Malam itu langit gelap. Hujan besar serta memancarkan cahaya dari petir yang memantak dari kepala masuk ke hati seraya aku mengetahui kamu disana yang tengah tersakiti.

Angin dan badai topan menerpa arteri, mengisi denyut nadi. menyadari kamu yang ada di luar jangkauanku tengah bersedih.

Advertisement

Rasanya seperti air garam membasuh luka-luka ketika aku tahu kamu, yang tak bisa tersentuh olehku.

Bahkan, ketika kamu yang kini tengah memperbaiki hubungan bersamanya kembali, bahagia, tetap saja terasa seperti hujan belati menghunus tajam hingga pori-pori hati.

Advertisement

Di sini, sekarang aku coba bertahan.. meski sambil menyeka luka yang harus kutekan.

Darahnya tidak berhenti mengalir, bahkan sakitnya pun tak kunjung mangkir

Lalu aku tanyakan kembali pada diri sendiri, mengapa bisa sampai sejauh ini?

Aku terlalu ingin membahagiakanmu, sehingga diri ini merasa tak rela jika kamu bahagia bukan dengan aku.

Setiap sukamu dengannya, adalah bahagiaku yang terebut.

Setiap tawamu dengannya, adalah bagian dari jiwaku yang terenggut.

Dan.. setiap kudengar kalimat "memag ini sudah takdirnya, aku harus bersamanya" kepasrahanku enggan manut.

Begitu pula setiap terbayang klise tentang dirimu, aku rela perjuangkanmu hingga nyawa dicabut.

Bertahan.. terus berjalan, menuju kamu yang hati ini putuskan menjadi pilihan.

Meski aku harus compang-camping, terluka, setidaknya, itu sebuah tanda bahwa aku selalu ada di sana. bahkan, ketika kamu tak lagi membutuhkan.

Dahaga yang terus menjadi kering ini, cuma kamu yang bisa menyembuhkan.

Dan alasan mengapa aku rela bertahan sampai copang-camping seperti ini, adalah demi kamu yang menjadi kesayangan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya