10 Desember 2017, tepat pada tanggal itu, 20 tahun sudah aku hidup. Dan tepat pada tanggal itu juga, mungkin sudah 20 kali mamak buatkan nasi kuning untuk merayakan ulang tahunku. Entah, tanggal 10 Desember seperti sudah tertulis di reminder dalam benak mamak bahwa pada hari di tanggal itu mamak bakal buatkan nasi kuning beserta seluruh lauk pendampingnya.

Pun begitu, mamak tak pernah ucapkan selamat ulang tahun secara langsung kepadaku. Mungkin karena aku sudah bakalan tahu bahwa hal itu merupakan perayaan buat hari ultahku jadi aku tak usah diberi ucapan untuk tahu, mungkin karena mamakku bakal meneteskan air matanya jika terkenang aku yang dulu anak kecil dan bantatnya sekarang sudah beranjak besar, atau mungkin karena hal yang lain. Tapi terlepas dari semua itu, nasi kuning dengan kering tempe dan suwiran telur goreng dadar, sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan rasa dan perhatian mamak padaku, juga lebih dari cukup buatku untuk selalu terkenang akan momen-momen kebersamaan dengannya.

Advertisement

Umur yang sudah berkepala dua, menjadi penanda awal dari terbukanya gerbang kehidupan yang harus benar-benar mandiri. Semakin bertambahnya umur juga menjadikan waktu luang semakin berkurang, waktu untuk bisa sekedar berkumpul dan bercengkerama dengan mamak pun demikian. Apalagi setelah masuk ke bangku perkuliahan, jangankan untuk bercengkerama, untuk sekedar pulang ke rumah saja dalam satu bulan dapat dihitung.

Itu karena aku bukan mahasiswa penglaju. Tapi di lain itu, juga karena kesibukanku di kampus yang mungkin bisa dibilang benar-benar padat. Memang di kampus aku hanya aktif di HMJ, tapi, entah kenapa keikutsertaanku di setiap prokernya membuat waktu luangku benar-benar terkuras.

Sampai pada suatu pagi di kontrakan tanggal 13 Desember 2017, sekitar pukul setengah enam, bibiku menelponku. Seperti biasa dia menyakan kabar, menanyakan kuliah, dan sebagainya. Kemudian sampai pada suatu pembicaraan di mana bibiku bilang kalau aku bakal punya adik lagi. "Hah? Berarti? Mamak?.." "Iya le.. mamakmu isi lagi." Kata bibiku menegaskan.

Advertisement

Seketika itu aku langsung terdiam. Banyak hal mulai berputar dalam pikiranku. Antara bahagia dengan cemas lebih banyak cemasnya. Cemas sekali. Ya cemas karena mamak sudah berusia sekitar 43 tahun, masih punya tanggungan adik kecilku yang berumur dua tahun, sementara di rumah bapak tidak mesti bisa pulang karena pekerjaannya di Semarang, sehingga tidak ada yang membantu pekerjaan mamak di rumah. Dari semua hal itu, tentu saja kehamilan mamak sangat beresiko tinggi.

Aku pun sempat berpikir untuk meninggalkan beberapa proker yang tersisa di akhir periode agar bisa lebih sering pulang ke rumah untuk membantu mamak di rumah. Tapi tetap saja tidak bisa karena keterikatanku dengan komitmen dan amanah yang telah diberikan. Desember sejak terakhir mamak buatkan nasi kuning buatku hampir berakhir dan tanggal 31 Desember aku baru bisa pulang ke rumah.

Kebetulan waktu itu kami sekeluarga ada di rumah. Memang pada saat itu merupakan momen perayaan tahun baru, tapi bagi keluarga kami sama saja seperti malam-malam yang lain. Hari sesudahnya, tepat tanggal 1 Januari 2018, sesuatu hal yang tak pernah diharapkan terjadi. Waktu itu kala sore sehabis ashar, mamakku keguguran di rumah. Bapak yang waktu itu sehabis pulang kenduri pun langsung mengambil kain putih untuk mengafani janin calon adikku. Aku bahkan sempat membopongnya untuk dibawa ke kuburan dimakamkan.

Sungguh, waktu itu dalam hati aku menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Tapi Entah kenapa mulutku hanya diam terkunci. Sungguh pula waktu itu aku sadar akan betapa egoisnya diriku yang selalu menyibukkan diri bahkan sampai hampir melupakan mamak yang ada di rumah. Namun sesal hanya tinggal sesal. Sedih pun tidak akan mengubah keadaan.

Hal selanjutnya yang membuatku semakin merasa tertampar, malam hari setelahnya, mamak yang tahu tanggal 3 aku ada jadwal UAS, beliau berpesan padaku; "Le, kamu besok ada ujian to? Belajar le. Sudah. Jangan memikirkan yang lain. Fokus saja buat ujianmu. Mamak senantiasa mendoakan". Seketika aku pun benar-benar menangis. Dalam kondisi terbawahnya bahkan mamak masih memikirkanku. Maafkan aku mak. Maafkan aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya