Di usia yang tak lagi remaja, soal cinta bukan hal yang terlalu baru untuk ku. Menurut ku cinta juga adalah hal yang berbau misteri dan keberuntungan, kita mungkin punya banyak teori siapa dan bagaimana sosok yang akan kita pilih. Tapi bila hati sudah tergetar maka semua teori dan logika akan terabaikan.

Advertisement

Pernahkah kalian mencintai seseorang yang tak seharusnya kalian cintai ?

Seseorang yang membuat hati dan logika mu tak sejalan?

Seseorang yang seolah-olah adalah jawaban Doa malam mu, tapi semua begitu abu-abu ?

Advertisement

Seseorang yang membuat sisi baik dan buruk mu sering berdebat didalam hati & otak mu ?

Aku juga memiliki teori pria seperti apa yang ku harapkan dan ku doakan akan menjadi pendamping ku. Sosok yang tiap malam ku bayangkan dan mimpikan dalam tidur malam ku, walau sosok itu masih abu-abu. Hingga pada suatu ketika aku dipertemukan dengan sosok yang sebenarnya tak menarik pada pandangan pertama dan kedua . Tapi seiring waktu bisa membuat jantung ku berdegub lebih kencang setiap kali ku menunggunya. Sosok yang hampir menjawab semua doa malam ku.

Tapi hanya ada satu teori ku yang tak ada padanya,

Dan itu begitu fatal adanya

Kami berbeda

Kami punya cara yang berbeda dalam ke TUHAN-an

Logika ku beberapa kali berkata mungkin dia memang bukan jawaban doa ku, tapi semakin ku menyakinkan diri ku. Sikap manis nya semakin menggoda ku. Tanpa kami sadari kami terjebak dalam rasa yang tak seharusnya hingga bertahun-tahun.

Pernah ku mencari sosok yang mungkin bisa menggantikan nya, berkali-kali ku coba dan berkali-kali pula gagal, selalu ada bayang-bayang nya yang membuat ku merasa tak ada yang bisa begitu mencintaiku seperti dia. Dan pada akhirnya aku tetap kembali padanya LAGI, selalu begitu hingga waktu terus berlalu seolah terbuang percuma.

Pernikahan yang ada dia harapkan adalah pernikahan dimana dia menjadi imam nya dan aku menjadi makmumnya. Berbanding terbalik dengan ku, yang memimpikan pernikahan dengan pemberkatan sakral di Gereja. Pernah ku tawarkan untuk menikah di luar negeri untuk pernikahan beda agama. Tapi dia menolak nya. Aku sedikit kecewa, walaupun sebenarnya aku juga tak setuju dengan ide ku sendiri.

Mentokā€¦

Lagi lagi kami mentok, setiap kami membahas hal itu. Haruskah terus begini tanpa ujung yang pasti. Atau harus berpisah, tapi hati tersakiti karna kami sudah melalui banyak fase.

Hingga akhirnya kami sepakat untuk mengakhiri status hubungan kami, merelakan satu sama lain. Walau rela itu adalah kata-kata palsu. Tapi itulah keputusan terbaik untuk kami.

Beberapa bulan berlalu, aku mulai terbiasa tanpa adanya dia. Namun, kami kembali lagi. Menjadi dekat lagi, menjadi akrab lagi. Seolah tak pernah ada salah apapun di antara kami. Seolah tak pernah ada yang tersakiti di antara kami. Harus ku akui, aku tak bisa berlama-lama tanpa nya. Dia membuat ku begitu candu. Terlepas beberapa lama dari nya tak menjamin aku melupakannya. Dan ku rasa dia pun begitu.

Kadang ku bertanya-tanya pada Tuhan dan diri ku sendiri,

2 orang yang berpisah dan kembali lagi,

Berulang kali mengakhiri tapi kembali memulai lagi

Berulang kali berjanji melupakan, tapi tetap di memori

2 orang itu kalau bukan jodoh, lalu apa namanya?

Apakah ini hanya lah sebuah kebodohan ?

Hal yang kutakutkan,

Bila nanti kami sudah memiliki kehidupan masing-masing, akankah kami bisa merelakan satu sama lain? Bisakah kami menikmati alur hidup kami masing-masing? Entahlah, semua masih akan menjadi misteri Tuhan yg empunya semesta.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya