#BeraniWujudkanMimpi-Mewujudkan Diri dan Sebaya Tangguh Berdaya Hadapi Pandemi

Pemuda dan Pandemi


Sebelum jauh bertutur tentang mimpiku, kurasa tepat bila mengemukakan terlebih dahulu tentang penyebab aku bermimpi. Mimpi yang mungkin terasa ganjil di masa normal. Namun, mendadak masuk akal ketika pandemi berbulan mendera negeri dan menyebabkan kemunduran di nyaris seluruh sendi kehidupan.


Advertisement

Mimpiku berawal ketika, sejak 16 Maret 2020, seluruh lembaga pendidikan diminta menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka konvensional serta mengalihkannya menjadi pembelajaran berbasis daring memanfaatkan berbagai platform pembelajaran online maupun aplikasi layanan konferensi video. Kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), dimana aku menjabat sebagai Ketua Umum, pun terhenti. Kami tak dapat lagi mewadahi bakat seni dan semangat kompetisi melalui pentas megah. Kami tidak bisa lagi memberi makna bagi warga sekitar sekolah melalui pengobatan gratis dan aksi berbagi barang kebutuhan pokok. Kami semua kaget dan kebingungan dihadapkan pada situasi pandemi yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Dalam lamunan di sela-sela belajar dari rumah, aku sering bermimpi tentang diri dan sebayaku. Aku sering bermimpi mengenai ketangguhan yang seharusnya kami miliki demi menghadapi pandemi. Aku acap bermimpi tentang kontribusi yang bisa kami berikan di tengah pandemi agar deraan segera enyah dan kehidupan kembali pulih. Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk #BeraniWujudkanMimpi.

Setelah bermusyawarah bersama Pembina dan pengurus OSIS lainnya yang seide, keberanian mewujudkan mimpi kian berkobar. Maka, kami pun mengawali dengan mencoba menggelar web seminar sederhana. Dalam kegiatan dimaksud, kami gigih menyebarluaskan pemahaman bahwa Covid-19 adalah penyakit menular akibat jenis Coronavirus yang baru ditemukan; gejala-gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan rasa lelah;  sekitar 1 dari 5 orang yang terinfeksi COVID-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernapas; orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis penyerta seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru-paru, diabetes, atau kanker memiliki kemungkinan besar mengalami sakit lebih serius; hingga betapa COVID-19 dapat menyebar terutama dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar saat orang yang terinfeksi COVID-19 batuk, bersin, atau berbicara.

Advertisement

Sebagai penyemangat bagi Generasi Z yang gemar belajar serta toleran dengan perbedaan kultur, yang tak selamanya identik dengan etnisitas, melainkan dapat pula merujuk pada keberagaman agama, kami melibatkan guru mata pelajaran Pendidikan Agama guna mengangkat kiat menghadapi pandemi Covid-19 dalam perspektif berbagai agama. Guru Pendidikan Agama Islam, misalnya, mengangkat pesan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya agar tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi, jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).   

Adapun guru Pendidikan Agama Kristen mengingatkan bahwa, dalam situasi dunia yang tidak menentu dan sedang dilanda wabah virus Corona, umat Kristen bisa saja berhadapan dengan kesulitan, kesesakan, sakit penyakit, bahkan kematian, tetapi seharusnya tidak panik dan takut menghadapi ancaman kematian, karena sadar bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam dan melalui semua manusia guna mewujudkan rencana dan kepentingan kerajaanNya.

Advertisement

Tak cukup hanya kata, melainkan harus disertai karya. Tak cukup cuma memahami, melainkan mesti diikuti dengan tekad berkontribusi. Maka, web seminar pun ditindaklanjuti penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Apakah lantas berpuas hanya dengan melindungi diri sendiri? Tentunya tidak demikian.

