Jika Tuhan maunya kita tidak bersama, lantas mau apa?

Bagaimana jika tiba-tiba kamu mendapat pertanyaan begini "kalau kamu akhirnya tidak menikah dengan dia yang sekarang, bagaimana?"

Advertisement

Pertanyaan yang sama sekali tidak mengejutkan tapi cukup membuat jantung rasanya ingin berloncatan.

Jika awaban pertamamu adalah sedih dan juga kecewa, maka tepatlah jawaban itu. Namanya juga manusia biasa, jadi wajar kan jika respon yang diberikan demikian?

Lalu setelahnya? Kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Meski terseok, meski harus kembali mengumpulkan puing-puing kepingan yang sempat jatuh berceceran. Meski harus tertatih membawa segenggam kenangan yang tidak mungkin mudah dilupakan. Meski untuk sembuh membutuhkan waktu yang entah sampai kapan. Tapi tetap, kamu akan dan harus melanjutkan hidupmu.

Pernah tidak sesekali mengajak pasanganmu berbincang, mengandai jika suatu saat tidak bisa bersama? Apakah masih bisa sehangat saat ini? Apa benar yang kalian genggam saat ini adalah tangan yang akan terus membersamai kalian hingga ke surga? Atau justru sebaliknya, seperti Keenan dan Raisa. Cukup menjaga tapi tidak sampai ke KUA. Miris memang pembicaraan seperti itu. Tapi itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang harus selalu dipersiapkan. Bahwa memang kita harus tetap berjalan ke depan meski dengan atau tanpa dia yang sekarang sedang kita pastikan tak jauh dari genggaman.

Advertisement

Pahit memang, tapi lambungan dadu semesta siapa yang bisa menerka? Membayangkan bertemu dia saja tidak ada dalam kepala. Apalagi sampai bisa bertukar cerita hingga pagi menyapa. Jadi siapa yang tahu juga bahwa kalian ditakdirkan tidak untuk bersama selamanya.

Begitulah hidup. Selalu penuh tanda tanya. Selalu penuh dengan dugaan dan prasangka. Selalu penuh kejutan yang tak terduga.

Untuk saat ini, semoga teman-teman semua bisa melakukan hal terbaik versi masing-masing. Khawatir itu pasti, namun tidak perlu berlebihan. Kalau memang jalannya bersama ya akan bersama. Namun jika tidak diijinkan semesta, masa iya mau pakai jaran goyang segala? Kan tidak begitu. Harus diterima dengan lapang dada. Berdoalah ada yang baru yang bisa menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Tuhan itu mutlak tidak pernah salah dalam menentulan nasib hambaNya.

Semoga kita bisa bersikap dengan bijaksana. Menyayangi sesama manusia dengan sewajarnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya