Amarah menyuruh merpati itu untuk terbang ke ranting pohon, merpati menurut, “jangan bergerak sebelum aku suruh bergerak,” Amarah lalu pergi ke tepian gunung. Malam telah hampir tiba, Merpati tetap berada di ranting pohon. Untuk pertama kalinya Amarah melihat malam di bumi dan iapun melihat kumpulan cahaya dari kaki gunung. Amarah lalu memaggil merpati, namun merpati tak menghampirinya, iapun berjalan ke bawah ranting pohon.

“Kenapa kau tak menghampiriku saat aku memanggil,” Amarah kesal, “Kau yang bilang bahwa aku tak boleh bergerak,” Amarah berteriak. Merpati hanya terdiam di hadapan Amarah, “Oke sekarang kau boleh bergerak, ”Ucap Amarah, lalu merpati itu terbang ke pundaknya. Amarah berjalan ke tepian gunung lalu bertanya kepada merpati cahaya apa yang ada di kaki gunung itu. Merpati menjawab bahwa cahaya itu adalah cahaya yang diciptkan oleh tumbuhan saat sang putri bernyanyi.

Advertisement

“Sang putri hanya bernyanyi saat ia menyirami tumbuhan itu dengan air,” ucap merpati di pundaknya. Amarahpun penasaran lalu bersiap-siap untuk turun ke kaki gunung menghampiri sosok sang putri itu, “Jangan!”, merpati mencegah Amarah, “Kenapa?” Tanya Amarah, “Karena semua mahkluk di bumi ini membencimu, jika kau turun kau akan mati,” Amarah memandang merpati itu, lalu ia tetap terbang ke kaki gunung.

Ia pun terbang dengan rasa penasaran yang terus menekan, saat ia terbang tak sengaja sayapnya menyenggol ranting pohon hingga iapun terjatuh tepat di hadapan sang putri, matanya terpaku kepada sosok putri bungsu dari kerajaan Nirwana, ia tak mampu melihat sang putri berambut panjang sedikit ikal itu, lalu iapun terbang dengan sayapnya yang telah rusak.

Amarah terbang dengan darah yang berceceran, ia tak bisa sampai ke puncak gunung karena sayapnya tak mampu lagi untuk membawanya ke sana. Sang putri berjalan menghampiri Amarah yang sedang kesakitan, Amarah tak mampu melihat kecantikan sang putri ia pun mencoba untuk berlari dengan terbatah-batah namun tetap saja luka di sayapnya itu membuatnya sakit, sang putri tetap menghampirinya. Putri bungsu itu memanggil semua tumbuhan untuk membawa Amarah ke gubuk kecil di ujung jalan namun tak satupun tumbuhan yang peduli akan omongan sang putri.

Advertisement

“Ada apa dengan kalian? Cepat bantu dia,” sang putri marah, lalu beberapa tumbuhan pun membawanya ke sana, “Tak perlu aku bisa berjalan sendiri,” Amarah menolak, saat beberapa langkah ia berjalan Amarah terjatuh, sang putri memaksa untuk tumbuhan tetap membantunya.

Amarah terbaring di gubuk itu, sang putri membantu mengobati sayapnya yang rusak. Tiba-tiba datang si kembar Marko dan Marki tubuhnya tampak gendut dan mempunyai sayap layaknya kupu-kupu, mereka membawa semangkok madu yang disuruh sang putri, lalu sang putri mengoleskan madu itu ke sayap Amarah, Amarah berteriak kesakitan.

“Saya tak punya apa-apa jika kamu berharap saya memberikan imbalan saya akan pergi sekarang,” Sang putri berhenti mengoleskan madu pada sayapnya lalu berjalan keluar, “lukamu sudah hampir sembuh besok kamu sudah bisa terbang kembali,” Amarah bangkit dari tidurnya lalu berjalan menghampiri sang putri dengan tubuhnya yang masih sakit, saat Amarah keluar dari pintu sang putri sudah menghilang.

Amarah tak tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang bahkan saat ia terbang keesokan harinya ke atas gunung ia terus memikirkan sang putri. Amarah sampai di puncak gunung, terlihat burung merpati sedang berdiri menantinya di atas ranting pohon, “Kenapa wajahmu tampak bersedih Amarah?

Tak pernah sebelumnya aku melihat kau sesedih ini,” Amarah diam tak memperdulikan merpati itu. Amarah duduk sambil memegang peralatan lukisannya, untuk pertama kalinya ia menggambar tak ada sedikitpun warna marah dalam kertas putih itu, yang ada dipikirannya hanya ada sosok wajah sang putri, lukisan itu dipenuhi dengan warna yang cerah, warna biru yang menggambarkan wajah sang putri.

Berhari-hari ia duduk di tepi gunug sambil menunggu cahaya indah dari kaki gunung, ia tak mampu menahan rindu kepada sosok sang putrid, akhirnya iapun terbang lagi ke kaki gunung. Di perjalanan ia dihalangi oleh beberapa tumbuhan yang tak terima kedatangannya, ia terpaksa harus membunuh tumbuhan itu dengan tangannya sendiri hingga membuat wajahnya sedikit terkena goresan dari duri tumbuhan itu. Amarah menyembunyikan kematian tumbuhan itu di dalam tanah yang membuatnya harus menggali tanah itu sangat dalam, namun salah satu dari tumbuhan itu berhasil kabur.

Amarah pun tiba di halaman kerajaan Nirwana dengan sayapnya yang telah dipegangnya, tubuhnya dipenuhi darah akibat dirinya yang telah memotong sayapnya itu dengan gesekan duri tumbuhan yang ia bunuh tadi, iapun jatuh pingsan. Kerajaan Nirwana dihebohkan oleh kedatangan Amarah dan membuat warga desa berkerumunan di halaman kerajaan.

Sang putri yang sedang asik menyisir rambutnya dari atas istana terpaksa turun saat melihat kerumunan di halaman. Ia terkejut saat melihat Amarah terbaring di halamannya lalu ia menyuruh warga untuk membawanya ke dalam istana. Di dalam istana Amarah masih terbaring, sang putri tetap mengoleskan madu pada bekas lukanya lalu ia menggantung sayap Amarah di dinding kamar itu.

Tak beberapa lama Amarah terbangun lalu ia tersenyum saat melihat sang putri ada di hadapannya, “Kenapa kau tega memotong sayapmu ini!”, sang putri marah, “Karena saya ingin bertemu denganmu,” sang putripun terdiam lalu cepat bergegas keluar kamar “Kamu pergi keluar dan terus menghilang, saya belum tahu siapa nama kamu?” Sang putri berjalan kembali, “Kau telah melakukan hal bodoh yang pernah ada,” ucap sang putri, “Saya tak peduli seberapa bodoh saya melakukan ini, yang saya pikirkan akhir-akhir ini hanyalah kamu, kamu boleh benci saya tapi izinkan saya untuk mengtahui namamu,” Amarah menatap sang putri dengan penuh tanya, “Alana,” ucap sang putri lalu pergi, Amarah tersenyum.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya