September 2018

Saat ketika aku mendapat kabar dari Mama kalau Mama mendapati ada benjolan besar di payudara sebelah kiri. Kala itu, aku hanya menjawab "Check up, Ma ke dokter, buruan." Sebulan sesudah check up, dokter meminta Mama untuk melakukan tindakan biopsi dan ternyata diperoleh hasil laboratorium bahwa Mama menderita Ca Mamae.

Advertisement

Sebelumnya aku betul-betul awam dengan istilah "Ca", aku beranikan diri menyusuri Google dan mengetikkan kata "Ca". Bagai tersambar petir, aku membaca di website kedokteran bahwa "Ca" merupakan sel kanker. Air mataku mengalir deras siang itu dan aku tak pernah menyangka selama ini bahwa Mama akan menderita penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Setiap hari aku membaca apakah itu sel kanker dan apa penyebab serta resikonya. Tak akan hilang dari benakku ketika Mama belum melakukan operasi pengangkatan payudara bahwa kondisi Mama terlihat sangat sehat walau dari dalam tubuhnya, sel kanker telah menggerogoti Mama dan tak terlihat sedikit pun rasa sakit yang ditunjukkan Mama. Aku tak tahu apakah Mama menyimpan semua rasa sakit itu atau tidak? Karena selama ini, aku tahu, Mama adalah perempuan yang sangat kuat dan Mama selalu bekerja keras untuk keluarga terutama untuk anak-anaknya.

Ketika aku kecil, Mama rela berjualan mie goreng demi untuk membeli makanan untuk aku dan kakak-kakakku. Setelah operasi pengangkatan payudara sebelah kiri, kondisi Mama makin menurun, Mama menjadi sangat kurus dan tidak mau makan. Pengobatan kemoterapi tidak kami lakukan mengingat usia Mama yang telah memasuki 69 tahun dan melihat juga kondisi Mama yang semakin lemas. Kondisi Mama terus menurun setiap minggunya. Hingga akhirnya, Mama tidak bisa berdiri dan hanya terbaring lemas di tempat tidur dengan pandangan mata yang kosong. Aku terus menangis melihat kondisi Mama seperti itu.

Advertisement

Tak kusangka, aku akan kehilangan Mama hanya dalam hitungan bulan sesudah operasi. Mama hanya bertahan kurang lebih 3 (tiga) bulan sesudah operasi besar itu. Setiap malam kubawa nama Mama dalam setiap doaku, aku berharap dua dalam doaku, pertama, aku meminta kesembuhan kepada Tuhan, dan kedua, jika memang Tuhan lebih menyayangi Mama dan meminta Mama untuk kembali ke pangkuan-Nya, aku berharap Mama pergi dalam tidurnya.

Dan, ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku yang kedua. Tepat sehari sebelum Imlek tanggal 4 Februari 2019, pkl. 07.00 WIB, Mama pergi berpulang ke pangkuan Tuhan di rumah sakit setelah sebelumnya Mama bertahan selama satu minggu di ruang ICU. Air mataku telah habis kala itu, aku betul-betul tidak menangis karena aku sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat apa saat Mama meninggalkan dunia dan dokter sudah menyatakan detak jantung Mama sudah tidak ada.

Sekarang, sudah 100 hari aku lewati tanpa Mama, tidak ada lagi Whatsapp chat dari Mama yang selalu menanyakan "Ce, kamu lagi apa?", "Sudah makan atau belum?", aku mulai menangis dan menangis bahkan dalam doaku namun aku masih bersyukur diberi waktu merawat Mama ketika Mama mulai sakit bahkan tidak ada rasa jijik sekalipun saat membersihkan kotoran Mama dan memandikan Mama.


Setiap hari aku bertanya dalam doaku kepada Tuhan, apakah Mama sudah bahagia di sana? Apakah aku sudah menjadi anak yang berbakti atau belum? Apakah Mama melihatku dari Surga? Banyak pertanyaan apa dan mengapa Tuhan mengambil separuh jiwaku yaitu Mama?


Berat rasanya kehilangan Mama dan segala perhatian Mama. Ketika aku sakit biasanya Mama yang membuatkan aku makanan dan memberi obat. Kini, aku benar-benar sadar bahwa Mama sudah tidak ada lagi, aku hanya bisa mengirimkan Mama doa berharap Mama betul-betul sudah bahagia di Surga. Sekarang, tangisku pun sudah tidak berarti lagi dan perjuangan Mama melawan kanker pun sudah berakhir.

Aku sangat merindukanmu, Ma. Tugasku di dunia belum tuntas, doakan aku dari surga ya, Ma. Aku berjanji akan selalu menjaga saudara-saudaraku dan juga menjaga Papa. Aku akan selalu mencintaimu, Mama dan tak kan pernah mengecewakanmu lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya