"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana rasanya punya mantan waktu sekolah dulu lalu menjadi senior di kantor? Seseorang yang yang melakukan PDKT selama lebih dari 1 tahun dan kalian campakan setelah seminggu berpacaran? Lalu pura – pura tidak mengenal ketika berpapasan dengannya sampai kalian lulus? Ini kisahku..

Advertisement

Aku tidak menyangka di hari pertamaku bekerja, aku bertemu dengan orang yang sudah lama tidak kulihat. Yupss.. dia orang yang aku ceritakan di atas. OMG mimpi apa aku semalem. Dari sekian banyak kantor di kota ini kenapa harus bertemu di sini.

Coba bayangkan bagaimana ekspresiku waktu HRD mengenalkannya padaku. Dia menjabat sebagai kepala di divisi yang akan aku tempati. Dan dari sekian banyak divisi di kantor ini kenapa dia yang menjadi atasanku?

Aku benar – benar tidak bisa membayangkan ekspresiku sendiri. Aku shock!! pake BANGET!! Sampai – sampai HRD yang berdiri di sampingku senyum – senyum sendiri. Pasti dia berpikir kalau aku terpesona melihat salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang cakep ini. Padahal bukan karena itu, walaupun sebenarnya iya sih cakep. Hehe.. Mantanku juga terlihat shock, tapi hanya seperdetik kemudian ekspresinya kembali normal, tenang dan tersenyum dengan ramah.

Advertisement

Mungkin karena dia tidak mau kehilangan wibawanya di depan HRD dan aku yang mulai detik ini menjadi bawahannya. Sebaliknya, ketika aku melihat senyum "palsu" dari mantanku itu ada satu hal yang terlintas di pikiranku. I had a bad foreboding.. Duh gusti..

"Syamsul, Muhammad Syamsul Muiz, Head Office Divisi Audit."

"Lia, pa. Mohon bantuannya."

Awalnya hari – hariku berjalan lancar, aku berkenalan dengan 6 orang staff di divisiku yang semuanya cewek dan cantik. Mereka mengajariku tentang job desc-ku. Tidak terlalu sulit karena hampir sama dengan pekerjaanku sebelumnya. Sudah beberapa hari aku tidak melihat atasanku itu, rupanya dia sedang melakukan DL (dinas luar) untuk meeting.

Dia termasuk orang kepercayaan di kantor ini, sama seperti waktu kami sekolah dulu. Karena itu aku kagum padanya dan menerimanya menjadi pacar walau hanya beberapa hari. Ternyata kagum saja tidak cukup untuk saling memahami. Sayangnya, hari – hari baikku hanya berlangsung beberapa saat, sepulang dari DL, hari burukku dimulai. Dia menilai hasil kerjaku selama dia tidak ada di tempat. Entah karena grogi atau apa, aku menjelaskan dngan terbata – bata seperti anak baru belajar bicara. Entah karena sentimen atau apa, atasanku menyindirku.

"Apa sebelumnya kamu belum pernah bekerja? Apa saja yang kamu pelajari selama beberapa hari ini? kalau ada yang tidak kamu mengerti minta ajari ke rekan yang lain"

Nada bicaranya santai dan ekspresinya tenang. Rekan -rekan yang lain pasti menganggap ini hanya nasehat biasa, tapi aku tau ini seperti menunjukan siapa dia dan siapa aku.

"Bekerja lebih baik lagi, buktikan kamu pantas disini"

Hmm sudah kuduga ini peringatan untukku, lalu aku menjawab;

'Baik pa, saya akan berusaha lebih baik lagi'

Waktu terus berlanjut, aku berusaha sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan apapun. Meski dia tidak pernah menyindirku lagi karena pekerjaanku berjalan mulus, tapi aku merasa dia menatapku dengan sinis seolah sedang mencari celah kesalahanku.

Belum lagi dia suka menegurku karena hal sepele misalnya seperti hari ini ada cowok dari divisi lain yang mampir ke ruangan dan mengajakku berkenalan. Dia dengan senang hati memanggilku ke ruangannya untuk memberi wejangan bahwa dia tidak suka jika ada salah satu pegawainya yang membuang – buang waktu. Iya kali pak masa orang ngajak kenalan saya cuekin, nanti saya dikira sombong kayak Bapak.

Tidak cukup disitu, terkadang jika aku sedang keluar ruangan, berpapasan dengan cowok yang mengajak ngobrol lalu kepergok olehnya, tentu saja aku akan di undang mendengarkan kultum di ruangannya, dengan tambahan kata 'saya tidak suka jika ada salah satu pegawai saya yang kecentilan dengan pria dari divisi lain, itu bisa merusak nama baik divisi saya' Yeee bilang aja bapak jealous. Kalau memang saya sudah melanggar peraturan kantor kenapa tidak memberi saya SP dari pada harus capek – capek memberi nasehat panjang lebar. Mubazir energi Bapak!

Tidak terasa sudah satu bulan aku bekerja disini, hari ini gaji pertamaku. Dan tradisi di divisi kami setiap awal bulan kami makan diluar bersama. Aku sangat senang karena memiliki team yang solid. Tapi tiba – tiba atasanku mengatakan;

" Tolong kamu jaga ruangan, karena nanti mau ada OB yang akan mengambil berkas yang sudah tidak terpakai. Karena kamu sudah cukup lama, pasti mengerti mana yang harus di bawa ke gudang, kalau tidak ditunggui saya khawatir akan salah bawa. Nanti makan siangnya akan saya bawakan."

Sudah cukup lama di sini katanya? kenapa tidak yang sudah sangat lama bekerja disini yang jaga ruangan. huhh.. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin kan aku menjawab seperti itu dan tidak ada juga yang mau bertukar posisi denganku. Jadi dengan gondok aku hanya menjawab; "Baik Pak." Aku tau dia sedang mengisolasiku. Whatever lahh..

Sejak kejadian kemarin, aku mulai mengatur strategi, aku bawa makan dari rumah, kali – kali ada acara makan di luar lagi, aku bisa pake alesan : sudah bawa bekal makan siang. Ayey ide bagus! Ngirit duit dan sekalian belajar masak juga. Terkadang dalam keadaan tertekan, membuat kita berpikir lebih kreatif. Out the box gituu..

Hari ini salah satu rekanku dikantor berulang tahun. Syamsul, eh salah maksudnya Bapak Syamsul berinisiatif memberikan surprize. Jujur aku akui, dia seorang yang perhatian pada orang lain, tidak terkecuali bawahannya. Dia orang yang baik, batinku.

Ketika rekanku yang berulang tahun keluar ruangan, dia mulai mengatur strategi. Dia menyuruh salah satu rekan mengambil bolu di ruangannya, bolu yang sengaja ia beli saat berangkat ke kantor. Lalu ia menyuruhku mengambil berkas – berkas di meja kerjanya. Awalnya atidak paham tapi aku menuruti saja perintahnya. Lalu ketika ia mengatakan;

" Tolong fotokopi semua berkas tersebut, jangan ada yang tercecer"

aku tau tujuannya menyuruhku membawa berkas tersebut. Menghilangkanku dari acara surprice itu. Aku segera bergegas ke ruang fotokopi karena mataku mulai berkaca – kaca. Aku kesal pada diriku sendiri karena sempat berpikir dia adalah orang yang baik, padahal tidak. Dia mengisolasiku dari teman – temanku sendiri.

Sepulang kerja temanku yang berulang tahun, mentraktirku makan, dia merasa bersalah karena aku tidak kebagian bolu ulang tahunnya. Padahal aku mengatakan tidak usah (karena aku males juga makan bolu yang dibeli oleh syamsul) tapi dia memaksa.

Di rumah makan, Rekanku bercerita kalau Pak Syamsul sudah memiliki tunangan dan akan menikah tahun depan. Dia terkenal sebagai playboy di kantor,sering dia sangat akrab dengan rekan – rekan kerja cewek tapi didepan ceweknya dia membatasi diri. Udah jadi rahasia umum gitulah. Sepertinya tunangannya juga sudah paham. Ada rumor yang beredar kalau senior menjadi seperti itu karena dia pernah sakit hati pada pacar pertamanya di SMA. Aku mencoba mengingat masa SMA, seingatku tidak ada mantannya selain aku.Hanya aku. Dia bukan tipe cowok playboy seperti yang diceritakan rekanku barusan. Dulu Syamsul dingin ke cewek – cewek disekitarnya padahal dia termasuk cowok popoler di sekolah. Apa aku yang membuatnya seperti ini?

Malamnya, aku tidak bisa tidur karena masih terngiang kata – kata dari rekanku. Aku berusaha mengingat kembali kenangan waktu sekolah dulu.Mungkin dulu aku memang terlalu jahat padanya sehingga sampai saat ini dia dendam padaku. Entahlah, yang jelas sekarang aku sangsi untuk melanjutkan pekerjaan ini. Apakah aku akan bertahan di sini? Aku juga tidak tahu, biarlah waktu yang menjawab.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya