Bertahun-tahun sudah berlalu. Kamu masih belum datang untuk memberiku penjelasan kenapa aku ditinggalkan. Sepertinya hanya aku saja yang merasa ada yang belum selesai di antara kita. Sementara kamu terus menghilang. Seakan cerita yang pernah kita punya dulu hanyalah pura-pura. Aku berjuang sendirian untuk mengenyahkan sakit hati yang kau tinggalkan. Berhari-hari aku habiskan untuk menahan diri agar tak menghubungimu lagi.

Begitu banyak yang ingin kutanyakan. Kamu di mana? Kamu sedang apa? Apakah baik-baik saja? Tapi apa gunanya? Bahkan untuk pamit pergi pun kamu lupa. Meninggalkan aku yang terus mengira aku ini dosa apa. Andai saja kamu tahu bagaimana rasanya memendam rasa rindu sampai rasanya bom waktu akan meledak di hatiku. Kamu nggak tahu kaya gimana dengan gilanya aku berharap kamu itu tiba-tiba muncul di depan pagar rumahku. Atau ketika aku berharap ada kamu di tengah keramaian orang. Tapi semua harapanku tentangmu selalu menguap, menghilang seperti asap. Dariku kau berlari secepat kilat.

Advertisement

Padahal mungkin kalau saja kamu mengungkapkan alasannya, aku tak akan begini terluka. Aku tak akan merasa dibuang dan dicampakkan begitu saja. Bagaimana bisa dengan ringan kamu pergi? Padahal dulu kita pernah berjanji, untuk bersama-sama, untuk melakukan semua hal berdua. Tapi sekarang, untukmu aku bukan lagi apa-apa, bukan siapa-siapa. Sungguh cinta ini sebuah ironi. Kamu yang paling aku banggakan justru mendorongku ke jurang. Padahal dulunya kamu adalah orang pertama yang akan membela saat orang lain memandangku sebelah mata. Kamulah yang menguatkan ketika aku merasa dunia ini begitu kejam. Tanganmu lah yang mengelusku penuh sayang saat aku merasa begitu tertekan.

Tatapan mata dan pundakmu adalah bentuk kenyamanan. Itulah kenapa kehilanganmu terasa begitu menyakitkan. Setiap hari aku seperti sedang menggali makam untuk hatiku sendiri. Kamu membawa pergi sebagian percaya diri yang kumiliki. Membuatku merasa begitu kecil dan tak berguna. Bagaimana bisa satu orang anak manusia bisa mempengaruhiku sampai seperti ini? Kita pernah begitu sempurna berdua, tapi kenapa kamu pergi juga? Salahku ada dimana?

Tidak akan ada jawaban apapun aku sudah tahu. Kamu pintar sekali menggantungku. Tapi, sayang, aku tak mungkin selamanya menunggu. Aku tidak ingin menua dengan kenangan dan perasaan bersalah yang tak berkesudahan. Akan kuurai simpul kusut ini perlahan. Di ujung hari nanti mungkin aku akan lebih mengerti, yang bukan milikku tak akan jadi milikku. Akan kusimpan rapi semua senyummu yang dulu rajin tersungging untukku. Tak akan kupaksa otak ini lupa karena aku begitu mahir merekam semua. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan ketika kamu memilih terus jauh berjalan. Mungkin di masa lalu aku pernah menyinggungmu begitu dalam. Mungkin di akhir hari itu kamu sudah bosan dan punya orang lain yang menggantikan. Kuucapkan maaf dan selamat jalan. Mulai hari ini, tak akan ada lagi pertanyaan yang akan aku kuajukan. Kamu sudah kuikhlaskan.

Advertisement

Aku juga ingin punya masa depan. Hidup bahagia dengan seseorang yang kalau aku berbuat kesalahan, dia memberiku teguran dengan penuh sayang. Bukannya pergi diam-diam. Untuk semua nyaman dan senyuman yang pernah kau berikan, terimakasih. Aku sudah berusaha untuk marah dan benci tapi tak bisa. Terlepas dari kisah kita sekarang, kamu pernah menjadi orang yang paling memahamiku. Orang yang mau menemaniku menyusuri kota sepanjang malam. Yang rela menghabiskan waktunya hanya untuk mendengar aku bercerita tentang apa saja. Kepadamu aku benar-benar jatuh cinta. Sampai rasanya aku tak mungkin lagi menemukan orang lain di depan sana.

Di balik semua rasa pedih dan terluka yang kau tinggalkan, masih ada do'a yang kupanjatkan, untukmu selalu dijaga oleh Tuhan. Semoga harapan-harapan baikku untukmu dikabulkan. Berbahagialah selalu dimanapun kamu sekarang, semoga baik-baik saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya