#BeraniWujudkanMimpi-Menuangkan Mimpi dalam Semangkuk Kehidupan.

Mimpi itu misi!

Mungkin kami dulu adalah mangkuk. Terjajar rapi dalam etalase kaca rumah makan ataupun di gerobak-gerobak para pedagang. Mungkin pula karena di luar hujan, mangkuk-mangkuk itu nyaris tak henti-hentinya disantap siapapun sesuka hati. Tapi, entah bagaimana, meski lembaran rupiah mengibas senyum para penjaja, mangkuk kami makin bergetar. Menumpahkan sedikit kuahnya atau malah memecahkan segalanya.

Advertisement

Semasa sekolah dulu, saya mendapati ribuan kata berbaris menggambarkan anak-anak yang tidak bisa berjalan, berpikir atau bahkan membayangkan bentuk gajah hanya karena kekurangan nutrisi. Susu bubuk adalah hal kecil pertama yang hilang karena perang saudara, dan jika orang tua mereka cukup beruntung menemukannya- susu bubuk itu telah berubah warna, dipenuhi kutu, dan berbau tengik karena waktu pengiriman yang lama.  Berkat buku “Totto-chan's Children: A Goodwill Journey to the Children of the World” karya Tetsuko Kuroyanagi, saya memimpikan diri untuk dapat berkiprah di dunia pangan: membuat inovasi makanan untuk memerdekakan kebodohan.

Ketika saya berkesempatan untuk kuliah di jurusan pangan, saya berkenalan dengan kawan jurusan lain yang memuji aroma roti panggang hasil praktikum kelas saya. Saya memberinya sampel roti praktikum. Menurutnya, roti panggang itu hal terbaik sepanjang hidupnya. Saya sangat menyesal karena baru mengetahui bahwa kini dia telah berpulang di balik puluhan kardus mi instan yang membuatnya menderita kanker usus stadium empat.

Mengisi hari perkuliahan, saya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kesukarelawanan. Pernah suatu waktu saya menjadi pelatih pramuka putri tingkat sekolah dasar (SD) di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Di sela-sela waktu mengajar, saya iseng bertanya tentang cita-cita mereka di masa depan. Saya cukup tertegun karena hampir seluruh murid menjawab bahwa mereka tidak mengetahui tentang impian masa depan mereka. Mereka hanya mengatakan bahwa ibu-ibu mereka terpaksa dikirim ke negeri asing untuk dijadikan buruh migran demi mencukupi keuangan keluarga. Jika mereka terlahir sebagai perempuan, maka kemungkinan besar masa depan mereka juga serupa dengan ibu-ibu mereka.

Advertisement

Selepas mengajar, saya masih memikirkan bagaimana mengatasi nasib malang anak-anak ini. Pandangan saya tercekat tatkala melihat jalanan desa dipenuhi buah rambutan busuk yang sangat mencemari lingkungan. Fenomena ini terjadi karena keberlimpahan buah rambutan tak diimbangi dengan wawasan pengolahannya, Saya menginisiasi gagasan dan mengajak beberapa kawan untuk mengakomodir pelatihan pangan bagi seluruh ibu-ibu di desa tersebut. Kami mengajarkan pengolahan buah rambutan dengan prinsip nol limbah. Kami memproduksi selai daging rambutan, teh kulit rambutan, dan keripik biji rambutan. Saya dan kawan-kawan hanya berharap upaya ini dapat menjadikan ibu-ibu di desa selalu dekat dengan anak-anaknya.

Lalu, ketika saya menilik krisis global yang terjadi sekarang, maka muaranya juga tak akan jauh dari persoalan makanan. Bayangkan saja, hanya dari sebuah makanan, dunia bisa lumpuh seketika. Pandemi korona terjadi sebagai akibat kelalaian segelintir masyarakat terhadap aspek keamanan pangan. Kita begitu abai dan candu melakukan eksploitasi terhadap makanan liar. Padahal, ketika vaksin belum kunjung diproduksi, makanan sehat (pangan fungsional) dan pola konsumsi kita lah yang menjadi salah satu tameng dalam pertempuran melawan bandit-bandit korona.

Advertisement

Seluruh memori kepahitan tentang pangan ini menyadarkan saya bahwa mimpi atau impian itu bukan hanya soal profesi, namun juga sebuah misi. Saya belajar banyak bahwa makanan tak pernah tersegmentasi. Saya melihat bagaimana semuanya terhubung melalui makanan. Makanan adalah senjata melawan kebodohan, penyakit, kesengsaraan, kerusakan lingkungan, bencana global, dan banyak lagi.

2020 adalah tahun yang saya putuskan untuk memimpikan sesuatu yang besar: saya ingin menjadi wirausahawan sosial pangan. Berinovasi bersama warga di daerah untuk menciptakan produk pangan yang bermutu, sehat, bergizi, aman, dan berbasiskan lingkungan yang berkelanjutan demi menyongsong ekonomi hijau pasca pandemi. Saya dan sekelompok warga akan mengeksplorasi keragaman bahan lokal nusantara dan menuangkannya dalam setiap produk pangan yang kami jual. Tak kalah pentingnya, produk pangan ini harus mampu menyentuh seluruh segmen masyarakat baik itu anak-anak, kaum muda, dan orang lansia sekalipun.  

Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang panjang. Untuk mencapai impian saya ini, setidaknya saya harus memulai dengan #BeraniWujudkanMimpi. Saya perlu menguraikan langkah-langkah strategis di satu tahun mendatang. Langkah-langkah ini termasuk mengidentifikasi masalah pangan di daerah sekitar saya, terlibat dalam organisasi pangan berkelanjutan, mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan, membaca lebih banyak literatur dan penelitian sembari mengumpulkan sumber dana untuk memulai usaha sosial pangan ini. Jika saya bisa menaklukkan langkah-langkah ini, saya berharap akan berhasil berbagi semangkuk kehidupan bagi sesama.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE