Ayah pernah bilang, mimpi yang aku rangkai jangan hanya sekedar terjebak dalam ruang imajinasi, menjelma sebuah ilusi, tapi berusahalah sekuat tenaga membuatnya terjadi. Sejak saat itu, energi dari kata-kata Ayah menjadi salah satu alasan mengapa kata menyerah pantang bahkan jika hanya sekedar bertandang.

Keputusanku untuk merantau tak lagi menjadi pertimbangan, karna Ayah menguatkan, bahwa dimana pun aku berada, Tuhan tidak akan pernah lenggah memberikan pertolongan. Ayah, sekian waktu di kota ini kususuri sendiri, meski aku tidak berkata sepi. Sibuk terkadang menculikku untuk sekedar bisa menyapamu via suara, sebatas mendengar celotehmu soal apa saja yang terlalui penuh hari. Atau dering pesan yang mengingatkan banyak hal. Ahh Ayah, menulis ini aku benar-benar merindukanmu.

Advertisement

Lelah kadang menyergap, tapi dengan menatap foto Ayah sudah membebaskanku dari jerat penat. Di tempat ini kutemukan hal0hal baru yang menempaku, ilmu-ilmu hebat nan bermanfaat yang mengelilingiku, juga orang-orang asing yang berubah menjadi pelindungku. Kini aku paham, kebersamaan itu tidak semata soal fisik tapi saling menyapa dalam doa-doa terbaik.

Anakmu ini keras kepala, Ayah. Meski jauh kita masih bisa ribut hanya karna berbeda pandangan, aku yang seolah-olah sok tahu dan Ayah yang merasa diri paling benar. Pertengkaran kita saja bahkan tidak akan pernah mampu memutus ikatan batin yang sudah kukuh itu.

Tak jarang, aku menangis di sudut kamar mungilku, seisinya adalah saksi bisu cucuran peluh dan air mata itu beradu. Ayah, aku rindu. Hari yang kulewati terkadang sinis, tetap saja sedewasa ini hati kecilku butuh sandaran, tubuh ini menagih nyaman pelukan yang selalu Ayah berikan. Lagi-lagi, proses ini semakin memantapkanku untuk terus berjuang tanpa peduli rintangan apa yang tiba-tiba menghadang. Malu untuk menyerah, sedang ayah tak pernah berkata lelah.

Advertisement

Ayah, terima kasih untuk doa tulus yang tidak pernah putus, juga cinta yang tidak menuntut balas. Semua pengorbanan yang Ayah lakukan tidak akan pernah sanggup aku lunasi. Maaf, putrimu ini selalu membuatmu khawatir, tapi percayalah, mengkhianati rasa percaya dan melupa semua petuahmu tidak sampai hati aku lakukan. Mimpi dan ambisi yang membersamaiku kini nantinya bukan hanya untukku saja. Teramat besar keinginan itu melukis senyum kebanggaan di wajah Ayah. Tempat yang aku pijaki akan menoreh jejak-jejak gemilang yang terus membuatku bergerak.

Jarak yang membentang adalah bagian dari proses hebat yang sering Ayah katakan. Kesungguhan ini akan selalu membara, karna Ayah segalanya alasan mengapa yang aku perjuangkan kelak menjadi arti penting sebuah pengorbanan. Semoga kesempatan masih berkenan mempertemukan kita, Ayah.

Salam rindu dariku,

Anak perempuan kesayanganmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya