Berbicara tentang cinta, saya jadi teringat beberapa perempuan yang pernah mampir dalam hidup saya. Ada tawa dan air mata yang kerapkali hadir ketika saya mengenang mereka. Namun, ada satu perempuan yang membuat saya mengerti tentang pedihnya cinta yang #BertepukSebelahTangan. Dia adalah perempuan berwajah sendu yang masih belum bisa melupakan masa lalunya.

Saya lupa, alasan saya jatuh cinta dengan dia. Apalagi, pertemuan kami yang pada waktu itu terlalu singkat. Lagipula, kadang mencintai itu tak butuh alasan. Jatuh cinta adalah sebuah proses yang tidak bisa kita rencanakan. Meskipun demikian, saya tidak akan pernah lupa senyuman manis dan pipi tembemnya.

Advertisement

Satu hal yang spesial dari dia adalah dia sangat pintar menari. Tariannya sangat anggun dan menawan, apalagi ketika ia mengayunkan selendangnya dengan penuh perasaan. Namun, saya masih belum bisa yakin sepenuhnya dengan dia saat itu. Ada sekat yang masih susah saya terjang. Meskipun rasa itu ada, saya tak pernah berani mengungkapkan perasaan saya kepada dia. Sederhana saja, saya takut ditolak.

Di satu sisi, saya tahu bahwa dia ialah perempuan patah hati yang belum bangkit dari masa lalunya. Ia masih sering mengenang mantan kekasihnya dan itu menambah ciut nyali saya. Terlintas di benak saya bahwa saya mampu menyembuhkan luka hatinya dan menawarkan harapan-harapan baru untuknya.

Nyatanya saya salah, saya bukanlah orang yang dia pilih. Dia lebih memilih seseorang yang mungkin jauh lebih baik dari saya. Padahal bagi saya, lelaki yang dia pilih itu bahkan lebih bajingan dari saya. Akan tetapi, saya tak bisa berbuat apa-apa karena saya telah kalah.

Advertisement

Malam itu, ketika ada sebuah acara di sekolah, saya melihat mereka berdua bersama di depan kedua mata saya. Awalnya, saya tak menghiraukan keberadaan mereka. Lama-kelamaan, hati saya ikut panas dan emosi pun meluap. Hati saya sesak tak tertahankan melihat dia bersama lelaki itu. Saya masih ingat, kembang api di malam itu sangat indah dan meriah. Pas banget bertepatan dengan hati saya yang remuk redam dan terbakar oleh cemburu tak berkesudahan.

Saya memutuskan untuk segera pergi dan meninggalkan mereka berdua. Di tengah jalan, kami bertemu. Namun, saya melihat dia menangis. Saya tak akan pernah lupa tangisnya malam itu. Entahlah, dia mungkin merasa bersalah karena telah menghancurkan perasaan saya. Saya menatapnya sejenak lalu segera berlalu dengan air mata yang sedikit mengalir di pipi saya. Sempurna sudah, saya waktu itu patah hati.

Di perjalanan pulang, pikiran saya kacau dan saya hilang arah. Jujur, saat itu adalah patah hati terhebat yang pernah  saya alami dalam hidup. Sesampai di rumah, saya depresi berat. Saya nyalakan berbatang-batang rokok untuk menenangkan hati saya. Tak lupa juga, saya memutar lagu-lagu galau.  Bukannya terobati, malah hati saya kian sesak dan tangis saya pun tumpah.

Waktu itu, sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Namun, itu bukan pilihan yang bijak. Saya masih ingat Tuhan. Lagipula, bukankah itu terdengar konyol jika kita mengakhiri hidup hanya gara-gara patah hati karena cinta bertepuk sebelah tangan?  Saya pun mencoba menenangkan diri dan mendamaikan hati yang terluka. Setelah semua tangis reda dan keadaan sudah mulai membaik, saya meraih ponsel saya dan mengirimkan pesan untuk dia

Selamat karena sudah jadian dengan dia. Pesan itu tak dibalas olehnya. Saya pun tak mengharap balasannya.

Semenjak itu, hari-hari yang saya jalani kurang berwarna. Masih ada luka yang membekas dan butuh waktu untuk menyembuhkannya. Hingga pada akhirnya, saya pun mampu berdamai dengan dia dan segala kisah pahit yang tak mungkin saya lupakan.

Saya sadar bahwa cinta itu terkadang tak harus memiliki. Cinta tak selamanya membuat kita bahagia, malah membuat kita sengsara. Saya jadi ingat kata jenderal Tian Feng bahwa cinta itu penderitaannya tiada akhir. Dan salah satu penderitaan cinta ialah cinta yang #BertepukSebelahTangan.

Kini semua tinggal kenangan. Saya hanya bisa menertawakan diri saya sendiri ketika mengenang masa-masa itu.  Memang, patah hati sesekali perlu kita tertawakan. Kita kadang terlalu bodoh dan gila dalam mencintai seseorang, hingga kita lupa bahwa dia belum tentu jodoh kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya