Finung sangat penasaran dengan pemikiran aneh yang keluar dari kakaknya hari ini. Finung melihat kakaknya beristirahat sepulang dari sawah.

Amang mengambil gelas dan kopi kesukaannya. Diseduh dengan air panas yang diambil dari atas tungku yang mengobarkan api dari kayu bakar.

“Amang.” Panggil Finung. “Aku boleh ganggu sebentar nggak kak?” Tawar adiknya.

“Ya silahkan. Kamu duduk disini saja.” Amang berbaik.

“Ya, aku sambil tiduran ya?” Menyiapkan bantal yang sudah mulai bau apek. “Amang. Aku ingin dengar kakak ngomong tentang kehidupan dong. Aku saat ini kebingungan mau dengar nasehat saja dari pada aku berdiam diri di dalam rumah.”

Advertisement

“Oke baiklah dek.” Amang menyetujui kemauan adiknya. “Kehidupan ini tidak dihadapan Dunia. Kita tidak menghadap Dunia.”

“Maksudnya?” Finung penasaran.

“Tapi kita menghadap yang menciptakan Dunia dan yang menciptakan kita.” Amang menyerut kopi hitamnya. Masih panas sekali. Sedikit menyegarkan gairahnya untuk ngomong basa-basi dengan adiknya.

“Ya. Teruskan kak jangan satu dua kalimat saja. Itu mah bukan nasihat kalau satu sampai dengan tiga kalimat. Itu namanya Quotes.” Finung menagih lebih banyak.

Quotes itu apa? Saya tidak tahu.” Amang sepertinya ketinggalan perkembangan kosa kata.

“Sudah lupakan saja kak. Teruskan yang tadi.” Finung kembali memfokuskan obrolannya.

“Tadi sampai mana?”

“Kehidupan tidak dihadapan Dunia. Kita tidak menghadap Dunia.” Finung mengingatkan.

“Baiklah aku akan jelaskan. Kemanapun kamu berjalan di Dunia ini sejatinya kamu selalu berhadapan dengan Tuhan. Jika kamu berbuat baik padaku saat itu juga di hadapan Tuhan kamu berbuat baik.”

“Maksudnya bagaimana? Ini ilmu apa kok bisa begitu?” Finung mengagumi dan bertanya-tanya atas kalimat kakaknya.

Ia mengambil sebatang rokok kretek yang didapatkannya saat buruh di kebun tetangganya. Hembusan asap dari mulutnya mengganggu kakaknya.

“Anjing.” Amang terhenti batuk-batuk karena asap rokok adiknya.

“Eh kok kakak kamu ngomong kasar ke aku.” Bentak Finung.

“Eh kakak itu tidak bermaksud ngomong kotor ke kamu. Aku hanya terhenti ngomong karena asap rokokmu membuat aku batuk.” Amang menenangkan keadaan.

Finung mematikan rokoknya. “Oh ya aku minta maaf kak. Teruskan kak.”

“Anjing juga perlu diberikan rasa kebaikan, rasa sayang, dan bahkan rasa cinta. Tuhan mengajarkan kita kasih dan sayang, karena itu kita harus berbuat kasih sayang kepada setiap makhluk Tuhan. Anjing itu ciptaan Tuhan, hidup dengan manusia, bersatu dengan alam. Maka ketika Anjing itu kelaparan maka kita sebagai makhluk Tuhan yang berdampingan dengannya, Anjing harus ditolong, di berikan makanan. Maka saat itu kamu berhadapan dengan Tuhan. Tidak ada satupun yang luput dari perhatian Tuhan. Itulah yang aku sebut sebagai kehidupan ini tidak dihadapan dunia tapi hidup di hadapan Tuhan.” Amang mengangkat segelas kopinya.

“Aku mulai tergambarkan tentang hal ini kak. Ternyata kepada apapun kita berbuat kebaikan sebenarnya saat itu juga kita berbuat baik kepada Tuhan. Maksudku menghadap Tuhan.”


Ya benar Nung, tidak ada alasan kita untuk tidak menolong makhluk apapun yang membutuhkan pertolongan. Apa lagi manusia. Kamu tidak perlu melihat apa identitasnya baik itu agama, ormasnya, partainya. Tidak perlu mengingat keburukan yang pernah ia perbuat. Tapi ketika dia membutuhkan pertolongan, tolonglah dia. Karena disana kamu menghadap Tuhan. Kamu berbuat baik kepada anjing pun, saat itu juga Tuhan ada dihadapanmu melihat kebaikanmu dan disaat itu juga kamu berhadapan dengan Tuhan.


Amang mengubah posisinya mengambil bantal dari adiknya menandakan dia mau istirahat.

“Mau tidur ya? Tapi tutup dulu dong dengan kesimpulan intinya.” Finung kembali menarik bantal dari kakaknya.

“Tidak ada kemungkinan lain kamu berbuat baik kecuali kamu berbuat baik kepada Tuhan. Tidak ada kemungkinan lain kamu menghadap kecuali kamu menghadap kepada Tuhan.” Kakaknya menutup.