Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi yang telah kulewati sebulan ini. Di kampung halaman, ku mulai lagi perjalanan hidup. Semenjak ku putuskan untuk mengakhiri kerjaku di Jakarta. Aku mencoba untuk survive kembali. Kalau jatuh, ya bangun lagi. Begitu seterusnya.

Ini berarti pula, aku telah sebulan tak berjumpa denganmu. Masih ku ingat, ku mencium tangan kananmu sebelum kau terburu-buru berlari menuju bus antar kota yang akan mengantarmu cuti akhir tahunmu di Bumi Mina Tani.

Advertisement


"Apa kabarmu sayang? Aku amatlah rindu.."


Ketika aku masih di Jakarta, seminggu kau cuti, aku mulai merasakan kerinduan yang begitu menggigil. Menusuk di setiap malam-malam datang. Aku tak pernah mau, panggilan sayangku berganti. Aku tak pernah mau, menuntaskan harapan-harapanku dan melipatnya bersama kesepianku di sini. Tentang bagaimana kita akan membangun perahu kita menjadi kapal pesiar, tentang bayangan pertengkaran kecil kita menginginkan warna baju untuk sang buah hati, dan bagaimana esok kau berkerja dengan kemeja yang akan ku kancingkan, dan tentang bagaimana kelak aku mengurus anak-anak kita nanti.


Tapi kini, nggak ada makan dan berbincang sepulang kerja. Nggak ada bercanda tawa menggelitik perut berdua, sebab kita sudah hidup terpisahkan oleh 2 tali pancang. Nyata hidup nggak lagi sama. Benakku berputar-putar, apa yang Tuhan rencanakan di balik siksa. Inikah yang dinamakan bersabar?


Advertisement

Berpisah denganmu membuatku menjadi seperti pohon yang tercabut dari akarnya. Aku limbung sekian lama. Di kala gelap tiba, ku coba membenamkan wajahku di antara bantal bercorak bunga mawar. Kepalaku merintih merindukan ruang di antara bahu dan lenganmu, di ruang bersandar tanpa jemu. Tak hanya satu atau dua malam aku terbangun di tengah malam dengan debaran jantung yang begitu cepat. Setiap merindukanmu aku bermandikan keringat, setelahnya ada rasa nyeri di dada. Mimpi terlihat begitu dekat dan nyata. Tapi kini.. kau tak lagi ada.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya