#BeraniWujudkanMimpi-Tinju Itu Personal Branding Saya!

Everything Starts From Boxing!

Ting, Ting!

Advertisement

Ketika kamu mendengar bunyi bel ini pasti yang terlintas di benakmu adalah satu olahraga yang sarat dengan kekerasan yaitu tinju. Ya olahraga adu jotos ini langsung membuatku jatuh cinta. Saya melihat olahraga ini seperti sebuah seni dimana kedua petarung melontarkan transaksi pukulan satu sama lain dengan teknik dan kekuatan yang mumpuni untuk menumbangkan lawan mereka.

Berawal pada tahun 1999, dimana aku menonton pertandingan tinju  untuk pertama kalinya di televisi. Masih segar di ingatanku ketika salah satu televisi di tanah air menayangkan laga pertandingan tinju perempuan untuk pertama kalinya, Laila Ali vs Kendra Lenhart. Dua perempuan ini tak hanya beradu fisik tetapi menunjukkan kepada dunia kalau perempuan bisa bertarung layaknya lelaki,  mematahkan stigma, women also can fight!

Apalagi petarung yang tampil itu menggunakan nama besar Muhammad Ali, yang pasti dalam segi market nama olahraga ini langsung berkibar dan berkembang pesat. Saking cintanya dengan tinju, saya langsung mencari beberapa manga yang beraliran sama. Hasilnya hanya sedikit. Kalau pun ada kadang tak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Imajinasi dan isi hati terus memberontak untuk membuat cerita dengan tema yang sama.

Advertisement

Perjalanan pun dimulai, membuka lembaran baru. Di tahun 2017 untuk memecahkan kesemuan mengerjakan skripsi, saya langsung menulis cerita tersebut mempublikasiannya ke aplikasi menulis digital yaitu wattpad. Selain itu, saya terus belajar bagaimana menulis cerita yang baik sesuai dengan kaidah KBBI. Beberapa teman pun saya hubungi untuk berdiskusi dan menilai tulisan saya. Disitu saya mengambil beberapa poin masukan agar saya bisa mengembangkannya sendiri. 

Mengembangkan dan mengenalkan sebuah tema pun tidaklah mudah, jatuh bangun pun saya hadapi. Tak ada pembaca dan minim respon pun saya terima. Sedih ya pasti karena peminat pembaca lebih menyukai genre romance, teen romance, dan sebagainya. Saya tidak patah semangat dan masih menganggap di berbagai belahan bumi pasti ada yang suka genre yang saya tampilkan.

Advertisement

Kemudian saya mencoba peruntungan untuk mempublikasikannya ke storial.com. Beberapa pembaca pun datang dan memberikan jempolnya kepada saya. Tetapi cerita indah itu tak berlangsung lama, ada seseorang tanpa diundang mengomentari sesuatu yang menurut saya tidak logis. Padahal dia juga penulis baru dan dengan beraninya singgah menginjakkan kaki ke “rumah orang” dan mengejek.

          “Ih kok suka banget sama tinju. Suka kekerasan ya? Pasti ga waras.”

          “Nanti digebuk suaminya baru tahu rasa loh!”  

Awalnya saya berpikir kalau orang yang datang ke laman saya dan berkomentar seperti itu mungkin dia terbawa suasana dengan cerita yang saya ciptakan. Atau mungkin kualitas ceritanya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tetapi lambat laun banyak sekali yang berkomentar serupa.  Saya pun menjadi tertantang untuk menganalisis lebih jauh apa itu boxing dan mengapa tak seharusnya ditentang.

Ternyata tinju tak seperti yang mereka katakan. Akurasi, teknik, pertahanan yang kuat dan pengalaman merupakan bekal utama yang dibutuhkan oleh seorang petinju. Kemudian yang lebih seru adalah adanya politik sebagai bumbu permainan. Penentuan lawan tak semudah yang dibayangkan. Salah satu contohnya adalah laga Floyd Mayweather kontra Manny Pacquaio di tahun 2015, padahal jika ditelisik lebih jauh butuh sekian tahun untuk merealisasikan hal itu. Masalah doping yang dialami Pacquaio hingga tipisnya sarung tinju Mayweather, tak sesuai dengan aturan pertandingan masih dipertanyakan sampai saat ini.

Jika diteliti lebih dalam, sebenarnya tinju bukanlah kekerasan.  Ada kekerasan lain yang lebih krusial dan perlu diberi perhatian yang besar, seperti KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), perkelahian antar pelajar dan lain sebagainya.  Lantas jika boxing saja dicap sebagai olahraga yang dianggap tidak manusiawi, pertanyaannya adalah mengapa orang tidak berani konsen ke ranah kekerasan yang sebenarnya? Saya percaya kalau setiap manusia punya sisi kekerasan, bedanya adalah beranikah orang itu menempatkan sisi hewaninya pada tempatnya atau tidak? Kalau melakukan di lain tempat, maka harus siap berhadapan dengan sanksi hukum yang berlaku. Namun jika bisa bertanding di ring secara legal,  saya rasa yang dijunjung tinggi bukanlah pelampiasan tetapi sportivitas dan ketahanan fisik dari atlet itu.

Ya memang ada beberapa kejadian yang tak mengenakan sering dialami oleh para atlet seperti meninggal ketika bertanding. Tetapi sepengetahuan saya tidak ada sanksi hukum yang menjerat atlet yang mengkanvaskan lawan itu. Jadi boxing murni olahraga dan kompetisi, jadi kalau ada yang bilang boxing itu hanya kekerasan, menurut saya pendapat itu tidak relevan.  Polarisasi pemikiran inilah yang membuat keberadaan dan produktivitas tinju di tanah air kurang terekspose dengan baik.

Jadi begitulah hasil research saya untuk tetap terus berada di jalur ini. Walau saya masih memaklumi ada beberapa orang yang tak sependapat dengan apa yang saya paparkan. Tak masalah, bagi saya pro dan kontra itu biasa, yang berbeda adalah bagaimana menyikapi suatu permasalah disertai dengan fakta ilmiah. Itulah prinsip yang selalu saya pegang. Tanpa fakta, saya tidak akan bisa menarik intisari dan mengambil keputusan.

Tahun 2019, saya menerbitkan novel yang dijual di guepedia.com yang berjudul Black Rose: Vengenance On My Mind. Saya melakukan hal itu karena sempat mengalami sakit hati karena plagiasi dan paraphrasing. Oleh karena itu solusi untuk tidak kecolongan lagi adalah mempatenkan karya tersebut menjadi seutuhnya milik saya.  Kemudian saya tak patah semangat dan terus menelurkan beberapa karya yang masih ditampilkan di aplikasi menulis digital seperti Courage (2019) dan Sweet Revenge (2020). Selain itu saya juga menulis beberapa review pertandingan tinju di blog pribadi, dan juga kompasiana. Berbagai analisa tersebut saya tuangkan yang tak hanya sekedar mengabadikan tetapi juga sebagai bentuk kampanye dan melihat boxing sebagai sesuatu yang berbeda.

Alhamdulillah selama hampir tiga tahun melangkah, saya diterima seleksi Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) III yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Sebuah musyawarah dan perkumpulan penulis se-Indonesia yang diseleksi lewat kualitas karya. Saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu yang penulis terpilih mewakili provinsi DKI Jakarta untuk pertama kalinya.

Semenjak itu semangat saya untuk berkarya semakin berkibar.  Keraguan pun menghilang dan tambah giat untuk membuat sesuatu yang berbeda. Sebagai penulis pemula pada umumnya memiliki cita-cita agar karyanya bisa diterbitkan ke layar lebar dan dapat dikenal publik secara luas. Saya tahu perjalanan menuju keemasan itu tidaklah mudah, butuh berbagai usaha dan proses untuk meraih kemenangan itu. Oleh karena itu saya tak akan menyerah untuk terus berproses, menghadapi semua rintangan yang ada. Because boxing is my personal branding, baby!      

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE