Kisah cinta tidak selalu berakhir menyenangkan. Beberapa orang bahkan harus bergulat dengan kegalauan tanpa henti saat kisah yang telah diperjuangan tidak bisa menjadi utuh dan berarti.

Dari banyaknya ketakuatan, "tak direstui" menjelma sebagai penikam hati paling menyakitkan. Bagaimana tidak, dua orang yang saling mencintai harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa saling membahagiaakan dalam sisa hidup, karena restu dari orang tua yang tak kunjung diterima.

Advertisement

Dibutuhkan ketegaran di atas rata-rata untuk menerima kondisi ini. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki hati yang terlanjur patah, bahkan kamu harus mendekap dirimu sendiri agar tetap bisa menghadapinya meski sendirian, namun bukan berarti kamu tak mampu melaluinya.

Untuk kamu, yang hingga kini masih bertarung dengan rasa sakitmu, masih juga belum berhasil menata hati kembali, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri jika akhirnya dia memilih pergi.

Kepergiannya bukan salahmu, meski hatimu selalu bertanya, mengapa aku? Apa salahku? Mengapa dulu harus bertemu? Mengapa dia menyerah? dan pertanyaan lainnya dalam kepala yang menyesakkan hati. Percayalah, ada yang lebih berarti dari mengetahui alasan kamu bukan orang yang dirustui, yaitu membuat hatimu tangguh.

Advertisement

Latih perasaanmu bagaimana menghadapi badai, latih logikamu bagaimana menafsirkan kabar buruk dan latih akal sehatmu agar tetap bekerja tanpa terlalu jauh melibatkan perasaan. Memang tidak mudah, segala hal yang bersangkutan dengan dia, seketika akan meremukkan perasaanmu, lalu entah siapa yang harus bertanggungjawab atas semua pilu, karena saat ini, kamu hanya sendiri.

Lukamu perlahan akan membawamu pada ruang tak terbatas, rasa sakit ini akan membentukmu menjadi diri yang tak hanya siap untuk jatuh (lagi), tapi juga mampu untuk pulih, dan saat itulah kamu akan memahami satu hal, bahwa tidak ada siapapun yang bertanggungjawab atas perasaanmu, selain dirimu sendiri.

Kamu perlu benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi, tidak perlu berusaha menyangkal rasa sakit, atau  merasa diri paling menyedihkan, jujurlah pada diri sendiri,  resapi semua yang kamu rasakan, bukan untuk membuat lukanya terus berdarah, tapi untuk bersedih pada waktu yang tepat. Jangan terlalu keras pada diri sendiri dengan menjejali pikiran dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak mengubah perasaanmu, jangan berkata kamu baik-baik saja, jika malam masih kamu lalui dengan terisak lirih.


Jika ingin menangis, menangislah. Jika ingin bersedih, bersedihlah…


Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, namun jangan pernah berhenti memulihkan perasaan, kamu perlu membaik begitupun hatimu. Tidak akan ada yang membaik, sebelum kamu meyakini hatimu sudah terlebih dulu membaik -dari apapun yang menghancurkan. Mengingat apa yang menyakiti, adalah mengukir rasa sakit itu sendiri.

Tak datangnya restu untukmu bukan berarti kau buruk, Tuhan selalu memiliki cara untuk menunjukan mana yang lebih tepat kau dapatkan, rekatkan dirimu pada Tuhan agar kau tah kanya mampu melalui badai tapi juga mampu berjalan dalam sapuannya.

Akan ada perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya kamu dan hatimu ada pada level "menerima" dengan lapang dada. Bicaralah pada diri sendiri bahwa kau siap untuk memulai kisah lagi meski tak ada dia lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya