Tak Peduli Seberapa Canggih Dunia Esok Hari, Buku Akan Selalu Punya Daya Tariknya Sendiri

buku punya daya tariknya sendiri

Dia sudah mulai ditinggalkan. Fisiknya yang mungkin sudah tidak menarik dan tidak secanggih teknologi yang menjadi sahabat orang-orang, sang gawai. Mereka lupa, dialah dunia dalam bentuk minimalis.

Advertisement

Zaman yang terus berkembang beriringan teknologi yang semakin canggih, dengan warna dan bentuk yang bisa dilihat mata, membuat orang berpindah dari yang hanya sekedar tulisan. Kumpulan kata-kata yang sekilas terlihat biasa saat dipandang mata, jadi tidak membangkitkan selera lagi.

Mereka yang baru lahir di generasi serba teknologi ini akan merasa asing dengannya. Dia sudah tidak menjadi teman tidur anak-anak lagi. Dia sudah tidak menjadi teman saat senggang. Hanya berdiam diri di pojok rak, menunggu tangan seseorang membukanya. Dialah buku.

Orang-orang yang jarang baca buku adalah orang-orang yang paling merugi. Bukan jadi berlagak kutu buku, tapi membaca buku adalah surga. Apakah kalian tidak merasa demikian?

Kominfo mengatakan, pada data UNESCO 2017 Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca! Dengan rendahnya tingkat literasi di Indonesia, rugi rasanya jika para penulis di Indonesia dengan sejuta bakatnya, tidak dimanfaatkan karyanya.

Tidak perlu buku-buku ‘berat’ yang menguras pikiran, tapi buku-buku sastra ringan. Atau novel-novel fiksi dan romansa. Membaca tidak akan pernah rugi. Keuntungan paling kecil adalah—setidaknya—kosakata dalam berbahasa akan terus bertambah. Otak kita akan mempelajari dan terbiasa dengan pengguanaan kosakata baru.

Advertisement

Membaca buku fiksi—menurutku—adalah berpetualang tanpa biaya. Hanya bermodalkan buku, yang dibeli atau bisa dipinjam di perpustakaan, dan posisi duduk yang super nyaman. Dari cerita-cerita yang dituturkan oleh penulis, dengan semua riset dan pengalamannya, kita juga bisa menjadi orang yang seakan-akan berada dalam cerita itu.

Menganalisis perilaku teman-teman milenial di lingkungan, yang sudah jarang membaca—apalagi membaca buku—membuat diri ini merasa agak kesepian. Susah untuk mencari teman diskusi kecil—seperti tentang cerita, pemikiran atau tokoh di sebuah novel. Apalagi untuk menemui teman membaca novel yang satu genre, persis seperti memenangkan undian.

Dikutip dari website Kominfo pada 2017, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Namun data Wearesocial per Januari 2017 mengungkap bahwa orang Indonesia bisa menatap gawai selama 9 jam perhari. Sangat disayangkan bahwa minat baca ini menjadi rendah. Gen Z yang lahir dengan teknologi yang sudah serba canggih, lebih suka menghabiskan waktu menghadap gawainya. Apalagi dengan keberadaan media sosial yang memungkinkan rebahan sambil berkomunikasi dengan dunia.

Membaca dan menulis merupakan salah satu cara yang efektif untuk melestarikan bahasa. Apalagi, bahasa Indonesia yang benar sesuai dengan kaidah bahasa, sudah jarang digunakan karena bahasa keseharian kita tidak menggunakan bahasa Indonesia melainkan bahasa daerah dan suku yang beragam di nusantara. Dengan adanya buku dan kegiatan membaca, setidaknya bahasa persatuan kita ini akan terus lestari.

Walaupun sekarang, buku-buku ini sudah bertransformasi. Ia berpindah pada bentuk digital yang bisa ada dalam gawai. Cocok dengan tipe manusia zaman ini yang suka dengan kepraktisan. Namun, buku tetaplah buku, kan? Dia lebih nyaman dinikmati dalam bentuk aslinya.

Terkadang mereka lupa, jika ia juga mempunyai keajaibannya. Bermodalkan huruf-huruf yang tersusun rapi di atas sebuah kertas lalu disatukan dalam sebuah benda yang bernama buku. Visualnya akan keluar di dalam otak, menjadi imajinasi. Sesuka otak, sesuka pikiran. Semampu dan seliar imajinasi kita.

Orang-orang mungkin lupa betapa mengasyikkannya tenggelam bersama sebuah tokoh di novel fiksi—menjadi orang yang paling kenal, paling paham karakter tokoh tersebut. Terlalu paham hingga berpikir bahwa itu adalah nyata. Tak urung juga butuh teman untuk berdiskusi. Berjam-jam duduk bersama orang tua, teman, atau bahkan orang tidak dikenal.

Sementara para anak muda sibuk dengan gawainya masing-masing, orang-orang seperti Firman Hadiansyah di Banten, malah berusaha untuk melestarikan pria berusia 40 tahun ini malah memanfaatkan motornya hingga mengajak para geng motor untuk menjajakan buku di daerahnya (dikutip dari berita Kompas tanggal 2 April 2020). Begitu juga dengan Suhamdi, pria berusia 40 tahun yang mendirikan taman baca di Lombok walau pada awalnya dikira pedagang buku keliling (dikutip dari berita Kompas tanggal 31 Maret 2020).

Melihat semangat orang-orang ini, tidakkah kita juga harus melakukan sesuatu? Generasi ini juga harus bisa melestarikan pesona buku, walau digerus oleh kehadiran teknologi. Bukan dengan menyalahkan teknologi, tentunya. Tapi dengan membuat kolaborasi dengan itu. Seperti dengan membuat gerakan literasi melalui sosial media. Atau membuat review buku agar orang lain tertarik untuk membaca, yang diunggah ke sosial media.

Buku, akan selalu menjadi ibu kandung ilmu pengetahuan. Selayaknya ibu kandung yang menjaga anaknya tetap sehat di rahim, hingga pada akhirnya akan lahir ke bumi. Seperti ilmu yang akan sampai ke manusia-manusia yang lain.

Seberapa canggih dunia ini besok hari, buku akan selalu punya ilmu sihirnya. Setua apapun dia, dia tak akan ketinggalan fungsi seperti teknologi. Dan ia akan selalu ada di hati penggemarnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE