S: L, bagian mana di dunia ini yang jadi negeri impian buat kamu?

L: Hmm… U.K.

Advertisement

S: Ah, itu sih cuma gara-gara novel Sherlock Holmes yang lagi dibaca, kan.

L: Biarin. Setiap kasusnya seru, tahu! Wajar kan jadi tertarik pergi ke sana.

Sherlock Holmes, salah satu tokoh detektif fiktif ciptaan Sir Arthur Conan Doyle yang sudah memiliki nama besar dalam dunia literatur, kalau memikirkannya pasti langsung terbayang juga tempat asalnya, Great Britain. Dari watak, logat, kebiasaan, hingga gaya keseharian Holmes, tokoh ini memang “british” sekali.

Advertisement

S: Jadi, jauh-jauh pengen ke Britain demi Sherlock Holmes, nih?

L: Yah, jujur sebagai penggemar novelnya aku pengen banget lihat museumnya.

S: Oh, ada ya?

Rupanya S termasuk dari sekian orang awam yang belum tahu kalau di pusat kota London, Inggris, ada museum yang khusus dibangun berdasarkan kediaman Sherlock Holmes. Bagi yang familier dengan novelnya, sedikitnya pasti tahu kalau sang detektif bersama asisten sekaligus sahabatnya, Dr. John Watson, menempati sebuah rumah penginapan bergaya Victoria yang beralamat di 221b Baker Street.

Jadi demi penghormatan dan dedikasi terhadap karakter detektif ikonik ini, di‘sulap’-lah salah satu bangunan townhouse di Baker Street, London, menjadi museum yang terbuka untuk umum, dengan eksterior hingga interior yang dibuat semirip mungkin sebagaimana penggambaran kediaman Holmes dan Watson dalam karya aslinya.

Keunikan arsitektur budaya Inggris kuno yang melekat di setiap sudutnya akan membuat para pengunjung yang mampir seolah-olah memasuki sekelumit dimensi otentik dari dunia ciptaan Sir Arthur Conan Doyle, dari mulai lorong sempit menuju tangga yang ada di lantai dasar, sampai loteng paling atas yang dijadikan semacam gudang penyimpanan oleh Holmes dan Watson. Tiap ruangan merepresentasikan bagaimana kehidupan dua sekawan yang berbeda personalitas ini.

Kamar Holmes berantakan khas jenius yang ‘keranjingan’ kasus misteri; penuh perkakas dan alat-alat forensik, tumpukan buku, kliping koran, juga catatan semrawut yang bertebaran di sana-sini. Kamar Watson, meski tak sepenuhnya bisa di bilang rapi, tapi setidaknya barang-barangnya lebih terorganisir dan ditata cukup apik ketimbang barang-barang di kamar Holmes.

Dari mulai penataan ruangan, macam-macam perabot, sampai tiap aksesoris kecil yang ada di seantero flat seakan benar-benar disesuaikan menurut selera dari kedua tokoh fiksional yang digambarkan memiliki chemistry sangat kuat itu. Jadi jelas keberadaan museum ini benar-benar akan menarik minat siapa saja yang menyukai serial detektif, terlebih lagi para pecinta Sherlock Holmes.

S: Ah, aku sih daripada misteri lebih suka cerita-cerita romans atau sastra klasik. Karya-karya Shakespeare, misalnya…

L: Hoo, Shakespeare ya… kalau begitu mesti coba datang ke Anne Hathaway’s Cottage. Cocok tuh buat cewek sentimental model kamu.

S: Kok tiba-tiba malah ngomongin bintang film.

L: Yang aku maksud itu istrinya Shakespeare, namanya Anne Hathaway. Lha, gimana sih ini yang ngakunya penggemar Shakespeare…

S: Ih, emangnya salah kalau nggak tahu? Toh nggak ada aturan mesti hafal silsilah keluarganya. Tapi… ngomong-ngomong itu tempatnya kayak gimana? Bagus?

Haha, sebenarnya tak bisa disalahkan juga kalau S tak begitu tahu soal Anne Hathaway, istri dari sastrawan legendaris sepanjang masa, William Shakespeare. Memang kalau dibandingkan figur suaminya Anne sendiri kurang dikenal secara luas, sekalipun tetap tak lepas dari sorotan.

Tempat kediaman Anne semasa kecil, sebuah rumah pertanian abad ke-15 yang luas dan memiliki areal perkebunan sangat indah, telah ditinggali turun termurun oleh tiga belas generasi keluarga, dan sejak dibeli oleh Shakespeare Birthplace Trust tempat ini pun ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya Inggris dan menjadi museum yang rutin dikunjungi wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Berlokasi di desa Shottery, Warwickshire, Inggris, rumah beserta lahan pertanian peninggalan keluarga Hathaway kini dikenal sebagai “Anne’s Cottage”, yang jaraknya bahkan tak sampai satu setengah mil dari rumah kelahiran Shakespeare sendiri.

Memiliki keasrian pemandangan seperti dalam negeri dongeng, praktis membuat destinasi wisata ini terkenal di seantero Britain. Rumah pertaniannya difungsikan sebagai museum, arsitekturnya tak berbeda dari kebanyakan pondok-pondok pedesaan Inggris pada zamannya ketika itu, yang sedikit banyak bergaya Tudor. Tiap ruangannya juga masih kental oleh unsur klasik abad pertengahan, terutama bagian ruang tamu dan dapur.

Selain rumah pertanian, daya tarik dari Anne’s Cottage juga terletak pada lahan dan kebun di sekitarnya; dengan luas mencapai sembilan hektar, para pengunjung bakal disuguhi landskap dengan pemandangan spektakuler yang memanjakan mata, dari mulai taman bunga, kebun buah, hingga petak-petak lahan sayur-mayur. Apalagi karena erat diasosiasikan dengan Shakespeare, nuansa keromantisannya juga menggantung di udara, diwakili oleh arboretum serta labirin lavendernya yang cantik, dengan patung-patung tersebar di sana-sini, didasarkan dari tokoh-tokoh terkenal dalam karya Shakespeare, seperti Romeo and Juliet, Hamlet, dan Midsummer Night Dream.

Sehingga untuk keseluruhan, rasanya tak berlebihan dikatakan kalau Anne’s Cottage ini adalah “little bit of heaven on earth”, yang tentu saja akan menjadi “surga” bagi siapa pun yang mendatanginya, dan menempati tempat khusus dalam hati segenap pecinta Shakespeare, tentunya.

S: Keren… Uukh, gimana ya caranya biar kita bisa pergi ke U.K…

L: Ikutan kontes nulis yang hadiahnya jalan-jalan ke Britain.

S: Gyahahahaha, itu sih kalau menang! Mending yang pasti-pasti aja deh… aku mau bikin time capsule… tulis di kertas, ‘semoga Estella dan Elias bisa menapakkan kaki di Britain’, taruh kertasnya dalam botol, terus lempar deh botolnya ke laut…!

L: …

S: Kenapa, L?

L: … Kamu tahu nggak sih prosedur dan cara kerjanya time capsule?

S: Tahu, tahu… tapi males ah kalau mesti gali-gali tanah, lebih praktis langsung ceburin aja ke laut. Toh yang penting harapan kita didengarkan Tuhan, betul? Hohoho…

L: Ngg…no comment.

Berhubung kami sama-sama geek, jadi tak berhak mengomentari ‘keanehan’ masing-masing, yang jelas pada intinya, baik aku maupun S sama-sama memiliki kecintaan terhadap karya-karya penulis besar dunia, dan sebagian besar tokoh-tokoh ini memang banyak yang berasal dari Britain.

Selain Sir Arthur Conan Doyle, aku juga mengagumi James Barrie dan Charles Dickens. Sebagai pecinta kisah-kisah roman, tak cuma karya-karya Shakespeare, S bahkan sangat menyukai dongeng-dongeng klasik Hans Christian Andersen dan novel-novel karangan Jane Austen. Ini seolah menegaskan betapa Britain begitu kaya oleh macam-macam penulis dan sastrawan bertalenta. Dan itulah yang menjadikannya begitu spesial bagi kami para “ literature geeks”.#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya