LDR secara nggak langsung dia udah belajar banyak hal. Soalnya LDR tu unik kesetiaan menjadi pondasi, kepercayaan menjadi bangunannya, prasangka baik menjadi pilarnya, menghargai menjadi interiornya, dan pertemuan menjadi naungannya. Cuma orang tanggung yang bisa ngejalanin LDR kaya aku.
Ya, walaupun setia kalah dari yang selalu ada, tapi kalo mau ngejalanin hubungan LDR yang bisa memupuk rindu hingga tunggu saatnya waktu memanen.
Dan tunggulah aku memecahkan celengan rindu dan berboncengan bersamamu mengelilingi kota menikmati Surya perlahan menghilang hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukanku lalu kita kembali manabung rasa rindu saling mengirim doa, sampai nanti sayangku.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”