Hilang KisahÂ
Tinggalkan suamimu, Ros! Lalu kembali kepadaku dan jadilah semesta yang berbahagia. Aku tahu, kamu tak bahagia bersama suamimu, yang katanya pria kaya jauh lebih menjanjikan kebahagiaan dibandingkan pria miskin yang hanya memiliki cinta. Seperti aku.Â
Andai kamu tahu, Laila, untuk urusan mencintai, aku hanya memiliki hati tanpa tenaga. Hingga efeknya seperti ini. Sudah sepuluh tahun perpisahan denganmu dan kamu menikahi pria lain, aku jadi pria yang tidak nikah-nikah. Kata orang,  kejiwaanku sedikit terganggu. Mereka yang terganggu! Aku baik-baik saja.
Aku ingin menjadi pahlawan untukmu mulai hari ini. Kamu mau, ya? Menerimaku?Â
Segunduk tumpukan surat yang terlahap api itu masih menyala di depan ibunya Mif. Segurat kekecewaan dan tangisan kian menyelimuti keadaan anaknya yang tidak lagi bisa dikatakan baik-baik saja.Â
Sambil menangis dan marah atas apa yang terjadi, memiliki anak satu-satunya bukannya membahagiakan, justru menambah pilu. Sesekali ibu mif melirik ke arah gubuk yang dibangun khusus untuk memasung Mif. Terlihat jelas di mata Mif, bayangan Ros ada di sana. Lisannya basah memanggil nama Ros, dan di tangannya tergenggam selembaran kertas bertuliskan syair-syair cinta untuk Ros.  Menetes kembali air mata ibu Mif di depan api yang enggan mematikan nyalanya, melihat kondisi Mif yang kian hari semakin tak tertolong dan tak bisa diharapkan kesembuhannya.Â
Aww, panas! pekik ibu Mif. Tangannya tak sengaja menyentuh api.
Begitu pula dengan cinta Mif, mungkin kekuatannya seperti api yang sedang menemani malam ibu Mif detik ini. Wanita itu terjaga dalam ketidaksadaran, bagaimana membuat Mif menemukan takjil untuk menu berbuka puasa kangennya. Malam itu juga, ibu Mif pergi ke sebuah tempat yang tak sempat Mif kunjungi lagi setelah sepuluh tahun yang lalu.Â
Demi anakku! Aku rela kehilangan harga diri di depan juragan tak berhati itu.
Ros! Keluarlah! Kamu di mana? teriak ibu Mif di belakang rumah gedong yang haram dikunjungi orang-orang miskin.Â
Ros tak memberi jawaban, seolah memang tidak mendengar panggilan ibu Mif yang benar-benar membutuhkannya saat ini.  Hampir putus asa dan kembali pulang, tetapi ibu Mif tidak ingin langkah kakinya sia-sia. Dia memberanikan diri membuka pintu gerbang yang tak biasanya tak ada malaikat bayaran penjaga rumah. Di dalam rumah, ramai orang-orang mengelilingi sekujur tubuh berselimut.Â
Siapa yang sekarat? tanya ibu Mif bermonolog.Â
Gontai, dia semakin mendekat untuk mengetahui siapa orang berselimut itu. Semakin mendekat, kian jelas, dan perempuan itu adalah. Pas bunga yang terpampang indah tak sengaja dijatuhkan ibu Mif. Sontak membuat orang-orang di rumah, kaget dan heran siapa yang melakukan kerusakan di rumah orang mewah?Â
Takut ketahuan, ibu Mif langsung berlari dengan mengantongi informasi tentang sesuatu yang membuat dunianya akan hancur.  Tangisnya pecah, dia tak bisa membendung kesedihan yang menampar jiwanya. Bukan sedih karena melihat Ros dalam keadaan hilang harapan hidup, tetapi sedih ketika ingat hal buruk yang akan terjadi kepada Mif, jika dia mengetahui mawar di hatinya layu, bahkan hampir mati. Namun, ibu Mif tidak ingin Mif menahan puasa kangen kepada Ros untuk selamanya, dia ingin malam ini juga mengajak Mif melihat Ros.Â
Mif, kamu sudah tidur? tanya ibu Mif dari luar.Â
Mif? tanyanya lagi, kemudian dia masuk ke gubuk.Â
Di sana, Mif sudah terbaring dan menutup matanya. Pulas sekali, seperti tidur tanpa membawa beban. Tak biasanya Mif tidur dengan gambaran wajah secerah itu. Bibirnya melengkung, kedua telapak tangannya saling bertumpu di atas perut, tak lupa kertas pun tertata rapi di sana. Namun, ada yang berbeda dari tidur Mif, ibunya kian mendekat dan mengamati setiap inci tubuh pria muda yang tubuhnya kurus kering itu.Â
Mif, katanya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Mif.Â
Terbujur kaku. Masih hangat, tanpa napas, dan tentu sesuatu mengatakan bahwa tidak baik-baik saja, memang biasanya pun tidak pernah membaik, tetapi kali ini Mif merasakan sakit yang lebih sakit–mati.Â
Miftaaaah! Banguuun! jerit ibu Mif sambil mengusir pikiran buruk yang sedang tak salah memberikan informasi.Â
Dengar! Kamu ingin bertemu Ros, kan? Ayo kita ketemu sekarang, Mif! Kamu tadi belum tidur, kan? Kenapa sekarang terlelap seperti ini? Mif, maafkan ibu yang tak pernah memberi obat untuk hatimu yang berdarah, Mif. Banguuun!
Telinga Mif sudah tak mendengar.Â
Cinta adalah kekuatan terbesar yang melumpuhkan.Â
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”