Maka, aku memulai kampanye protokol kesehatan di Dusun Kreatif, suatu lokasi wisata yang sering dikunjungi oleh sebayaku. Di sana, aku mencoba mengajak pengunjung mencuci tangan dengan 7 langkah (basahi tangan dan tuangkan atau oleskan produk sabun di telapan tangan, tangkupkan kedua telapak tangan dan gosokkan sabun, letakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dengan jari yang terjalin dan ulangi untuk sebaliknya. letakkan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri dengan jari saling terkait, tangan kanan dan kiri saling menggenggam dan jari bertautan agar sabun mengenai kuku dan pangkal jari, gosok ibu jari kiri menggunakan tangan kanan dan sebaliknya, gosokkan jari-jari tangan kanan yang tergenggam di telapak tangan kiri dan sebaliknya, barulah bilas dan keringkan) sebelum memasuki kawasan.

Saat berada di kawasan, sesering mungkin aku mengedukasi sebaya tentang cara mengenakan masker yang benar. Tak lupa aku mengingatkan sebaya yang masih menggunakan masker berbahan scuba atau buff bahwa keduanya tidak efektif melindungi pemakai dari penularan Covid-19 sebab hanya terdiri atas satu lapisan, tidak dapat menghentikan droplet air yang keluar dari mulut saat berbicara, mudah meregang sehingga membuka kerapatan pori kain, serta memiliki kemampuan filtrasi amat rendah. Sebagai gantinya, saya memberikan masker kain 3 lapis yang kami buat bersama dengan memanfaatkan dana di kas OSIS.

Di waktu luang, aku bersama pengurus OSIS lainnya menyempatkan menggarap Project Hoax Buster. Dalam hal ini, terlebih dahulu kami tekun mencermati berbagai sumber terpercaya mengenai Covid-19, seperti panduan dan pelatihan literasi Covid-19 (https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id), informasi penanganan Covid-19 oleh Gugus Tugas (https://covid19.go.id/), juga saran-saran menghadapi Covid-19 (https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus), sehingga siap meluruskan kesalahpahaman tentang Covid-19 di kalangan kelompok sebaya serta menyebarluaskan bantahan terhadap berita palsu ataupun hoaks terkait Covid-19 melalui berbagai social media (Facebook, Twitter, Instagram). Selain itu, kami pun bergiat mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai program vaksinasi yang akan dilaksanakan pemerintah supaya dapat membantu mengkampanyekan pentingnya vaksin di kalangan sebaya, sekaligus berusaha melenyapkan prasangka maupun antipati yang mungkin berkembang.

Saat ini, kami sedang mempelajari pembuatan lauk-pauk beku (frozen foods), kudapan tradisional, ataupun jenis makanan lainnya. Sebagian pengurus OSIS sedang berjuang pula agar menguasai khasiat beragam tanaman yang bisa dimanfaatkan guna memulai usaha jamu racikan guna meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkal Covid-19. Hasil usaha tersebut kelak ingin kami manfaatkan untuk membantu sahabat-sahabat yang orangtuanya terdampak pandemi.

Inilah upayaku untuk #BeraniWujudkanMimpi. Semoga dengan diri dan sebaya berdaya tangguh, pandemi dapat terkendali dan secepatnya teratasi. Ketika itu, Indonesia akan secepatnya pulih dan bangkit menggapai kemajuan yang menjadi harapan bersama seluruh masyarakat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saat ini merupakan siswa kelas XI IPA 4 di SMA Swasta Harapan Mandiri, Medan. Kegemaran menulis dan berorasi telah membuahkan hasil berupa Juara Favorit Kompetisi Artikel BISNIS MUDA (2020); Juara Favorit Kompetisi Vlog HIMASIERA IPB University (2020); Juara II Kompetisi Vlog Tani Center IPB University (2020); Juara Harapan Lomba Esai HUT PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Ke-28 (2020); Juara I Lomba Menulis Cerpen Nasional IMPKA (2020); serta Juara I Kompetisi Narasinema dari Republika dan Puspeka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2020).

CLOSE