Secangkir kopi yang dari tadi menemaniku kini hanya meninggalkan ampasnya. Hitam dan pekat. Hampir seperti hari ini, yang terselimuti awan hitam dan meninggalkan gemiris yang tak kunjung henti. Bulan Desember tak pernah lepas dari musim hujan, dan gerimis kali ini adalah gerimis terlama yang ada di bulan ini. Pagi hingga senja yang seharusnya menawan diganti gerimis tak kunjung reda. Seperti saat itu gerimis tak mampu membuat matahari tersenyum.

Advertisement

Aku hanya bisa melihat keduanya dari kejauhan. Mereka berbicara serius, tapi tidak sampai memperlihatkan otot leher. Keduanya terlihat mencoba saling mengerti. Seringkali diam adalah cara mereka mengerti, lalu sejenak mencurahkan pikiran dan hati. Secangkir kopi kedua yang kupesan kali ini, mencoba menemani keduanya dari kejauhan.

***

Advertisement

Dua bulan yang lalu, gadis itu duduk di lobi hotel. Wajahnya mecerminkan sesuatu yang tidak biasa. Tampak gelisah dan terkadang kosong. Tangannya meremas telfon genggam, bukan pertama sejak tiga puluh menit yang lalu. Pria berkumis datang menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya. Bukan sebuah kata yang memulai percakapan keduanya. Tapi elusan tangan di kepala gadis itu.

“Kalau sudah siap, Ayah akan menunggumu di lantai atas.” Tanpa bicara pria berkumis, sang Ayah gadis itu pergi.

Aku masih duduk termangu di depan gadis itu. Tak ada sepatah kata apapun yang bisa kuucapkan. Mataku mencoba meraih matanya, tapi pandangannya hanya pada lantai berwarna hijau.

“Kenapa nggak ngasih tau aku?” tiba-tiba gadis itu membuka percakapan.

Aku masih terdiam.

“Kenapa?”

Suara pintu lift terdengar sangat keras untukku, dan ini saatnya aku bicara.

“Aku mencoba memberi tahu, tapi.,” kata-kataku terhenti bersamaan matanya yang kini menatap tajam kearahku.

“Tapi apa?” desaknya kini.

“Kalau kamu sudah bertemu dengannya, dan bersamanya.” Dia hanya terdiam.

Kami terdiam. Hening dan suara pintu lift kembali terasa sangat jelas. Suara roda troli tak kalah nyaring berdengung ditelingaku.

***

Keduanya tampak semakin kehilangan akal. Entah apa yang hendak dilakukan laki-laki itu, tapi tatapannya lurus ke meja tempat mereka duduk. Sedang gadis itu sesekali mencuri pandangan padaku, namun hanya pandangan saja. Tanpa senyum, hanya tatapan sayu.

Bulan desember matahari hampir tak memperlihatkan wajahnya. Ia kalah perkasa dengan awan gelap yang berbaris gagah. Ia kalah dengan kilat yang mencoba menarik nyawa-nyawa yang berjalan di bumi. Bulan desember, dan tangis. Aku tahu bila matahari tak bersinar, maka bulan akan sayu, desember.

***

“Lalu apa yang kita lakukan?” tanyaku ragu pada gadis itu. Namun ia hanya menatapku, ada gumpalan air mata mencoba mengintip dari sudut matanya.

“Menurutmu?”

“Aku tak tahu. Tapi ini yang diinginkan orangtua kita.”

“Lalu, aku bisa apa?” tanyanya lirih.

“Aku tahu kamu sudah jatuh hati padanya. Kamu sudah mengikat hubungan dengannya. Tapi.,” kata-kataku berhenti di tenggorokan, seolah berdesakan disana.

“Tapi apa?” tanyanya yang semakin membuat tenggorokanku tersumpat.

“Kita jalani pertunangan ini. Entah ke depannya bagaimana kita tidak tahu. Hanya kita jalani saja. Demi ibuku. Kamu tahu, ibuku sangat lemah.” Kulihat matanya mencoba memandangiku, tapi aku tahu berat untukknya.

“Baik, aku setuju.” Jawabnya sambil berdiri dan berjalan menuju lift yang sedari tadi berdengung keras ditelingaku. Tapi ia berhenti tidak masuk, lalu menoleh ke arahku. Aku mengerti dan berdiri berjalan kearahnya.

***

Ampas kopi yang hitam pekat membuatku tertarik. Tak seperti bulan desember, mendung, gerimis dan hujan. Aku suka matahari bersinar terang penuh, tapi aku tak suka langit gagah tanpa awan. Seperti langit begitu angkuh dengan biru bila tanpa awan. Sudah dua jam aku duduk mengamati keduanya, dan dua jam yang sangat lama untukku. Dua jam untuk dua gelas kopi, dan dua jam untuk dua gelas kopi bersisakan ampas.

Gadis itu berdiri, dan keduanya saling berpandangan. Seperti aku melihat ruang diantara tatapan keduanya. Ruang yang aku tak pernah tahu ada apa disana, ruang yang aku tak pernah tahu apa yang mereka lakukan disana, dan ruang yang akan selalu membuatku cemburu. Aku melihat keduanya dengan ruang itu dan aku cemburu. Seperti hujan yang cemburu pada matahari, seperti biru langit yang cemburu pada senja. Karena aku melihat keduanya, seperti menghadirkan senja di hari yang gelap dan gerimis ini.

Ruang antara keduanya telah berlalu. Gadis telah berdiri didepanku, sedang laki-laki itu masih duduk disana. Aku mencoba melihat keduanya, tapi mataku hanya terpaut pada mata gadis.

“Ayo pulang!” lamunanku terpecahkan oleh suara lirih.

“Kamu yakin sudah selesai?”

“Ia..,”

Sebelum beranjak, aku melihat laki-laki itu telah beranjak dahulu. Lalu ia melangkah kearah gerimis dan membuat gerimis berjalan begitu pelan. Aku tidak habis mengerti senyuman laki-laki itu kearah gerimis membuat gerimis takhluk. Matahari mencoba bersinar dari balik mendung. Tatapannya pada gerimis seolah telah meninggalkan ruang yang tadi hadir, yang ada adalah mata penuh keyakinan bahwa matahari akan bersinar. Sedang aku menatapnya berharap gerimis masih ada.

Gadis disebelahku menoleh tapi usahanya itu membuat membalikkan tubuhnya. Tatapannya pada gerimis seolah meminta gerimis menghentikan laki-laki itu. Tatapannya meminta air-air mengikat laki-laki itu, tapi gerimis tak kuasa. Aku lalu berdiri, dan mencoba menggegam tangan gadis itu. Ia menoleh kearahku, dan mata kami saling terpaut. Aku berharap hadir ruang-ruang antara aku dan dia, namun yang kutemukan hanya ruang hampa. Berdiri aku ditengah-tengahnya. Dan aku tahu rembulanpun akan sayu bila matahari tidak bersinar. Walaupun matahari telah bersinar, tapi ia bersinar untuk dirinya, untuk jalannya. Sejenak ia meninggalkan rembulan, karena dia tahu rembulan baru akan hadir. Sedang aku mencoba menjadi matahari bagi rembulan sayu.

҉ ҉ ҉

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya