Pernah gak sih merasa sebal harus menghafalkan kata-kata baku? Bingung mau jadi dokter atau guru? Menghabiskan 4-7 tahun kuliah di jurusan yang sama sekali tidak menggugah selera? Atau nabung mati-matian untuk bayar uang semester, saat teman-temanmu bisa hedon sesuka hati?

Adek-adekku yang manis, kamu nikmati aja proses maha kampret itu. 

“Adek-adek.” Penyebutan ini nampaknya terlalu unyu jika keluar dari mulut wanita kantoran dewasa seperti aku. Tapi, ternyata, dari pengalaman dan usia yang aku jalani saat ini, memang pantas aku memanggil para pejuang ijazah dengan istilah begitu. 

 

Nah, selaras dengan judul besar yang sepuluh detik lalu kau baca, aku di sini ngebet untuk mengungkapkan nasehat yang aku dapat setelah satu tahun menjadi pekerja, yang semoga saja membuat adek-adek sadar, bahwa semua ngomel-ngomelmu ini hanyalah soal pemahaman. 

 

RECEH 1: NIKMATI MASA SEKOLAHMU

Kamu umur berapa? tiga belas tahun? tujuh belas tahun? Baiklah, kamu masih bersekolah. Masih memakai atasan putih disambung biru atau abu-abu. Masih minta duit Mama atau nangis ketika dimarahin senior. Kamu masih muda. Kegalauanmu mungkin berkutat antara sikap sahabatmu yang tiba-tiba berubah, PR yang menumpuk bagai upil, cinta-cintaan yang bikin kamu harus mematutkan diri di depan kaca, yang frekuensinya lebih banyak dibandingkan salat atau malam minggu ke gereja, atau lebih horornya, kamu mungkin kuliah di jurusan yang naudzubillah memuakkan dan merasa dikutuk karena tak lulus-lulus!

 

Nah, saranku sebagai sosok kakak yang lebih tua darimu, nikmati saja!

Nikmati semua hal-hal yang menyebalkan itu! Nikmati bagaikan kamu yang pilek dan harus makan obat. Telan! 

Dulu, aku juga pernah ada di posisimu. Mengabaikan setiap kata-kata guru untuk memisahkan artikel di dan mana. Menuliskan praktek karena biasanya dengernya juga gitu, dibandingkan mencari kata yang baku: praktik, di KBBI. 

Siapa sangka, hari ini aku malah berjodoh untuk bekerja di media berita yang mempertemukanku dengan kaidah berbahasa yang benar. Yang setiap aku mau menulis kata disusun kalimat hingga menjadi paragraf, aku harus melihat KBBI atau mencari akar serapannya sebelum menulis. Bisa saja sih aku abaikan, seperti aku yang tidak mendengarkan ajaran bu guru bahasa Indonesia atau miss-miss di kelas higher learning yang begitu setiap berpaku pada grammar. 

 

Dulu aku mengacuhkan, tapi sekarang malah kerja di lingkungan yang beginian, dan yang lucu, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta saat memahami bahwa drive through telah diserap bahasa kita lantas lahirlah Lantatur (Layanan Tanpa Turun), atau daring yang harusnya dipakai untuk menggantikan online, serta sekedar menulis yang harusnya sekadar menulis. Aku menjadi tahu karena dipaksa buat tahu. Gak mungkin dong media yang kerjaannya ngasih berita ke rakyat Indonesia, bingung memilih mau pakai atlet atau atlit?

 

Nulis di negara dengan tingkat ke(julid-an)kritisan seperti Indonesia, bisa dipecat sehari kerja aku! 

 

Awalnya sulit, kaku, dan aneh. Tapi, sungguh, saat kalian di lingkungan yang sudah normal dengan hal-hal begitu, kalian akan sadar kalau kalian bukan lagi anak sekolah atau kuliah, kalian tidak sedang ngerjain tugas yang kalau salah bisa dimaafkan, kalian lagi kerja. Yang kalau kalian kerja, kalian diminta menukar ilmu dan waktu dengan uang. Sehingga, adalah benar kalian harus bersikap benar. Sama sepertiku, yang rutin bertanya kalau tak tahu, mengecek KBBI tiap ada satu kata yang ku tak paham, baca koran hanya demi mencari diksi yang lebih indah, and always make some time to read. Serius, membaca adalah dasar. 

Aku pernah gagal dalam bekerja. Bosku macam manusia otoriter yang hidupnya cuma kerja, pulang tidur, kerja lagi! Sungguh, saat aku menulis ini, aku tidak sedang bercanda. Bosku ini gemar sekali marah-marah, menghujatku saat aku ketinggalan berita atau tak tahu masalah negara paling new. “Makanya baca!” adalah hujatan andalannya saat aku ketinggalan berita tatkala aku bekerja di media. Mungkin maksudnya, “Ya gimana kamu mau ngasih infromasi ke masyarakat, wong kamu aja gak apdet berita, gak ada manfaatnya, dong, kerja di media!”

 

Awalnya aku kebul! Kesal betul! Tapi mungkin sudah menjadi jamak manusia yang baru bisa berubah kalau hatinya diremukkan. Baru bisa sadar kalau telah disentil Tuhan. Ya, akhirnya, walaupun mantan bos otoriter ini sudah tidak lagi aku temui, semua kata-kata kasar dan hujatannya tetap saja tertinggal di kepala. Jadi kenangan yang menyakitkan namun kontrukstif. Apalagi untuk manusia super malas seperti aku, butuh dikasar baru bisa sadar. Hadeh.

 

Ditarik ke belakang, terbukti sudah Tuhan berkata, Iqra bismirabbika, kita ini disuruh membaca. 

 

Dek, mungkin, saat ini, kamu tidak merasa apa yang aku katakan ini penting, tapi percayalah, akan tiba suatu masa di mana kau harus mencari tahu apa yang kamu kerjakan, hingga satu-satunya jalan keluar dari hal itu hanya satu dan satu-satunya: baca! 

 

Tapi ya, masa itu kan belum datang, jadi, kalau kau ingin manja-manjaan, ya tak apa. Mau nongkrong clubbing tiap malam, pun aku tak melarang, tapi kalau bisa, cobalah 20 menit baca koran, buat tahu tentang luar, buat sekadar mengingatkan. Tapi, kamu kan masih muda, mau YOLO itu gak haram, tapi tetep lebih baik ada belajar-belajarnya gitu, biar gak kaya aku, shock! Hahaha

 

RECEH 2: GAGAL, COBA LAGI. KALAU GAGAL MULU, BERHENTI. 

Nah, maaf sebelumnya, nasihat ini tidaklah terlalu motivasional dan berapi-api. Banyak quotes di luar sana yang menyarankan kamu buat selalu bangkit ketika gagal. Namun ternyata aku punya pendapat yang agak berlainan. Bagiku, kutipan “gagal, coba lagi” adalah tentang sudut pandang. Sudut pandang adalah hal yang membuat kamu terus berjuang walau dalam keadaan paling menderita sekalipun. 

 

Contohnya, aku mau jadi guru, aku sudah memiliki semua kualifikasi untuk jadi guru, dan saat aku jadi guru, ternyata aku gak bahagia. 

Nah, bahagia ini adalah pengukuran yang sangat tidak bisa diukur. Banyak guru yang bisa bahagia walau gajinya rendah, setiap Senin hingga Sabtu menghadapi murid-murid yang nakal tapi tetap selow, kualitas SDM murid-muridnya tertinggal tapi gak pernah menyerah buat mencari metode alternatif.

 

Nah, jika kau tetap bahagia walau menghadapi berbagai hal yang membuat orang pada umumnya menyerah, berarti kamu mungkin memiliki sudut pandang yang cukup kuat, untuk membuat kamu kuat. 

 

Bisa saja kau kuat karena kau bangga dengan apa yang kamu lakukan walau gajinya memilukan, merasa ngajar-mu mujarab saat tahu mantan muridmu menjabat perdana menteri, begitu terharu tatkala pengambilan rapor ada yang bilang “Bu guru cantik, makasih ya!” Alasan-alasan itu sungguh konyol, biasa aja, tapi bikin kamu bahagia. Bahagia, sekali lagi, adalah hal yang tidak bisa dilihat mata tapi cukup kuat untuk membuatmu kuat. Dan dek, percayalah, kalau kau sudah ketemu bahagia, kau sudah menemukan surga!

 

Lantas, kak, gimana kalau aku sudah mencoba mencinta pekerjaanku tapi tetap tak jua kutemui itu bahagia? 

 

Minta saranku? Gampang, menyerahlah! 

 

Menyerahlah kalau itu membuatmu sedih. Menyerahlah kalau itu membuatmu merasa tidak tenang di pagi hari. Menyerahlah kalau pekerjaanmu itu tak sebanding dengan usahamu. Menyerahlah, bukan karena kau tak mampu, menyerahlah karena kau sadar, semua ini sia-sia, kau memang tak cinta! Cinta itu harus tenang dan menyenangkan, apapun keadaannya.

 

Tapi kak, orang akan bilang aku lemah dong! Mudah menyerah, gitu! 

 

Begini, dek. 

Menyerah itu tak sama dengan mudah menyerah. Aku yakin, jika ada orang yang bertanya seperti itu padaku, dia pasti sudah melewati tahap berusaha keras dan bertahan. Toh, nyinyiran orang hanya serupa iklan peninggi badan saat tubuhmu sudah macam kacang panjang, kau harusnya tidak menghiraukan!

 

Hidup itu seperti sidik jari. Semua orang punya, tapi jelas tak ada yang sama. 

Jadi, dibandingkan fokus pada omongan orang, alangkah indah untuk lebih sayang sama diri sendiri. Kenal diri sendiri. Sayang diri sendiri, menyerah, dan carilah yang lebih baik, yang lebih cocok, yang membuatmu lebih bahagia dan hatimu lebih tenang. 

 

Pernah gak kamu berpikir, jangan-jangan, sumpek hati yang kamu rasakan itu adalah sinyal dari Tuhan kalau kamu harus sadar dan tinggalkan? 

Kita gak bisa menerima kue buatan mama kalau kedua tangan penuh menggenggam kerikil.

 

Sungguh, sebaik-sebaik keputusan adalah milik Tuhan. Jadi berhentilah sok tahu dan menyiksa diri. Mungkin, “gagal, coba lagi” adalah quote yang begitu kuat, tapi kalau ternyata itu quote itu bukan untukmu, buat apa diperjuangkan? Buat quote kamu sendiri! 

Mimpi orang beda-beda, hidup orang beda-beda, quote orang beda-beda, haram disamakan! 

 

RECEH 3: NIKMATI, LAGI.

Saran receh ketiga dan terakhir, nikmati, saja. Nikmati masa-masa itu. Ikut semua kegiatan luar kelas, entah pramuka yang diwajibkan, basket yang katanya tempatnya anak-anak gawl ngumpul, PMR sekolah biar kamu punya alasan piket padahal pengen tidur, atau ikut rohis biar kamu sadar bahwa kamu banyak berbuat dosa telah ngehamburin duit mama papa, dengan membuang-buang waktu, atau apapun, apapun asal kau bisa bertahan lulus selamat dari sekolah atau kuliah. 

 

Setelah itu, jikalau sudah lulus, coba kejar semua mimpi-mimpi yang kamu miliki, jalani, kalau ternyata susah dan “gagal-coba lagi” juga tidak membuatmu bahagia, coba mundur dulu lalu mencoba yang lain, siapa tahu sedihmu itu bukan karena kamu gak berharga, kamu hanya salah tempat.

 

Seperti pacar, yang diusahakan tapi tidak menghargai, putus. 

Yang LDR dan berbelas tahun sayang-sayangan, putus. 

Yang dikejar-kejar tapi gak sadar, entah karena kurang kode, gak peka, atau emang dia yang enggak sayang, pun putus juga harapanmu untuk jadi pacarnya. 

Mau tahu kenapa? KARENA MUNGKIN SAJA DIA BUKAN JODOHMU!

 

Jadi ya, nikmati saja. Nikmati semua hal yang terjadi dalam hidup kamu. Yang masih SMP, SMA, kuliah, nikmati. Yang masih kerja, muak kerja, lagi nyari kerja, nikmati. 

Semua ini hanya tentang waktu, dan Tuhan. Jadi ya, nikmati.

 

Sama nih seperti aku, kakak yang harusnya bisa dewasa, kerja di jam kerja, tapi malah nulis di mojok dan ngasih nasihat receh ini padamu. Aku nikmati!



 

Salam

Dari orang yang lahir lebih dulu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya