Hai calon jodohku! Ke mana saja kamu sudah mencariku?

Pertemuan kita yang digariskan takdir mungkin hanyalah pertemuan biasa tanpa kesan bermakna. Mungkin aku pernah melihatmu sekilas. Mungkin kamu pernah menatapku sepintas. Atau mungkin kita pernah beradu tatap lalu meneruskan langkah. Bergegas tanpa jeda. Aku, kamu, kita, tidak tahu.

Advertisement

Sudahkah kau menyebutku dalam untaian doamu? Atau mungkin kau belum begitu mendamba keberadaanku seperti aku mendambamu? Aku yang minimal menyebutmu dalam lima kali sujudku setiap hari. Aku yang memohon segera dipertemukan denganmu, seseorang tanpa nama yang kuyakini menemaniku seumur hidup.

Lalu bagaimana jika kita dipertemukan tanpa saling menyadari? Bagaimana jika aku menjadi acuh karena tidak mengenalmu? Bagaimana jika kau tidak peduli karena aku hanyalah orang asing? Kuncinya adalah debaran. Yah, aku mengukur kehadiranmu lewat debar yang kurasakan. Aku akan tahu jika itu adalah kamu jika dadaku berdebar keras. Jenis debaran dengan desir-desir halus yang menggelitik.

Debaran yang membuatku tidak tenang namun membahagiakan. Debaran yang membungkamku seketika namun membuat mataku nyalang mengawasimu. Debaran seperti itulah yang selama ini kunanti. Debaran yang membuatku lebih hidup.

Advertisement

Tahukah kamu bagaimana aku berusaha meningkatkan kualitas diriku? Aku melakukannya tidak semata-mata bagimu saja. Aku melakukannya untukku sendiri. Bagaimana aku akan menjadi percaya diri untuk mendampingimu jika kualitas pribadiku saja kuragukan sendiri? Bagaimana aku menjadi bangga di sampingmu jika kemampuanku saja tidak membanggakanku? Lihatkan, dengan menantikanmu saja aku merasa luar biasa istimewa. Dengan penuh semangat memperbaiki kekurangan dan menambahkan kelebihanku.

Aku siap jatuh cinta. Siap mencintaimu tanpa syarat. Siap menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Siap melengkapi bagian yang kosong dari harimu. Bahkan juga siap dengan segala kemungkinan yang menyakitkan. Kemungkinan tentang perdebatan seru yang akan mewarnai kebersamaan kita. Kemungkinan tentang airmata yang membanjir ketika salah satu dari kita terluka.

Aku akan tetap mencintaimu. Dengan sepenuh hati tanpa pernah membaginya kecuali untuk buah hati kita. Dengan setulus hati, setulus cinta ibu pada anaknya. Mencintaimu tanpa syarat, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun. Mencintaimu tanpa lelah dan menyerah. Karena aku akan berada di sana. Tepat di sampingmu, menjadi satu-satunya yang pantas mendampingi. Baik dalam suka maupun susah.

Tanpa mengeluh maupun mengesah. Aku akan setegar karang, yang tidak pernah meninggalkan lautan meski ombak menghempasnya tanpa kenal ampun. Aku akan setulus lilin, yang membiarkan dirinya lebur dalam api demi memberikan terang bagi sekitar. Aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya, seutuhnya, karena aku yakin, kita diciptakan untuk menjadi satu.

Aku akan menjadi kawan sekaligus lawanmu. Aku akan mendukungmu di garis depan saat kau mulai meragukan langkahmu. Menawarimu peluk yang akan menguatkan tekadmu. Memberikanmu kecup ketika kau mimpi buruk. Aku akan mendebatmu semampuku ketika kau percaya bahwa kau tak layak mendapatkan yang terbaik. Mendekapmu sekuatku, hingga kau menyadari kesalahanmu. Sudah kubilang, selalu akan ada aku di sekitarmu.

Jodohku, sudahkah kau menyusun rencana untuk masa depan kita? Tentang perkenalan yang mengawali kencan kita yang pertama. Kata-kata apakah yang akan membuka obrolan kita? Aku berjanji akan mengingat setiap detail terkecilnya. Tentang pertunangan yang kuharap akan sederhana saja namun berkesan. Tentang pernikahan yang dihadiri keluarga dan teman dekat kita. Hingga kita mengenal mereka satu per satu.

Memberi peluk tanpa bertanya siapa mereka. Karena merekalah pendukung kita, yang memberi support tanpa henti, yang mendoakan diam-diam. Tentang kehidupan setelah menikah yang makin mendewasakan kita. Pertengkaran sepele hingga yang menguras air mata. Tentang kita yang bekerja keras demi sebuah cita-cita, membahagiakan calon buah hati kelak. Tentang kau yang kelelahan hingga jatuh sakit.

Tentang aku yang mengakhiri karir saat menyadari kehamilanku. Tentang kita yang bahagia mengasuh si sulung berdua. Kau yang bertugas mengganti popoknya di malam hari. Aku yang menyusuinya sepanjang hari. Tentang kita yang berkencan di bioskop dan mengulang masa muda dulu. Tanpa kita sadari kita sama-sama ketiduran di balik gelap dan sejuknya bioskop. Tentang tawa yang meledak saat kembali mengingat betapa terjal dan berliku perjalanan kita sebelum sampai pada hari ini.

Belahan jiwaku, ayah dari anak-anakku, aku masih akan terus menemanimu di hari senja nanti. Meski kau sudah renta dan pikun. Dengan rambut memutih yang membuatku makin mencintaimu. Kerutan yang bertambah dalam seiring bertambahnya usia. Seringnya lupa menaruh barang-barang, bahkan kacamata yang bertengger pun masih kau cari-cari.

Aku masih akan menggenggam jemarimu. Yang mulai gemetar dan tak kuat memegang gelas. Akan terus membisikkan kata cinta meski pendengaranmu kian hari makin berkurang. Aku akan terus mencarimu ke sekeliling rumah, saat kau senang berjalan-jalan tanpa pamit dan akhirnya lupa arah pulang. Aku akan terus menemanimu sampai batas usiaku.

Jodohku di masa depan, dari semua saat-saat luar biasa yang Tuhan berikan bagiku untuk mengenalmu, hanya satu saja permohonanku. Jika salah satu dari kita sudah saatnya menghadap yang Maha Kuasa, maka biarlah aku duluan yang pergi. Aku tidak akan sanggup menjalani sisa hariku jika ternyata Tuhan memanggimu lebih dulu. Aku tidak mampu melewati kesendirian setelah berpuluh tahun aku membagi waktuku untukmu.

Aku tidak akan bertahan melawan hampa dan suramnya masa depan saat kau tidak ada lagi. Jadi bersamalah denganku, mendoakanku, dan kita membujuk Tuhan supaya Dia setuju dengan rencana kita.

See you very soon jodohku! Jangan lelah mencariku!

Advertisement