Menebak Isi Hati Bumi Seandainya Dia Bisa Bicara. Mungkin Juga Akan Mengeluh Seperti Kita

bumi tidak baik-baik saja

Kita tidak pernah tahu apa yang bumi ini persembahkan untuk kita. Dia yang nampak baik-baik saja walau berulang kali kita lukai. Dia yang nampak terus berotasi dengan sempurna mendadak sakit dan terluka… Kita tidak akan pernah menyangka pandemi ini menyakiti semua orang di segala lini. Tidak melihat besar kecilnya uang dan tidak memandang tinggi rendahnya status sosial.

Advertisement

Beberapa orang ketakutan, bersembunyi di balik hiruk pikuk keramaian dan beberapa ada yang menantang nestapa. Seakan punya kekuatan super untuk meruntuhkan penyakit yang kini melukai bumi. 

Beberapa morat-marit dalam perekonomian, orang-orang yang biasa bekerja 24 jam kini mungkin hanya bisa duduk manis meratapi gaji yang kian sempit. Beberapa orang ada yang bahagia, pegawai yang setiap hari lembur di kantor kini bisa menikmati gaji di rumah dan bercengkrama bersama anak-anaknya. Begitulah dunia, di mana ada yang bahagia disitu juga ada yang terluka.

Orang-orang ketakutan, membasuh tangannya hingga kering.  Melindungi dirinya dengan semaksimal mungkin namun beberapa ada yang tersenyum lebar di dalam keramaian… semua orang punya sudut pandang masing masing menghadapi masalah bumi ini.

Advertisement

Namun bukan hanya itu saja…

Beberapa orang kehilangan kemanusiaan dan hati nurani. alih-alih berempati mereka justru asyik bergosip dan menyalahkan lalu membuat prasangka lalu menghakimi. Mereka ketakutan begitu besar, tanpa mereka sadari ketakutan itu membuat orang lain terluka. Mereka tidak sibuk mendukung namun justru sibuk menyudutkan. Bahkan ada sebuah kisah pilu, tenaga medis ditolak untuk pulang ke rumahnya. padahal dalam masa pendemi ini, mereka bak pahlawan tanpa sebuah peluru. Berjuang untuk semua hal.

Advertisement

Semua orang terluka, namun tidak semua orang mengerti tentang mengendalikan rasa takut. Lalu masalah ini membuat kita dapat melihat orang-orang di sekitar kita. Si tukang gosip, si tukang kompor atau si tukan penyebar berita.. mereka adalah toxic untuk saudara mereka sendiri yang tengah berjuang. Sikapnya justru melemahkan motivasi. Membuat orang lain justru tersiksa bukan pada penyakit tapi pada sentimentil tentangga.


Bukankah lebih baik mendukung? Dari sibuk mencaci?

Bukankah lebih baik mendoakan dari sibuk menerka nerka?

Bumi ini sedang berjuang.. mengalahkan musuh tak kasat mata..

Bukankah waktunya kita berbenah dan menyembukan dunia…..


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya berusia 26 tahun, anak kelima dari 5 bersaudara. Menulis adalah cara saya menginteprestasikan apa yang ada dipikiran saya dan tidak semua yang saya tulis adalah tentang saya.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE