Terima Kasih Untukmu, Akhirnya Aku Tetap Pada Komitmenku

Jangan terlalu terburu-buru

Aku berkomitmen dari awal memang nggak akan menjalin hubungan yang tidak halal. Mencoba tetap bertahan diantara godaan-godaan yang ada. Sempat akan tergoda, namun entah Tuhan ikut menunjukkan jalannya.

Advertisement

Kala itu sedang asik duduk dipojok kampus menunggu hujan reda, disapalah oleh laki-laki disebelahku yang berjarak satu kursi. Obrolan mulai dibuka sampai tak terasa orang-orang dikampus mulai sepi.

Bersiap untuk pulang, dia menyodorkan hp untuk minta nomor whatsapp dengan alasan ingin tanya-tanya tentang kampus. By the way, dia adek tingkat 2 tahun dibawahku yang kerja disalah satu Rumah Sakit di Jogja yang ngakunya sebagai Kepala Bagian Radiologi.

Balik lagi, ku ketik nomorku di layar hp dia. Terlintas, lumayan nih bisa nambah-nambah relasi dan siapa tau jodoh haha (weh)

 

Selang beberapa hari dia mulai menyapaku dengan pesan singkatnya. Hai ini aku —- yg kemarin minta nomor mu (pesan klasik bagiku). Oh iya aku ingat, balasku singkat. Sejak saat itu komunikasi kita lebih intens, banyak hal yang menarik untuk dibahas.

Advertisement

Sampai suatu ketika dia mulai berlagak serius mengucap sayang dan akan langsung dateng ke rumah. Oh shit, secepat ini dia bilang hal itu.  Ku coba alihkan pembahasan itu ke yang lain. Tapi dia terus mengejar membahas topik yang sama. Aku hanya bilang ke dia, oh lebih baik aku kenalkan ke temenku yang lebih baik dari aku aja ya? Dia kekeh menolaknya.

Antara hati dan pikiran terlintas, apakah memang ini waktunya aku memulai sebuah hubungan? Itu membuatku kepikiran sepanjang hari. Jawaban iya dan tidak membuatku ragu memutuskan. Akhirnya aku memberi syarat untuk ketemu, biar aku bisa memberi jawaban yang yakin dan mantap.

Di awal dia menyanggupi dengan dalih habis dinas dari Semarang. Ok aku iyain, setelah dia balik di Jogja lagi. Dia berjanji akan bertemu setelah selesai jam perkuliahan dan memintaku menunggu di basecamp dekat satpam kampus. Aku tunggulah dia disana, beberapa saat dia tak kunjung menghampiri, ku tanya untuk memastikan kejelasannya. 

Bukan respon cepat yang aku terima, aku harus menunggu hal yang tak berujung. Aku memutuskan untuk pulang saja, dan sesampai dirumah dia meminta maaf karena harus balik ke Rumah Sakit karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.  Aku hanya bilang, oh oke. Sebel sih pasti ya, mungkin aku mulai goyah dengan komitmenku.

Aku sudah memutuskan untuk bilang iya, jika kita ketemu.  Kenapa aku mau bilang iya? Aku berpikir kayaknya memang saatnya aku harus mulai membuka hati untuk orang lain dan menjalin hubungan deh. Ditambah saat itu mendekati waktu wisuda, biar ada gandengan yang dibawa juga sih haha

Tapi itu semua nggak pernah terjadi, aku harus tahu bahwa dia memang dia bukan untukku karena ada suatu hal yang sangat fatal dan nggak bisa aku jelaskan secara detail disini. Kecewa? So pasti lah

Sejak kejadian itu, kita langsung hilang kontak sama sekali. Cuma di suatu momen setelah aku sidang, aku ketemu dia lagi tapi kita berlagak saling nggak kenal haha


Dengan adanya semua ini, aku sangat berterimakasih sama Tuhan, karena udah dikasih tau secara langsung dengan cara-Nya dan aku bisa melanjutkan komitmen yang aku buat sejak awal untuk tidak memulai hubungan yang tidak halal ~~


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE