Sore itu, sore yang tak pernah bisa aku lupakan. Suaramu terdengar begitu dingin saat mengajakku bertemu ditempat biasanya aku dan kamu menghabiskan banyak waktu untuk bersama. Entah dengan sejuta percakapan ataupun pandangan dalam diam, yang pasti selalu bisa ku lihat cinta dari matamu yang teduh untukku.

"Ada yang harus aku bicarakan." Aku hanya berfikir rindumu telah berkecamuk sama seperti aku. Setelah nyaris satu bulan ini kabarmu jadi hal yang paling sulit aku temukan. Wajahmu tertunduk saat jumpa akhirnya jadi milik kita. "Aku ingin kita pisah."

Satu kalimat yang begitu menghujam jantungku. kamu berucap, seolah semua ini hanya permainan. Butiran airmata mulai mengalir begitu saja. Wajahmu masih tetap tertunduk. Sebegitu tak layak lagikah aku untuk dipandang olehmu?

Petir menyambut pedihnya kalimatmu. Pelan tapi tajam dan dingin. Tak ada sesal tak ada penjelasan. Aku sendiri bahkan sudah tak sanggup lagi bertanya ada apa? Apa yang terjadi dengan kita? Bukankah sebulan yang lalu kamu bahkan lebih manis dari biasanya. Ya. Aku ingat! Sebulan yang lalu. Mungkin itulah pertemuan terakhirku denganmu yang penuh kehangatan.

Saat ku lihat telepon berdering nama Lolita tertera disana. Sepupu, kamu coba jelaskan padaku. Andai kamu mengerti aku bahkan tak meminta penjelasan apa-apa darimu tentang dia. Cinta membuatku percaya padamu, bahkan melebihi diriku sendiri. Lalu kamu pamit untuk menjemputnya. Saat itulah kecupan dikening mungkin yang terakhir aku terima darimu.

Advertisement

Kucoba mengingat semua hal tentang kamu.

4 tahun kita bersama tak pernah kudengar kamu punya sepupu dengan nama semanis itu. "Karena apa? Ada orang lain?" Ucapku terbata. Gerimis menyambut permohonan penjelasanku. Kamu memandangku diam dan dingin. "Lolita?" Aku mencoba mempertegas sekali lagi pertanyaanku. "Iya." Kamu menjawabku tanpa rasa. Seandainya kamu tahu kalau aku ingin mati saja saat itu.

Aku mencoba menyentuh tanganmu dan kamu menghindarinya. Kenapa begitu mudah? Setelah sebelumnya akulah yang paling ingin kamu peluk setiap waktu, kini bahkan untuk menyentuh jemarimupun aku tak lagi diizinkan olehmu. Meskipun ucapku tak pernah memintamu tetap tinggal dan bertahan, Tak bisakah kamu lihat mataku yang begitu kacau saat menghadapi perpisahan kita?

Sulit kupahami. Beginikah memang cinta seharusnya melangkah. Saling dekap kemudian salah satu dari kita menghunuskan pedang pada punggung yang sebelumnya selalu diusap lembut dalam peluk. Ini bukan perpisahan yang pertama bagiku. Tapi denganmu aku seperti tak ingin lagi melihat dunia. Kamu yang paling aku yakini justru yang paling meludahi.

Tak bisakah aku coba memperbaiki apa yang salah dalam diriku? Aku hanya tak ingin kehilanganmu. Kenapa tak pernah kudengar keluhmu tentang aku. Kenapa semua seakan baik-baik saja? Kenapa pertengkaran bahkan nyaris tak pernah menghampiri kita, tapi perpisahan ini yang justru kamu minta?

Tak bisakah kamu tetap disini.. Aku masih sangat mencintaimu, kamu masih jadi yang paling aku ingini. Akan ku lakukan apapun bila sikapku yang membuatmu menyerah bertahan bersamaku. Asalkan bukan pisah yang kamu minta aku rela memberinya. Tapi sikapmu saat itu seperti dengan tegas mengatakan bahwa hadirku sudah tak lagi kamu inginkan.

Kamu hanya bertanya ada lagikah yang ingin aku utarakan. Hanya satu, aku hanya ingin satu hal jangan tinggalkan aku. Tapi perih mengunci rapat mulutku. Kamupun pamit meninggalkan apa yang masih ingin aku pertahankan. Langkahmu pasti, dalam tangis ku mohon pada Tuhan untuk menghentikan kakimu dan mengembalikanmu padaku. Ku mohon menolehlah.. Aku masih mencintaimu!

Kamu pergi. Melesat dengan cepat. Berlalu tanpa pertimbangan dan meraih bahagia bukan lagi bersama aku. Tapi dengan cerita barumu. Ku tahan airmataku. Ini bukan adegan difilm-film dimana pemeran yang terluka dapat menagis sejadi-jadinya kapanpun dan dimana saja. Inikah rasanya patah hati? Kenapa sekujur tubuh harus turut merasakannya.

Kupandang kursimu yang telah kosong. Hanya ada cangkirmu disana, diatas meja. Dengan kopi yang sedikitpun belum kamu sentuh. Dia terlihat sedingin kamu. Tak adakah yang bisa seperih aku? Kenapa aku merasa dunia menertawakanku. Kamulah yang paling aku banggakan didepan teman dan keluargaku. Harus bagaimana aku menjelaskan pada mereka bahwa kita sudah tidak dalam cerita yang sama.

Kamu pergi begitu saja, seharusnya tak perlu kamu bawa juga hatiku bersamamu agar aku tak merasa seterluka dan sekosong ini. Kamu pilih bahagiamu tanpa aku. Dan ku pilih untuk tak ingin lagi melihatmu. Bila denganmu tak berujung bahagia, maka ku mohon bantu aku untuk melupakan semuanya.