“Jalanan adalah karya seni instalasi yang sempurna. Ia lurus, berhiaskan lampu dan bunga, menikung, menanjak, dan kadang-kadang buntu. Ia mengarahkan, meloloskan, menjebak, dan menyesatkan.”

“Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang. Jalan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, malamun, riang, dan berduyun-duyun, siapa mereka? Ke manakah mereka?

Advertisement

“Jalan seperti panggung dengan kemungkinan konfigurasi dekorasi yang amat luas. Semua kemungkinan seni dapat ditampilkan di jalanan. Seniman jalanan menghadapi tantangan seni terbesar.”

(Andrea Hirata – Edensor)

Saya sangat menyukai kutipan novel Edensor di atas. Bukan hanya karena kata-katanya yang indah, namun juga kecerdasan yang tersurat dalam mengamati hal yang kurang dipedulikan banyak orang. Melalui kutipan tersebut, kita diajak untuk menyadari bahwa jalanan tidak sesederhana kelihatannya.

Advertisement

Saya terbiasa dengan durasi lama di jalan sejak SMP. Rumah yang saya tinggali beralamat di Jl. Poros Malino No. 110, sekitar 3 Km dari Kampus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin di Gowa. MTsN Model Makassar adalah tempat yang saya tuju hampir setiap hari selama 3 tahun untuk menuntut ilmu, begitu pula dengan MAN 2 Model makassar. Hal tersebut membuat saya ‘akrab’ dengan jalanan.

Di jalan menuju sekolah, saya selalu melihat pemandangan yang mengharukan. Ketika seorang anak memeluk erat ayahnya yang sedang mengendarai motor, terpancar rasa kasih sayang di antara mereka. Hawa dingin pagi itu harus mengaku kalah oleh kehangatan mereka. Saya juga melihat seorang kakek yang mengendarai sepeda dan membawa tumpukan dedaunan hijau yang merupakan sahabat karib ibu, tampaknya beliau adalah seorang penjual sayur. Masa tua tidak membuat kakek tersebut berhenti berusaha untuk menemukan karunia Tuhan di Bumi ini. Saya benar-benar salut.

Hal yang menyedihkan tentu dapat ditemukan di jalan. Saya menggarisbawahi frase “jalan tempat lari dari kenyataan” pada kutipan di atas. Kita terlalu sering mendengar kasus premanisme, perampokan, pembegalan, pemerkosaan, pesta miras, dan lain-lain yang sering dilakukan di jalan maupun pinggir jalan yang sepi. Para pelaku kejahatan tersebut benar-benar lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa mereka memiliki akal untuk berpikir dan hati untuk merasa. Kenyataan bahwa mereka adalah manusia yang tidak seharusnya merampas hak manusia lainnya.

Kata “anak jalanan” sudah sangat familiar di telinga kita, apalagi setelah dijadikan judul sebuah sinetron. Saat ini, saya tidak akan membahas kisah romantis Boy dan Reva maupun adu balap antar geng motor pada sinetron tersebut. Saya hanya ingin menuliskan keprihatinan terhadap anak-anak yang tinggal dan hidup di jalan. Ketika melihat mereka mengamen maupun mengemis di jalan, ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak saya.

“Bagaimana mereka menjalani hari dengan lapar di perut?”

“Bagaimana perasaan mereka sekarang?”

“Bagaimana masa depan mereka nanti?”

Kisah “from zero to hero” yang selalu saya dengar adalah anak petani, anak tukang becak, dan anak tukang bakso menjadi pengusaha sukses maupun wisudawan atau wisudawati terbaik. Mereka tinggal di rumah, bukan di jalanan. Saya jarang mendengar anak jalanan meraih pencapaian sukses tersebut. Saya kembali menggarisbawahi bahwa jalanan menjebak dan menyesatkan. Mungkin inilah yang terjadi pada kebanyakan anak jalanan di negeri kita. mereka sejak belia sudah akrab dengan kegiatan menghirup lem, merokok, mencicipi narkoba, dan meminum minuman keras. Saya sangat mengharapkan anak jalanan memiliki akses untuk mengarahkan dan meloloskan mereka dari kehidupan keras tersebut. Saya sangat mengharapkan mereka dapat menjadi bagian dari generasi emas Indonesia.

Sebagai pengguna jalan, saya benar-benar menikmati keindahannya. Lampu-lampu berwarna-warni yang menerangi gelapnya malam seperti atraksi kembang api. Deru angkutan kota yang mengklakson motor yang melaju santai nan lambat di tengah jalan bagaikan alunan musik cadas. Hembusan angin yang melaju sesuai kecepatan kendaraan merelaksasi jiwa kita.

Sungguh, jalanan benar-benar menarik !

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya