Dalam negara demokrasi, rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dengan suaranya. Hak untuk menyuarakan pendapat pun seharusnya tidak dibatasi. Apalagi dengan adanya media sosial, opini, argumentasi atau apapun informasi yang menyangkut demokrasi semakin mudah tersebar dan diterima untuk semua golongan. Jika dilihat dalam 2 kali pesta demokrasi terakhir, yaitu yang terbaru 2019 dan 2014, peran media social sangat sentral dengan digunakanya sebagai alat kampanye yang efektif. Jika kita telisik, sebenarnya ada dua akibat yang ditimbulkan dari peran media sosial dalam demokrasi.

Pertama yaitu peran positif. Media sosial dalam proses demokrasi salah satunya menjadi alat kampanye dengan penyebaran informasi yang bisa sangat cepat dan efektif untuk mencari suara khususnya suara kaum milenial. Hal ini jelas terlihat sangat dilakukan oleh kontestan pemilu pada dua dekade terakhir pemilu. Tidak heran juga peserta demokrasi sampai membuat tim untuk menangkan kampanye yang bisa dibilang kampanye digital ini. Media sosial juga merupakan media untuk menyebarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pemilu yang diarahkan juga untuk menarik suara dari masyarakat. Mengapa kampanye melalui media sosial ini dibilang efektif karena salah satunya yaitu dengan bisa dihematnya dana kampanye jika melakukan hal seperti ini.

Advertisement

Peran kedua adalah peran negatif dari media sosial untuk demokrasi adalah masalah hoaks. Kita sama-sama tahu bahwa fenomena hoaks telah mencemari atau menebar racun dalam demokrasi yang  kita jalani saat ini. Hoaks menjadi salah satu cara untuk meruntuhkan lawan politik dalam roses demokrasi. Dalam konsep kebebasan berpendapat, hoaks bukan merupakan bagian dari demokrasi. Masyarakat perlu memiliki informasi yang lengkap, akurat, dan terbuka untuk mengambil sebuah keputusan dalam prosers demokrasi. Apa yang akan terjadi jika informasi yang ingin dijadikan pegangan ialah informasi yang tak akurat, sengaja dipelintir ataupun difabrikasi? Hoaks ini racun bagi suatu kebebasan memperoleh informasi, sementara kita sering mendengar bahwa kebebasan memperoleh informasi adalah oksigen bagi demokrasi.

Kesimpulan artikel ini adalah dalam proses demokrasi, media sosial seperti pisau, disamping bisa memberi dampak positif juga bisa memberi dampak negatif. Untuk mengatur hal tersebut ke arah positiif perlu adanya kedewasaan pelaku demokrasi akan bagaimana cara mereka berdemokrasi dengan etika dan peraturan yang sesuai. Di samping hal tersebut, mekanisme pengawasan demokrasi yang matang dari penyelenggara demokrasi juga sangat diperlukan sehingga tercipta sebuah sistem demokrasi yang selalu dalam kontrol.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya