Maka ya, ada biru air yang mengalir tenang di kedalamaman matamu. Ada padang hijau terbentang di bidang dadamu, tuan. Semuanya, masih jelas ku mengingatnya semua janji yang tak sengaja kau ucapkan. Maka apa aku pantas mengingatkannya?

Lalu kau akan bertanya tentang apa, dan kusudahi dengan hanya memandang matamu yang tak lagi bersahabat, setidaknya akan aku bayangkan biru laut disana.

Dan apakah aku hanya pantas untuk memejam saja untuk menjadikannya kenyataan? Kau bawa aku dari sangkar berdinding batu lalu kau ganti dengan dinding kayu. Tuan, dimanakah bedanya? Lalu apa aku pantas mengingatkannya padamu?

Sedang kau akan menjawab tentang apa, maka sekali lagi kusudahi dengan memandang matamu yang tak lagi bersahabat, setidaknya akan aku bayangkan biru laut disana.

Aku akan berlalu Tuan, akan berlalu bahkan sebelum kau menyadarinya. Kau yang menjauhkannya Tuan, kau yang ingin menjauh. Maka tidakkah ini benar-benar lelucon Tuan bernard? aku menjadi permen kapas seperti yang pernah ku katakan padamu. Aku menghilang begitu saja. Aku menjadi buih di pinggiran. Maka ketakutanmu benar nyatanya, untukmu tapi bagiku aku menerimanya.

Advertisement

Aku yang berakhir dengan segala janji. Yang tak pernah sampai padaku dengan sempurna.

Terima kasih tentang laut, terima kasih tentang pantai, terima kasih tentang bukit-bukit, terima kasih tentang gunung-gunung, terima kasih tentang lembah, terima kasih tentang semua tentang. Ya.. kini aku mengert ini hanya mengenai tentang. Aku hanya pantas memejam saja untuk semua itu.

Membayangkannya di dalam hatiku. Menghidupkannya didalam diriku, mengerti bahwa kau hanya mengajak bermimpi. Hanya sebatas itu..