Dari Kami yang (Tidak) Baik-baik Saja: Tolong, Berhentilah Bertanya

Berhenti tanya kapan

Sudah bukan menjadi diskusi ringan, ketika seseorang menduduki suatu masa, namun belum menemukan mimpi dan harapannya.

Advertisement


Kok belum kerja? Kan sudah lulus kuliah”

“Katanya cumlaude, tapi kok belum kerja?”


Kepada kalian, mengertilah perasaaan kami. Melawan panas dan hujan, interview sana sini dan berakhir penolakan. Bukankah seharusnya membantu penawaran? Atau setidaknya mendoakan? Bukan malah bertanya dan menjatuhkan!

Advertisement


Kok belum nikah?"

“Belum punya pacar yah?”


Advertisement

Kepada kalian, begitu perihnya hatiku ketika ditanya seperti ini. Apalagi untuk yang sudah menginjak masanya. Menikah adalah ibadah yang terindah, tapi mempersiapkannya juga butuh hal yang terarah. Jangan kalian pikir, kami ini hanya berdiam diri. Mencari sampai ke pesisir pun sudah kami lakukan. Bukankah lebih baik mendoakan atau membantu menjodohkan? Siapa tahu kami menemukan kecocokan.


Udah hamil belum?”

“Kan nikahnya udah lama!”


Kepada kalian, sadarkan hal ini? Sebuah pertanyaan yang sungguh menyakitkan. Mungkin sepele bagi yang tidak merasakan. Memiliki anak adalah impian seluruh pasangan yang telah menikah. Mengharapkan buah hati adalah hal yang sangat dinanti. Bagaimana mungkin, jika menikah tidak ingin memiliki anak? Bukan kah seharusnya mendoakan untuk di segerakan?


Kok anaknya kurus, sih?”

Ayah Ibunya besar – besar”


Kepada kalian yang terlalu memperhatikan. Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh sehat dan kuat, begitupun dengan postur fisiknya. Tidak mungkin orang tua mengharapkan anaknya kurus atau kurang gizi. Sebagai orang tua, mereka rela banting tulang, bekerja penuh semangat, demi memenuhi gizi si kecil. Alangkah baiknya, kalian memberi masukan untuk anak-anak yang kalian bilang terlalu kurus dengan menyarankan vitamin, misalnya, atau kirimkan saja makanan yang disebut bergizi itu ke rumah. Barangkali si anak itu suka dan napsu makan menjadi tinggi.

Kepada kalian, pertanyaan itu mungkin terlihat sepele bagi kamu yang belum merasakan. Tapi tau kah, jika hal ini sangat menyedihkan. Pertanyaan itu sangat mengganggu psikologis yang sedang merasakan. Karena mereka yang sedang merasakan, pasti berjuang mati-matian untuk mendapatkan.

Bukankah semua itu sudah ada yang mengatur? Semua adalah milik-Nya, sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Bisa jadi, Tuhan belum memberi karena memang ada yang terbaik di dalamnya.

Coba semisal aku bertanya:


Kapan kamu mati?”


 Apa respon yang bisa kamu jawab?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

perindu senja dan es matcha

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE