Seperti yang kita tahu, kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mulai menurun. Hal ini membuat beberapa kegiatan yang semula dibatasi mulai diaktifkan secara normal kembali. Tentunya dimulai secara perlahan dan tetap dengan menjalankan protokol kesehatan yang ada, seperti pusat perbelanjaan yang sudah mulai dibuka dengan syarat menunjukkan sertifikat vaksinasi, bioskop, bahkan konser musik. Salah satu yang mulai diaktifkan secara normal kembali adalah pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka atau yang biasa disingkat dengan PTM.Â
Beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan sudah mulai Pembelajaran Tatap Muka ini sejak bulan Agustus lalu. Namun, belum semua sekolah sudah menerapkan hal tersebut. Termasuk para mahasiswa di perguruan tinggi. Memang sudah ada beberapa perguruan tinggi yang mulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka secara hybrid. Namun, hal tersebut masih dikaji keberjalanannya. Apakah dari Pembelajaran Tatap Muka tersebut akan menimbulkan klaster baru atau tidak. Karena seperti yang diketahui, mahasiswa pada perguruan tinggi berasal dari berbagai daerah. Berbeda dengan sekolah dasar atau menengah yang biasanya berasal dari satu domisili yang sama atau paling tidak bertempat tinggal tidak jauh dari sekolah tersebut.Â
Pembelajaran Tatap Muka tersebut juga tidak diikuti oleh seluruh mahasiswa tetapi hanya diikuti oleh mahasiswa yang berdomisili atau telah menetap di sekitar wilayah kampus. Apabila sistem hybrid dari Pembelajaran Tatap Muka tersebut berhasil, dibarengi dengan menurunnya kasus positif Covid-19 di Indonesia, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya akan diadakan Pembelajaran Tatap Muka secara menyeluruh kepada mahasiswa. Hal tersebut memunculkan berbagai reaksi yang beragam dari para mahasiswa itu sendiri.
Ada yang merasa senang, gembira, sedih, kecewa, atau biasa saja. Bagi mereka yang senang dan gembira, merasa bahwa ketika pembelajaran offline mereka dapat bertemu dengan teman yang selama ini hanya dapat bertemu secara virtual dan alasan klasik lainnya seperti mendapatkan kembali uang saku yang biasanya didapatkan sebelum pandemi.Â
Namun, tidak sedikit pula yang merasa sedih atau kecewa ketika mendengar berita akan segera diadakannya Pembelajaran Tatap Muka. Hal tersebut bukannya tanpa alasan. Pasalnya beberapa mahasiswa merasa sudah nyaman dengan pembelajaran daring ini. Terdapat beberapa hal yang membuat pembelajaran secara daring terasa lebih nyaman daripada Pembelajaran Tatap Muka.
Pertama, Pembelajaran Jarak Jauh terasa lebih santai. Hal ini karena pada saat pembelajaran jarak jauh mahasiswa melakukannya di rumah masing-masing melalui portal Zoom atau Google Meeting, sehingga terasa santai dan nyaman ketika melakukan pembelajaran di rumah sendiri.
Kedua, lebih mudah mengakses pembelajaran melalui gadget. Pada saat pembelajaran secara langsung, media pembelajaran biasanya dilakukan berbasis kertas dan pena, kemudian dosen menjelaskan melalui papan tulis atau power point. Sedangkan ketika Pembelajaran Jarak Jauh berlangsung secara daring, kita dapat menggunakan teknologi canggih dan tidak perlu sulit untuk menulis di kertas dengan pena. Terkadang banyak pula hal yang dapat kita eksplor melalui kecanggihan teknologi yang belum kita ketahui sebelumnya. Semua itu karena adanya pembelajaran secara daring.
Ketiga, pada pembelajaran secara daring yang biasanya menggunakan pertemuan video secara virtual dengan Zoom, Google Meeting, Microsoft Teams, dan lain sebagainya, mahasiswa dapat dengan mudah merekam pembelajaran yangs sedang berlangsung. Sehingga mahasiswa dapat memutar ulang rekaman pembelajaran apabila masih ada hal yang belum dimengerti.
Keempat, dengan pembelajaran jarak jauh ini para mahasiswa merasa tidak harus memikirkan setelan baju atau outfit yang harus digunakan untuk pergi kuliah. Pada Pembelajaran Tatap Muka mahasiswa biasanya pusing memikirkan setelan apa yang harus digunakan untuk perkuliahan agar tidak di cap menggunakan baju itu-itu saja. Sedangkan ketika pembelajaran secara daring, mahasiswa biasanya hanya mengenakan atasan yang rapi dengan bawahan seadanya di depan kamera, bahkan ada pula mahasiswa yang mematikan kamera saat perkuliahan berlangsung.Â
Kelima, dapat multitasking dan melakukan kegiatan lain di sela-sela perkuliahan. Ketika Pembelajaran Tatap Muka berlangsung, butuh waktu untuk berangkat menuju kampus dan kembali ke rumah. Belum lagi kalau waktu kuliah yang berdekatan tetapi masih ada jeda antara waktu kuliah selanjutnya. Biasanya membuat banyak mahasiswa bingung antara tetap tinggal di kampus atau pulang ke rumah terlebih dahulu. Apalagi bagi yang bertempat tinggal lumayan jauh dari kampus. Namun, karena pembelajaran secara daring membuat mahasiswa dapat memanfaatkan waktu yang terbuang itu untuk hal lain. Seperti mengerjakan tugas lain, belajar, membantu orang tua , membereskan rumah, menjadi penulis, atau sekedar rebahan untuk mengistirahatkan tubuh. Terkadang ada pula mahasiswa yang melakukannya di tengah-tengah jam perkuliahan. Kalau hal yang satu ini, bukan hal yang baik untuk dicontoh pastinya.
Beberapa hal tersebut membuat mahasiswa merasa sudah nyaman untuk melakukan pembelajaran secara daring. Padahal normalnya kegiatan perkuliahan seharusnya dapat dilakukan tatap muka secara langsung. Karena pada dasarnya kegiatan belajar mengajar akan semakin baik dilakukan apabila terjadi interaksi secara langsung antara mahasiswa dan dosen. Apalagi bagi para mahasiswa yang membutuhkan praktikum pada perkuliahannya. Hal tersebut akan sulit apabila dilakukan secara daring. Harapannya semoga pandemi ini lekas berakhir dan semua orang dapat beraktivitas secara normal seperti sedia kala.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”