Dear Ara..

Tulisan ini kutulis ditengah kalutku menunggumu. Jalan yang telah kita tempuh berdua bersama, hingga kita dipertemukan dengan sebuah persimpangan jalan. Kau memillih untuk melepaskan genggaman tangan kita berdua. Kau meninggalkanku di persimpangan jalan ini.

Aku? Aku, memilih setia berdiri di jalan ini. Hingga ku tau kini kau tengah mencari obatmu selain diriku. Namun, karena bagiku kaulah penyebab sakitku, kau pulalah yang juga obat atas rasa sakitku.

Kau boleh memaksaku mencari penggantimu, kau boleh menghempaskanku ataupun membabat habis harapanku. Namun, aku memilih takkan memupuskan harapankku ini.

Kini aku hanya menjalani apa yang ada di depan mataku. Mencoba melanjutkan perjalanan dari persimpangan ini, dan kuharap Allah mempertemukan kembali kita di jalan yang sama.

Advertisement

Dear Ara..

Lagi, lagi masih di situasi yang sama. Aku hanya ingin membiasakan diri menjalani hari tanpamu. Namun aku tak kuasa. Aku semakin tak kuasa menahan rasa sakitku kehilanganmu. Ada rasa yang tak kumengerti ketika ku bersamamu, namun kau meluangkan waktu menghubungi yang lain. Kau sematkan rasa khawatirmu pada jiwa yang lain. Aku? Tentu sakit melihat kenyataan itu.

Apakah kau masih sama Ara? Apakah kau masih berdiri di tempat yang sama pula? Aku? Aku pecandumu.

Kau tak perlu datang dengan embel-embel apapun. Kau hanya perlu datang dengan pelukan hangatmu. Aku? Aku ingin selalu menyambutmu, sungguh, datanglah sayang, datanglah. Datanglah sehingga aku tak perlu mencari, tak perlu, semua yang ada di dirimu bagiku sudah lebih dari cukup untuk menyenangkanku.

Takkan lelah kuminta pada Illahi, bahwa kaulah yang kumau. Dan semoga semesta amini..