Tinggi, tegap, rambut cepak, berkacamata, langkahnya tegas dan pasti. Kriteria yang terakhir yang paling penting. Yups, langkah kakinya.


Entah sejak kapan aku menetapkan kriteria pria idamanku melalui langkah kakinya. Bukan fisik semata. Hal yang aneh, apalagi di usiaku yang sekarang, mungkin wanita lain sudah mulai memikirkan bahkan yang lebih dari sekedar penampilan, tapi juga bicara tentang 'kemapanan'.

31 tahun, putri semata wayang, dan masih melajang. Kata lelaki di sekitarku, aku terlalu pemilih. Kata yang wanita, aku tidak tahu di untung setiap ada lelaki 'bibit unggul' mendekatiku. Pasti aku akan menjauhi mereka setelah kencan ketiga atau malah setelah kencan pertama yang terkadang belum sempat di mulai. Itulah aku menurut mereka.

Bukan sakit hati yang membuatku menjadi takut menjalin sebuah hubungan. Bukan pula pemilih yang menjadi batasanku untuk memacari siapapun yang mempunyai hasrat padaku. Apalagi alasan perbedaan orientasi seksual. Aku normal. Terbukti aku masih lebih berhasrat melihat Adam Levine bertelanjang dada yang digilai sebagian besar wanita daripada harus melirik wanita manapun di belahan dunia ini.


Tapi pagi itu berbeda. Dan pagi-pagi berikutnya. Aku suka sebuah rutinitas. Membuatku merasa hidup lebih pasti, jauh dari keraguan. Ah, akhirnya ada juga penjelasan kenapa aku suka melihat pria dengan langkah kaki tegas dan pasti.


Advertisement

Orang yang berjalan dengan tegas dan pasti menurutku punya tujuan yang jelas. Dia tahu kemana harus melangkah, tempat yang akan ditujunya pasti sudah ditentukan sebelumnya. Biasanya mereka juga sudah merancang segala hal yang dibutuhkan untuk menuju suatu tempat seperti lamanya waktu yang ditempuh, bagaimana cara menempuhnya, dan mungkin juga memperkirakan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi sepanjang perjalanannya serta penanggulangannya.

Pagi ke-17. Dia tidak ada. Anehnya aku sudah membiarkan diriku terjebak dalam rutinitas menanti kehadirannya setiap pagi. Dan tanpa melihatnya pagi ini, seolah sistematika harianku menjadi kacau. Setelah bagian 'melihat dirinya' hilang dari jadwal harianku pagi ini, aku tidak tahu harus melanjutkan jadwal yang mana dalam kegiatanku hari ini. Sial.

Aku teringat saat dia akan memulai paginya dengan memasuki minimarket yang biasanya dikunjungi anak-anak remaja masa kini biar dianggap 'gaul'. Dia akan memilih makanan dingin berkemasan jenis apapun yang ada di lemari pendingin, biasanya sih dia memilih nasi goreng. Aku memperhatikannya. Kemudian dia mengambil gelas kertas untuk diisi kopi paginya. Kopi hitam tanpa campuran apapun. Pahit. Setelah itu dengan langkah pasti dia akan ke meja kasir untuk membayar belanjaannya dan menunggu beberapa menit untuk menghangatkan makanannya. Kemudian dia keluar, dan walau berhati-hati dengan santapan paginya di dalam plastik, dia kembali melangkah tegas kembali ke kantornya yang terletak tak jauh dari minimarket tersebut. Dan berakhirlah ritual pagiku yang singkat, selain coklat panasku.

Pagi ke-18. Dia tidak ada. Lagi. Dan aku rindu. Ah, apalah pikiranku itu. Aku sepertinya harus melepaskan ketergantunganku pada penantian. Ya, menanti lelaki itu kembali datang ke minimarket setiap paginya. Berhenti menunggu lelaki itu memilih sarapan paginya. Berhenti menyaksikan ritual pagiku. Aneh, aku malah menikmatinya.

Pagi ke-30. Aku hampir berhenti berhitung. Masih sama dengan puluhan pagi lainnya, dia lagi-lagi tidak ada. Mulai hari ini aku sudah seharusnya menghitung hal yang lebih penting daripada ritual pagi konyol itu. Ada yang bilang kalau manusia butuh 21-28 hari untuk membentuk suatu kebiasaan. Dan aku sudah terperangkap dalam kebiasaan menantikan lelaki itu. Parahnya lagi, aku sudah jatuh cinta.

Kalau kedua orangtuaku ataupun para sahabatku mengetahui kebiasaan menyedihkanku ini, pastilah aku akan ditertawakan. Lupa pada umur sendiri untuk merasakan jatuh cinta pada sesuatu yang tidak pasti. Tapi kan, perasaan siapa yang bisa mengatur sih?

Pagi ke-31. Aku memutuskan untuk membeli nasi goreng yang biasa dibeli lelaki itu. Jangan tanyakan rasanya. Jelas masih lebih enak rasa nasi goreng buatan bapak-bapak yang mendorong gerobak setiap sore di depan kosanku. Harganya juga lebih murah lagi, daripada nasi goreng di minimarket ini. Tapi, tingkat kewarasanku yang semakin merendahlah yang membuatku ingin menyantap nasi goreng ini. Rindu pada lelaki yang sudah tak terlihat lama. Dia yang bahkan belum kukenal namanya.


"Tumben, makan nasi goreng. Bukannya kamu suka minum coklat panas saja ya?"


Aku menganga, pasti tampangku memalukan sekali, menatap si empunya suara bariton yang baru saja menyapaku. Suara yang membuatku penasaran satu bulan terakhir sejak melihat langkah tegapnya dan menjadi rindu padanya. Mata yang terbingkai kaca yang membuatku langsung merasa bodoh, karena menganggapnya si pintar. Dia yang kurindukan.


"Namaku Demas. Maaf, kemarin-kemarin aku ke luar negeri." Dia tersenyum sembari mengulurkan telapak tangannya yang besar dan kokoh.